Pegiat media sosial Eko Widodo menyoroti pernyataan dari Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri yang menjelaskan alasan dirinya menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai petugas partai.
Hal tersebut ditanggapi Eko Widodo melalui akun Twitter pribadi miliknya. Dalam cuitannya, Eko Widodo langsung menegaskan bahwa lawan terbesar Ganjar Pranowo bukanlah Anies Baswedan dan Prabowo Subianto yang menjadi saingannya di Pilpres 2024.
Loyalis Anies Baswedan itu menegaskan bahwa lawan Ganjar Pranowo yang sesungguhnya ialah partainya, yakni PDIP.
"Lawan terbesar Ganjar sesungguhnya bukanlah Prabowo atau Anies tapi partainya sendiri," ungkap Eko Widodo dikutip Suara Liberte dari akun Twitter pribadi miliknya @ekowboy2, Kamis (27/7).
Sementara itu, terkait pernyataan Megawati, dikatakan Megawati bahwa alasannya menyebut Jokowi sebagai petugas partai lantaran partainya yang mencalonkan pertama kali Presiden Jokowi untuk berlaga di Pilpres 2014.
Megawati pun heran mengapa ia justru yang dibully dan menyinggung perkataan bahwa tak boleh ada yang menyebut Jokowi petugas partai.
Adapun Megawati mengatakan hal tersebut saat memberikan sambutan dalam peresmian Kebun Raya Mangrove di Surabaya, Jawa Timur pada Rabu (26/7/2023).
"Orang itu jelas lho, kok saya yang di-bully. Tidak boleh menyebut kader petugas partai, saya bilang Pak Jokowi petugas partai hayo mau di-bully lagi, wong yang menyalonkan saya, yang lain ngikut,” kata Megawati.
Megawati pun menjelaskan lebih lanjut bahkan menyinggung adanya aturan.
"Untuk apa ada partai dong? Yaudah kita satu arah, semua sama, enggak boleh kader, enggak boleh petugas. Jadi ada aturan, pemerintah Republik Indonesia mesti begini. Lha yang namanya perundangan Republik Indonesia, baca kalian, bahwa yang namanya Presiden itu diusung oleh satu partai, atau dan beberapa partai," jelas Megawati.
Presiden ke-5 RI itu tampak tak menghiraukan ika ada yang berpendapat tidak boleh menyebutkan istilah petugas partai.
"Enggak boleh ngomong kader, enggak boleh ngomong petugas partai, saya bilang, bodo amat. Lho orang partai kita emangnya gitu, kok yang lain ikut mau nimbrung-nimbrung, intervensi, ya, enggak lah," ujarnya.
"Kalau kamu mau ikut kita, ya, ikut aja, kamu bilang ini kader. Nanti memangnya kalau bukan kader, orang juga selalu ngomong gini, katakan ke Pak Eri (Wali Kota Surabaya), apakah bisa dia jadi wali kota, kalau tidak didukung oleh partai?," pungkasnya.
Adapun Megawati diakhir penjelasannya menyinggung soal demokrasi. Bahkan ia tak tanggung-tanggung sudah bersiap jika ada yang mem-bully lagi terkait pernyataannya ini.
"Kenapa yang lain enggak bikin aja, calon presiden lain? Gitu kan fair (adil), kalau mau demokrasi, ini enggak. Nungguin saja gitu. Coba deh saya kepengen tahu, saya ngomong gini, entar koran-koran atau apa segala itu nge-bully atau enggak? Senang saya. Artinya apa? Trap (perangkap) saya masuk," tandasnya.