Array

Ini Saatnya Menggeser Daging Merah dari Meja Makan?

Esti Utami Suara.Com
Jum'at, 27 November 2015 | 13:05 WIB
Ini Saatnya Menggeser Daging Merah dari Meja Makan?
Ilustrasi diet daging. (shutterstock)

Suara.com - Mohon maaf para penyuka daging. Acara menyantap burger Anda di Jumat malam, atau bacon untuk sarapan dan pesta barbeque di akhir pekan memang sangat mengasyikkan. Tapi semua itu menempatkan penghuni planet Bumi dalam bahaya.

Itulah peringatan dari penulis laporan "Perubahan Iklim", Laura Wellesley, Catherine Happer dan Antony Froggatt. Laporan itu menegaskan mengubah pola makan dan mengurangi konsumsi daging tak hanya bagus untuk kesehatan, tapi juga efektif mengurangi emisi gas rumah kaca yang berkontribusi pada pemanasan global.

Sayangnya, masalah konsumsi daging ini sering luput dari perhatian. Untuk itu, mereka menyerukan pada masyarakat dunia untuk mempertimbangkan  kebijakan untuk membatasi konsusmi daging dan produk tidak lestari lainnya.

"Secara global kita harus makan lebih sedikit daging. Konsumsi daging per kapita global sudah di tingkat kritis. Kita tidak bisa menghindari perubahan iklim kecuali ada perubahan tren konsumsi daging," tulis laporan itu.

Laporan menyatakan peternakan dan produksi daging dianggap sebagai pendorong deforestasi dan kerusakan habitat di seluruh dunia. Ini  menyumbang 15 persen dari emisi gas rumah kaca. Angka ini akan terus meningkat seiring dengan 'transisi' kebutuhan protein yang berlangsung di seluruh dunia yang ditandai dengan meningkatnya permintaan daging di India dan Cina serta negara menengah lainnya.

"Jika seluruh dunia mengadopsi diet yang sehat akan menghasilkan pengurangan emisi hingga  seperempat dari yang dibutuhkan pada tahun 2050," tegas laporn tersebut.

Penelitian selama 14 bulan, yang dilakukan bersama oleh Universitas Glasgow dan pihak terkait di Brasil, Cina, Inggris dan Amerika Serikat telah menemukan, saat ini orang makan dua kali jumlah daging yang disarankan di negara-negara industri. Ini menyebabkan tekanan pada sumber daya dan masalah kesehatan seperti obesitas dan kanker.

Namun demikian, banyak pemerintah enggan untuk turun tangan karena khawatir adanya serangan balik pada perekonomian.

"Mereka takut dampak dari intervensi, sementara kesadaran masyarakat yang rendah membuat mereka merasa tidak ada tekanan untuk campur tangan," kata laporan itu.

Laporan itu menulis, pentingnya intervensi untuk meningkatkan kesadaran konsumen akan bahaya yang ditimbulkan mengonsumsi daging merah serta menciptakan dorongan untuk menuju pilihan konsumsi yang lebih berkelanjutan. (news.com.au)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI