Pengamat politik Rocky Gerung tengah menjadi sorotan publik lantaran memberikan pernyataan bernada menghina dan merendahkan Presiden Joko Widodo.
Frasa yang diucapkan oleh Rocky Gerung adalah "bajingan yang tolol". Kata-kata itu diucapkannya dalam sebuah orasi politik dalam acara "Aliansi Aksi Sejuta Buruh Siap Lawan Omnibus Law".
Sementara kritikus politik Faizal Assegaf menyarankan terminologi "presiden" dapat digunakan untuk menamai sesuatu seperti benda atau hewan sekalipun.
"Terminologi ‘presiden’, sudah saatnya dijadikan merek toilet. Atau diganti dengan istilah babi ngepet, anjing oligarki, tikus berdasi. Itu tepat dan sesuai dengan perilaku kekuasaan yang korup dan penipu," ungkapnya, di postingan Twitternya, dikutip Liberte Suara, Kamis (3/8/2023).
Oleh karena itu, ujar Faizal, "presiden" tidak salah jika digunakan sebagai penamaan terhadap hewan. Apalagi jika dipakai untuk menamai sebuah benda-benda kebutuhan sehari-hari.
"Di kebun binatang, seekor monyet yang lucu layak diberi nama ‘presiden pinokio’. Begitu pula, kalau ada anjing kurap keluar dari gorong-gorong, rakyat boleh saja menjulukinya ‘presiden anjing’," tutur Faizal.
Ia berpendapat, langkah-langkah itu boleh saja dilakukan oleh rakyat sebagai bentuk protes terhadap pemimpinnya. Pemimpin tidak pantas menyandang nama "presiden" ketika melakukan perbuatan jahat, menindas, hingga korupsi.
"Rakyat yang marah pada rezim diktator dan korup, menuliskan nama presiden di keset depan rumah. Cara untuk menegaskan sikap protes kepada ketidakadilan. Fenomena itu terjadi di sejumlah negara," pungkasnya.
Baca Juga: Ngaku Pura-pura Kuat di Depan Kamera, Pinkan Mambo: Saya Itu Sebenarnya Punya Dua Karakter