Suara.com - Pelabuhan Aertembaga, Bitung, Sulawesi Utara menjadi saksi kesuksesan Festival Pesona Selat Lembeh 2016. Sabtu (8/10/2016) lalu merupakan puncak acara yang menampilkan Colorful Bitung, yakni pertunjukan kolosal berupa kolaborasi musik dan tarian kontemporer.
Sedikitnya 200 penari anak-anak dari berbagai sekolah di Kota Bitung menyajikan tarian yang menggambarkan lima pesona Kota Bitung, yaitu pesona bahari, flora, fauna, industri, dan sejarah-budaya-religi.
Seni pertunjukan tersebut mengangkat unsur budaya lokal, yang dipadukan dengan kecanggihan seni pertunjukan digital (video mapping).
Tarian dibuka dengan kisah asal mula nama Kota Bitung, yang berasal dari pohon Witung. Lalu, muncul monyet berbulu hitam berpantat merah dari segala arah. Bitung menamai monyet pantat merah itu dengan sebutan "yaki".
Yaki merupakan monyet asli Sulawesi, bernama latin Macaca nigra yang dilindungi karena hampir punah. Saat ini populasi terbesar Yaki berada di Taman Nasional Tangkoko Bitung.
Lalu muncul binatang khas Bitung lainnya, Tarsius, yaitu primata terkecil di dunia yang berukuran 10-15 cm. Binatang ini bermata besar dan memiliki ekor seperti tikus.
Kemudian ikan cakalang, yang menjadi makanan khas Bitung diwujudkan dalam sebuah tarian kontemporer berjudul "Tangkap Cakalang". Semua gerakan tarian yang disajikan tidak sembarangan, melainkan berdasarkan pada gerak dasar tarian tradisional Bitung.
Kerukunan antar umat beragama yang hidup berdampingan dengan damai di Kota Bitung juga ditampilkan dalam pagelaran.
Kemeriahan malam itu tidak hanya karena megahnya pertunjukan, tetapi juga karena antusiasme masyarakat yang memadati panggung di sisi Selat Lembeh. Masyarakat Bitung tumpah ruah menyaksikan pertunjukan.
Panitia menyediakan layar lebar di sekitar pelabuhan untuk warga yang tidak mendapat tempat menonton langsung ke panggung. Ratusan turis, baik lokal maupun mancanegara berbaur dengan masyarakat Kota Bitung, menikmati semua pertunjukan.
Acara ini dihadiri Gubernur Sulut, Olly Dondokambey dan Wakil Ketua MPR RI, EE Mangindaan, serta tuan rumah acara, Wali Kota Bitung, Max Lomban dan Wakil Wali Kota Maurits Mantiri.
Olly mengatakan, Pemprov ingin meningkatkan pesona wisata di Sulut, termasuk Kota Bitung.
"Kami sedang menggenjot program pariwisata di Sulawesi Utara. Target kami pada 2017, meraih 1 juta orang. Mudah-mudahan bisa terwujud," katanya.
Festival Pesona Selat Lembeh 2016 dibuka 6 Oktober lalu dan berakhir 10 Oktober, bertepatan dengan HUT Kota Bitung. Beberapa acara berlangsung meriah, seperti acara pembukaan, lari 10k yang diikuti lebih dari 30 ribu peserta, masamper massal oleh 5.000 penyanyi, pawai budaya, karnaval kapal hias, dan perahu nelayan (pakura), pelepasan bibit ikan oleh gubernur Sulut, serta festival kuliner.
Menurut Max, penutupan Festival Pesona Selat Lembeh 2016 akan dilakukan dengan pesta kembang api di langit Kota Bitung.