Mengenal Pulau Merah, Surganya Peselancar Dunia di Ujung Jawa

Esti Utami

Senin, 29 Agustus 2016 | 13:17 WIB
Mengenal Pulau Merah, Surganya Peselancar Dunia di Ujung Jawa
Wisata Pantai Pulau Merah. (Antara)

Suara.com - Pantai Pulau Merah yang menjadi salah satu andalan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur untuk menarik wisatawan. Oleh Bupati Banyuwangi, Azwar Anas Pulau Merah gencar dipromosikan melalui kompetisi selancar berskala internasional.

Pasalnya pulau yang eksotis itu diproyeksikan menjadi titik lokasi baru bagi para penggemar selancar, selain Pantai Plengkung (G-Land) yang sudah lama dikenal turis mancanegara.

Hamparan pasir yang luas dengan air yang jernih dan pemandangan yang eksotis, Pulau Merah itu berjarak sekitar 60 kilometer dari pusat kota Banyuwangi dan memiliki gugusan pulau yang seakan-akan membentengi bibir pantai. Ketika sore hari, pulau itu tampak memantulkan cahaya sehingga pantai berwarna kemerahan.

"Selain itu, desiran ombak di Pulau Merah menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik dalam maupun luar negeri, terutama mereka yang hobi berselancar karena ombak di pantai tersebut sangat menantang," ujar salah seorang pengelola pariwisata di sana.

Pulau yang memiliki banyak payung berjemur warna merah itu masuk ke dalam salah satu nominasi penghargaan wisata PBB dan kegiatan surfing kelas dunia juga digelar di sana. Tidak heran perlahan-lahan pulau tersebut ramai dikunjungi.

Di balik keindahan Pulau Merah menyimpan harta karun yang tak ternilai, yakni di Gunung Tumpang Pitu yang memiliki kandungan emas dan siapa pun tentu akan tergiur melihat harta karun tambang emas yang tersembunyi di Gunung Tumpang Pitu karena berdasarkan penelitian kandungan emasnya dinilai terbaik di dunia.

Sayang, beberapa hari terakhir Pulau Merah tercemar oleh banjir lumpur. Air pantai yang biasanya terlihat bening, kini menjadi keruh dan cokelat sehingga beberapa wisatawan asing dan domestik terpaksa membatalkan aktivitasnya untuk berselancar karena tidak memungkinan untuk berolahraga surfing tersebut.

Anggota Kelompok Masyarakat (Pokmas) Pulau Merah Yogi Turnando mengatakan bahwa lumpur menggenangi air laut Pulau Merah sebenarnya sudah lama, sejak 26 Juni 2016. Namun, lama-kelamaan makin keruh dan terjadi banjir lumpur hingga menerjang permukiman warga.

"Kami menduga banjir lumpur tersebut karena aktivitas penambangan emas di kawasan Tumpang Pitu yang menyebabkan hutan di kawasan setempat gundul sehingga air bercampur tanah langsung turun ke muara sungai saat hujan deras mengguyur di kawasan setempat," tuturnya.

Ia mengatakan bahwa sungai-sungai yang kecil itu tidak mampu menampung air hujan beserta lumpur dari Tumpang Pitu sehingga masuk ke muara sungai hingga menuju ke laut di Pantai Pulau Merah yang menjadi salah satu andalan wisata Banyuwangi.

"Kalau hal ini dibiarkan terus, permukiman penduduk di sekitar Pulau Merah juga terancam dan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara akan turun. Hal ini akan memengaruhi pendapatan sektor pariwisata yang sudah dikelola dengan baik oleh masyarakat di sekitar Pulau Merah," katanya.

Ia berharap pemerintah daerah menyikapi dengan serius persoalan pencemaran lumpur di kawasan wisata yang eksotik dan menjadi surga baru bagi peselancar, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Akibat banjir lumpur di Pulau Merah, penolakan masyarakat dan para aktivis lingkungan terhadap eksploitasi pertambangan di Tumpang Pitu makin kuat, bahkan sejumlah LSM membuat petisi penutupan tambang emas kepada Presiden RI Joko Widodo.

"Kami membuat petisi itu agar Presiden Jokowi menutup tambang emas di Tumpang Pitu dan mengembalikan fungsinya sebagai hutan lindung," kata Koordinator LSM BanyuwangiForum for Environmental Learning (BaFFEL) Rosdi Bachtiar Martadi di Banyuwangi.

Petisi itu dibuat oleh LSM BaFFEL, Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA), Pusat Studi Hukum HAM Fakuktas Hukum Unair, Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Korda Jawa Timur, dan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam).

"Banjir lumpur itu tidak hanya berpengaruh buruk terhadap denyut pariwisata pantai Pulau Merah, tetapi juga berdampak pada sektor pertanian, sekitar 300 hektare ladang jagung mengalami gagal panen," tuturnya.

Pada petisi itu juga dijelaskan bahwa Gunung Tumpang Pitu adalah hutan yang sekaligus masuk kategori kawasan rawan bencana karena pada tanggal 3 Juni 1994 kawasan Tumpang Pitu dan sekitarnya pernah diterjang tsunami yang mengakibatkan relatif banyak korban meninggal dunia.

"Gunung Tumpang Pitu juga memiliki nilai penting bagi masyarakat karena berfungsi sebagai benteng alami dari terjangan tsunami dan daya rusak musim angin barat sehingga keberadaan lahan eksploitasi tambang emas itu memiliki korelasi dengan aspek keselamatan warga," katanya.

Menurut dia, munculnya bencana ekologis berupa banjir lumpur di Gunung Tumpang Pitu adalah tanda dini dari bencana ekologis lainnya yang bisa muncul pada masa mendatang, bahkan banjir lumpur itu ada indikator bahwa ada kebijakan yang salah di Tumpang Pitu.

Para aktivis lingkungan itu meminta Presiden Jokowi untuk memberikan instruksi kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mengembalikan fungsi Tumpang Pitu dari hutan produksi menjadi hutan lindung dengan menutup tambang emas.

Hingga Sabtu (27/8/2016) pukul 07.45 WIB tercatat sebanyak 1.050 orang dari berbagai daerah di Indonesia yang menandatangani petisi melalui dalam jaringan (daring) sebagai bentuk dukungan penutupan tambang emas di kawasan Gunung Tumpang Pitu.

Sementara itu, Manajer External Affair PT Bumi Suksesindo Bambang Wijonarko mengatakan bahwa lumpur yang menggenangi Pulau Merah di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, bukan karena pencemaran karena pihaknya belum melakukan aktivitas pertambangan emas.

"Yang terjadi di perairan Pulau Merah bukan pencemaran karena kami belum melakukan aktivitas pertambangan. Hal itu terjadi karena faktor alamiah," katanya.

Secara alami, ketika turun hujan material ataupun lumpur yang berasal dari daerah hulu akan terbawa sampai ke hilir dan hal itulah yang terjadi di Pulau Merah yang kini tergenang banjir lumpur dan menjadi keruh.

"Berdasarkan data, curah hujan yang turun tiga minggu terakhir ini di daerah Pulau Merah rata-rata mencapai 200 milimeter dan jumlah itu melampaui kondisi normal yang mencapai kurang lebih 47 mm sehingga terjadi sedimentasi di muara Pulau Merah," tuturnya.

Ia mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan upaya untuk mengurangi lumpur di Pulau Merah tersebut dengan melakukan normalisasi sungai Katak dengan memasang "silt curtain", menyedot lumpur dan pengerukan lumpur sejak beberapa minggu ini yang merupakan komitmen perusahaan tanpa diminta.

"Kami meluruskan bahwa saat ini PT BSI belum beroperasi menambang emas. Namun, perusahaan berkomitmen untuk turut membangun kawasan wisata dan tidak hanya Pulau Merah, juga wisata Pantai Mustika yang berada di Pancer," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pihaknya selalu menaati aturan pemerintah, sepeti yang tertuang di amdal pihaknya, yakni melakukan reklamasi di atas lahan-lahan yang ada dan membangun enam buah dam yang berfungsi untuk menahan erosi dan sampah agar tidak terbawa aliran sungai hingga ke muara.

Selamatkan Pulau Merah Bencana yang menohok lokasi wisata andalan di kabupaten berjuluk "Sunrise of Java" tersebut tak urung membuat Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas meradang, bahkan bupati yang akrab disapa Anas itu langsung mengirimkan surat teguran kepada PT Bumi Suksesindo (BSI) selaku pemegang izin pertambangan emas di Bukit Tumpang Pitu.

Surat teguran tertulis itu terkait dengan belum selesainya pembangunan enam dam yang disanggupi BSI sesuai dengan dokumen amdal yang mengakibatkan lumpur mengalir ke Sungai Katak dan bermuara di Pulau Merah.

Perseroan Terbatas BSI baru menyelesaikan pembangunan tiga dam sehingga saat hujan deras yang mengguyur Banyuwangi beberapa hari lalu, lumpur dan sampah terbawa hingga ke hilir, termasuk ke Sungai Katak yang membawanya hingga ke Pantai Pulau Merah.

"Kami perintahkan PT BSI harus menyelesaikan pembangunan tiga dam dalam kurun waktu 3 bulan," katanya.

Pengelola surfing di Pulau Merah Zaenal Arifin berharap pemerintah daerah mengedepankan pengembangan objek wisata Pulau Merah berbasis kerakyatan dan tidak memprioritaskan pengelolaan tambang yang mengancam wisata Pulau Merah.

"Jangan digadaikan kekayaan alam hanya untuk kepentingan sesaat karena masyarakat butuh hidup dari sektor pariwisata. Komitmen awal PT BSI berjanji untuk 'zero' limbah. Namun, pada kenyataannya banjir lumpur mencemari perairan Pulau Merah," katanya. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Solo Date: Saat Jalan-Jalan Sendiri Berubah Jadi Bentuk Perawatan Diri

Solo Date: Saat Jalan-Jalan Sendiri Berubah Jadi Bentuk Perawatan Diri

Your Say | Kamis, 01 Oktober 2026 | 10:10 WIB

Pelajaran Memaafkan di Buku Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan

Pelajaran Memaafkan di Buku Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 07:00 WIB

Bukan Cuma Jalan-Jalan, Komunitas Ini Bikin 'Night Walk' Seru Bareng Anabul Demi Lepas Penat

Bukan Cuma Jalan-Jalan, Komunitas Ini Bikin 'Night Walk' Seru Bareng Anabul Demi Lepas Penat

Lifestyle | Minggu, 16 Agustus 2026 | 16:57 WIB

Dukung Liburan Sekolah Makin Seru, Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi

Dukung Liburan Sekolah Makin Seru, Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi

Bisnis | Jum'at, 10 Juli 2026 | 16:02 WIB

Libur Sekolah Tiba, Ini 3 Aktivitas Seru yang Bisa Dicoba Bersama Keluarga Tanpa Keluar Banyak Biaya

Libur Sekolah Tiba, Ini 3 Aktivitas Seru yang Bisa Dicoba Bersama Keluarga Tanpa Keluar Banyak Biaya

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB

Menembus Waktu di Grand Bazaar, Ikon Perdagangan Abadi Kota Istanbul

Menembus Waktu di Grand Bazaar, Ikon Perdagangan Abadi Kota Istanbul

Foto | Senin, 20 April 2026 | 15:18 WIB

Jelajah Bosphorus Istanbul, Menyusuri Denyut Kota Dua Benua

Jelajah Bosphorus Istanbul, Menyusuri Denyut Kota Dua Benua

Foto | Senin, 20 April 2026 | 14:25 WIB

Bebek Street Tampilkan Sisi Modern Istanbul di Tepi Laut

Bebek Street Tampilkan Sisi Modern Istanbul di Tepi Laut

Foto | Sabtu, 18 April 2026 | 12:50 WIB

Kamondo Stairs, Ikon Urban Karakoy dalam Rangkaian Jelajah Serial Mini

Kamondo Stairs, Ikon Urban Karakoy dalam Rangkaian Jelajah Serial Mini

Foto | Jum'at, 17 April 2026 | 19:27 WIB

Karakoy Street Turki, dari Pelabuhan Lama ke Pusat Kreatif Kota

Karakoy Street Turki, dari Pelabuhan Lama ke Pusat Kreatif Kota

Foto | Jum'at, 17 April 2026 | 09:00 WIB

Terkini

Setahun Usai Rusak Diterjang Bencana, Jembatan Teupin Mane Segera Berfungsi

Setahun Usai Rusak Diterjang Bencana, Jembatan Teupin Mane Segera Berfungsi

Foto | Senin, 26 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Olahraga Sambil Berburu Tiket Online Week 2026

Olahraga Sambil Berburu Tiket Online Week 2026

Foto | Senin, 26 Oktober 2026 | 00:00 WIB

37.000 Pelari JRF 2026 Dapat Perlindungan Asuransi dari Generali Indonesia

37.000 Pelari JRF 2026 Dapat Perlindungan Asuransi dari Generali Indonesia

Foto | Senin, 26 Oktober 2026 | 00:00 WIB

Dari Lokal ke Global, Kemenekraf Luncurkan Creative by Indonesia

Dari Lokal ke Global, Kemenekraf Luncurkan Creative by Indonesia

Foto | Senin, 26 Oktober 2026 | 00:00 WIB

Usai KMP Batu Mandi Terbakar, BKI Telaah Aspek Teknis Kapal

Usai KMP Batu Mandi Terbakar, BKI Telaah Aspek Teknis Kapal

Foto | Senin, 26 Oktober 2026 | 00:00 WIB

Karhutla di Way Kambas Sulit Dipadamkan, Lahan Gambut dan Jarak Sumber Air Jadi Kendala

Karhutla di Way Kambas Sulit Dipadamkan, Lahan Gambut dan Jarak Sumber Air Jadi Kendala

Lampung | Minggu, 25 Oktober 2026 | 23:42 WIB

Jusuf Kalla Ajak Dunia Utamakan Solidaritas Kemanusiaan Hadapi Bencana dan Perang

Jusuf Kalla Ajak Dunia Utamakan Solidaritas Kemanusiaan Hadapi Bencana dan Perang

News | Minggu, 25 Oktober 2026 | 23:05 WIB

Palembang Diguyur Hujan Usai Kemarau Panjang, BMKG Ungkap Peran OMC dan Dinamika Atmosfer

Palembang Diguyur Hujan Usai Kemarau Panjang, BMKG Ungkap Peran OMC dan Dinamika Atmosfer

Sumsel | Minggu, 25 Oktober 2026 | 22:55 WIB

OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka

OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka

Bisnis | Minggu, 25 Oktober 2026 | 22:35 WIB

Napi Tewas di Lapas Muaradua, 4 Tersangka Ditetapkan, Petugas Jaga Ikut Diperiksa

Napi Tewas di Lapas Muaradua, 4 Tersangka Ditetapkan, Petugas Jaga Ikut Diperiksa

Sumsel | Minggu, 25 Oktober 2026 | 22:25 WIB

×