"Kaghati", Layang-layang Unik dari Kabupaten Muna

Esti Utami

Rabu, 20 Agustus 2014 | 15:31 WIB
"Kaghati", Layang-layang Unik dari Kabupaten Muna
Layang-layang kaghati (Foto: sitirisnayah.blogspot.com)

Suara.com - Bicara soal layang-layang, ternyata bumi Nusantara memiliki layang-layang yang patut dibanggakan. Layang-layang itu berasal dari Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara dan biasa disebut "kaghati" (sebutan layang-layang dalam bahasa setempat).   Kaghati dipercaya sebagai peninggalan bersejarah yang telah berumur ribuan tahun.

Layang-layang tradisional dari Pulau Muna ini terbuat dari lembaran daun kolope (umbi hutan) yang telah dikeringkan. Daun kolope kering yang telah dipotong ujungnya itu lantas, dijahit satu per satu dengan menggunakan lidi dari bambu sebagai rangka layangan. Sedangkan talinya dijalin dari serat nanas hutan.

Kaghati kolope berulang kali menjuarai Festival Layang-Layang Internasional dan telah membuat Pulau Muna terkenal di dunia.
Kemenangan layang-layang Kaghati Kolope dalam festival layang-layang internasional di Prancis pada 1997, mengundang antropolog Jerman, Wolfgong Bick tertarik meneliti keunikan Kaghati Kolope. Penelitian ini mengantarkan Bick ke ke Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Tepatnya di Gua Sugi Patani, Desa Liang kobori sekitar 8 kilometer dari Raha, ibu kota Pulau Muna.

Dari penelitiannya, Bick memperkirakan kaghati  telah berumur 4000 tahun. Ini didasarkan lukisan tangan manusia yang menggambarkan layang-layang di dalam Gua Sugi Patani, Desa Liangkobori. Di situs prasejarah tersebut tergambar seseorang sedang bermain layang-layang di dinding batunya dengan menggunakan tinta warna merah dari oker (campuran tanah liat dengan getah pohon).

Temuan ini mematahkan klaim bahwa layang-layang tertua berasal dari Cina. Selain kaghati, warga Pulau Muna juga mengenal kamanu-manu yaitu layang-layang yang terbuat dari tiga helai daun kolope yang dirangkai dengan lidi (lio) dari bambu, dan dipasangi bulu ayam di sisi kiri dan kanannya.

Langka
Membuat daun kolope menjadi kertas layang-layang tidaklah mudah. Kini hanya segelintir orang di Pulau Muna yang bisa membuat kaghati kolope. Daun kolope hanya merekahkan daunnya sekitar bulan Mei, saat musim penghujan tiba. Namun saat itu daun masih terlalu muda. Dan baru sekitar bulan Juli daun kolope sudah cukup matang untuk dipetik sebagai bahan layangan.

Kualitas terbaik daun Kolope adalah dipetik saat daun menua lalu dipanaskan di atas bara api. Baru setelah itu daun dijemur selama dua hari. Hasilnya bahan layangan yang elastis dan kedap air.

Untuk satu layang-layang, dibutuhkan sekitar 100 lembar daun Kolope. Daun-daun itu direkatkan satu sama lain dengan menggunakan lio dari bambu. Lembaran kolope tersebut dikepik dengan kerangka kayu dan disimpan selama 5 hari. Berikutnya, lembaran itu dirajut dengan tali agar menjadi lembaran utuh kertas layang-layang. Sambil menunggu, dibuat kerangka layang-layang dari bambu (patu-patu) dan talinya dari daun nenas hutan.

Daun nenas yang dipetik juga harus cukup tua, dan harus disimpan selama dua hari sebelum diolah. Setelah kering, daun diambil seratnya dan dipilin menjadi seutas tali yang siap dipakai. Satu helai daun nenas hutan dapat menghasilkan 10 meter tali.
Saat ini, kaghati kolope masih dimainkan petani di Pulau Muna terutama setelah masa panen. Saat terbaik untuk menerbangkan kaghati adalah di bulan Juni-September, ketika bertiup angin timur yang cukup kencang sehingga mampu menerbangkan layang-layang selama 7 hari tanpa pernah diturunkan.

Dengan segala keunikan ini, tak heran jika Pemerintah Kabupaten Muna, diminta untuk mengusulkan 'Kaghati', menjadi warisan dunia kepada badan budaya dunia (Unesco).  Permintaan tersebut disampaikan Ketua Asosiasi Leggong Indonesia, Sari Majid saat menghadiri pembukaan Festival Layang-layang Internasional di Raha, Selasa (19/8/2014) malam.

"Di antara ribuan layang-layang, hanya layang-layang 'Kaghati' yang bisa bertahan sampai beberapa hari di udara setelah diterbangkan. Itulah salah satu keunikan 'Kaghati' sehingga dijadikan warisan budaya nasional," katanya.

Layang-layang 'Khagati' sudah berulang kali menjadi juara Festival Layang-layang Internasional yang diselenggarakan di beberapa negara, termasuk di Muna sendiri. (Antara/dari berbagai sumber)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Terbangkan Layang-layangmu di Muna

Terbangkan Layang-layangmu di Muna

Lifestyle | Selasa, 19 Agustus 2014 | 15:00 WIB

Pesta Bumi Bernama "Festival Nekafmese"

Pesta Bumi Bernama "Festival Nekafmese"

Lifestyle | Sabtu, 21 Juni 2014 | 14:14 WIB

Jangan Lewatkan Meriahnya Festival Danau Sentani

Jangan Lewatkan Meriahnya Festival Danau Sentani

Lifestyle | Kamis, 19 Juni 2014 | 13:22 WIB

Sepenggal Nusantara di Galeri Indonesia Kaya

Sepenggal Nusantara di Galeri Indonesia Kaya

Lifestyle | Selasa, 18 Maret 2014 | 12:45 WIB

Terkini

Buntut Ribuan Siswa Keracunan, Komnas HAM Sebut Pelaksanaan MBG Masuk Pelanggaran HAM

Buntut Ribuan Siswa Keracunan, Komnas HAM Sebut Pelaksanaan MBG Masuk Pelanggaran HAM

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 15:46 WIB

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Disahkan, Siapa yang Diuntungkan?

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Disahkan, Siapa yang Diuntungkan?

Bisnis | Kamis, 08 Oktober 2026 | 15:45 WIB

Kuasa Hukum Bedah Dakwaan Febrie Adriansyah: Dari Beda Waktu TPPU hingga Peran Kunci Ferry Boboho

Kuasa Hukum Bedah Dakwaan Febrie Adriansyah: Dari Beda Waktu TPPU hingga Peran Kunci Ferry Boboho

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 15:45 WIB

Sinopsis The Exorcist: Martyrs, Scarlett Johansson Hadapi Pembunuh Berantai

Sinopsis The Exorcist: Martyrs, Scarlett Johansson Hadapi Pembunuh Berantai

Your Say | Kamis, 08 Oktober 2026 | 15:45 WIB

Kebakaran Hebat di Kampung Melayu: Dipicu Korsleting Listrik, 17 Rumah Ludes

Kebakaran Hebat di Kampung Melayu: Dipicu Korsleting Listrik, 17 Rumah Ludes

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 15:42 WIB

Heboh Kebakaran di Gedung Kejati Riau, 5 Mobil Pemadam Dikerahkan

Heboh Kebakaran di Gedung Kejati Riau, 5 Mobil Pemadam Dikerahkan

Riau | Kamis, 08 Oktober 2026 | 15:41 WIB

Tragedi Karhutla dan Nasib Ojol: Saat Jalanan Berubah Jadi 'Kamar Gas' Beracun

Tragedi Karhutla dan Nasib Ojol: Saat Jalanan Berubah Jadi 'Kamar Gas' Beracun

Your Say | Kamis, 08 Oktober 2026 | 15:39 WIB

Mengapa Mesin Pompa Air Terus Berbunyi Cetak-Cetek Saat Kran Dibuka Sedikit?

Mengapa Mesin Pompa Air Terus Berbunyi Cetak-Cetek Saat Kran Dibuka Sedikit?

Lifestyle | Kamis, 08 Oktober 2026 | 15:38 WIB

5 Tablet Samsung dengan Stylus Pen dari yang Termurah Oktober 2026

5 Tablet Samsung dengan Stylus Pen dari yang Termurah Oktober 2026

Tekno | Kamis, 08 Oktober 2026 | 15:30 WIB

Captain Tsubasa: Rising Sun FINALS Kembali, Menuju Klimaks Madrid Olympics

Captain Tsubasa: Rising Sun FINALS Kembali, Menuju Klimaks Madrid Olympics

Your Say | Kamis, 08 Oktober 2026 | 15:30 WIB

×