"Nusantara Berdendang" Meriahkan Sumpah Pemuda di Istana Negara

Fabiola Febrinastri

Senin, 31 Oktober 2016 | 13:00 WIB
"Nusantara Berdendang" Meriahkan Sumpah Pemuda di Istana Negara
Pertunjukan Wayang Ajen. [dok.Kemenpar]

Suara.com - Suasana Istana Merdeka, Jakarta, pada 28 Oktober 2016 terlihat berbeda. Halaman yang biasanya terkesan sepi, hari itu ramai pasukan pengawal presiden (Paspampres), dan halaman berubah menjadi panggung hiburan rakyat. Peringatan Sumpah Pemuda ke-88 kali ini diberi tema "Nusantara Berdendang."

Presiden Joko Widodo menyatakan senang dengan acara yang diselenggarakan khusus menyambut Sumpah Pemuda itu, yang menggabungkan tari, musik, tari, tata panggung, dengan latar belakang Istana Merdeka. "Bagus sekali. Koreografinya bagus untuk ukuran panggung yang cukup lebar," sebut presiden, Jakarta, Jumat (28/10/2016).

Tapi mungkin karena di lingkungan istana, penonton terkesan "dingin", tidak responsif sebagaimana pertunjukan seni yang lain. Mereka menonton dengan kalem dan tidak terlalu reaktif
.
Pertunjukan tari Saman disampaikan dengan menarik, Kecak Bali pun dinamis. Kolaborasi dua tari dengan ritme cepat itu menjadi tontonan luar biasa. Ketika salawat Aceh “bertemu”  dengan “cak-cak-cak” Bali, ternyata mampu menggetarkan rasa nasionalisme, sebuah pesan khas Sumpah Pemuda.

Begitupun saat tari Grandrung Banyuwangi. Para penari sempat membentuk formasi bunga merah dan putih, yang melambangkan bendera dalam “Satu Nusa Satu Bangsa dan Satu Bahasa, Indonesia”. "Memang di situ sensasi terbaik tarian Gandrung Banyuwangi," jelas Menteri Pariwisata, Arief Yahya.

Wayang Ajen Disambut 5.000 Penonton
Tak ketinggalan, hadir pula Wayang Ajen yang dimainkan Ki Dalang Wawan Ajen dari Jawa Barat. Kreasi kreatif Wayang Ajen, yang memadukan Wayang Landung Ciamis, Bebegig Ciamis, Wayang Orang Bandung, dan transformasi wayang kulit dalam Wayang Pulo Yogyakarta, membuat sekitar 5.000 penonton yang hadir memberikan aplaus.

Sejumlah menteri Kabinet Kerja, Wapres Jusuf Kalla hingga presiden ikut terkesima menyaksikan wayang yang sudah diakui United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sejak 2010 tersebut.

Jenis-jenis wayang yang tampil dalam satu panggung tersebut menyatu dengan apik di bawah komando Wayang Ajen. Bagaikan musik orkestra, semua dalang tampil kompak, walau hanya selama 7 menit. Pertunjukan tersebut dihadirkan hingga pukul 21.50 WIB.

"Saya pernah tampil 58 detik. Ketatnya durasi sudah bukan barang baru bagi Wayang Ajen," tutur Wawan.

Seluruh sajian malam itu sangat bernuansa nasional, sebab hampir semua wilayah di Nusantara “tampil”. Musik tradisional dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, kawasan perbatasan tampil di satu panggung.

Panggung juga dihias wayang beraneka bentuk, warna, postur, dan aksesoris. Beberapa di antaranya berbentuk  lima pulau besar di Tanah Air. Ada yang berbentuk Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Bahkan ada wayang raksasa setinggi 2,5 meter.
 
“Ini adalah buah perjalanan Wayang Ajen yang pernah tampil di 49 negara selama 17 tahun. Jadi warna-warna menarik di berbagai belahan dunia ikut dibawa ke istana,” tambah Wawan.

Pengalaman saat mendapatkan penghargaan untuk penampilan terbaik di Festival de Titeres de Canarias 2009, Spanyol pun dipertontonkan. Pesan-pesan sarat makna saat tampil di Yakutsk, Republik Sakha (Yakutia), Federasi Rusia, 2012 silam juga ikut disisipkan. Interaksi aktif antara penonton, wayang dan dalang yang sempat diperlihatkan di Yunani, Belanda, Prancis dan Italia, juga tetap diperlihatkan.

Pesan filosofi yang disampaikan dalam bentuk perang Baratayudha juga disampaikan dalam pertunjukan ini. Penonton seakan sepakat bahwa Indonesia akan terus bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia dan mencari peluang untuk menjadi bangsa pemenang.

“Ini seperti perang, tapi perang yang ini kita terjemahkan dalam kerja, kerja, dan kerja! Berkarya dan terus mencipta,” kata Wawan sambil mengepalkan tangannya.

Pesan lain yang juga disambut antisias adalah “Sapu Bersih (Saber) Pungli”, yang kebetulan sedang mendapat perhatian serius dari Presiden Jokowi. “Kami ingin semua pesan sampai. Dengan lakon wayang yang bermacam-macam ini, maka pesan akan lebih mudah terserap ke masyarakat. Ini seperti perang. Kemenangan itu direncanakan, sama seperti pesan Menteri Pariwisata, Arief Yahya," kata Wawan lagi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Januari 2017, Garuda Indonesia Buka Rute Chengdu-Bali

Januari 2017, Garuda Indonesia Buka Rute Chengdu-Bali

Bisnis | Minggu, 30 Oktober 2016 | 14:00 WIB

Mendagri Lantik Ketua DP Korpri Jadi Plt Gubernur Gorontalo

Mendagri Lantik Ketua DP Korpri Jadi Plt Gubernur Gorontalo

News | Jum'at, 28 Oktober 2016 | 16:00 WIB

Menpar Yakin Target 20 Juta Kunjungan pada 2019 Tercapai

Menpar Yakin Target 20 Juta Kunjungan pada 2019 Tercapai

Lifestyle | Jum'at, 28 Oktober 2016 | 15:00 WIB

Terkini

Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek, Tanggung Jawab Jangan Berhenti di Masinis

Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek, Tanggung Jawab Jangan Berhenti di Masinis

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 19:41 WIB

9 Cara Mudah Atasi Mata Kedutan Sebelum Berubah Jadi Penyakit Serius

9 Cara Mudah Atasi Mata Kedutan Sebelum Berubah Jadi Penyakit Serius

Health | Rabu, 30 September 2026 | 19:35 WIB

Urutan Zodiak dari yang Paling Rapi dan Teratur sampai yang Paling Berantakan

Urutan Zodiak dari yang Paling Rapi dan Teratur sampai yang Paling Berantakan

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 19:35 WIB

Yanuar Arif Wibowo Kecewa soal CCTV Bangunan Mewah Lapas Cibinong: Kurang Ajar

Yanuar Arif Wibowo Kecewa soal CCTV Bangunan Mewah Lapas Cibinong: Kurang Ajar

Bogor | Rabu, 30 September 2026 | 19:30 WIB

The Love Hypothesis: Cinta Tumbuh Karena Sering Bersama

The Love Hypothesis: Cinta Tumbuh Karena Sering Bersama

Your Say | Rabu, 30 September 2026 | 19:30 WIB

Penunjuk Arah Warna-warni Bikin Cari Bus di Terminal Blok M Lebih Mudah

Penunjuk Arah Warna-warni Bikin Cari Bus di Terminal Blok M Lebih Mudah

Foto | Rabu, 30 September 2026 | 19:26 WIB

Bos PT Danau Winata Indah Ditetapkan Tersangka Korupsi Proyek Kondotel Rp100 Miliar

Bos PT Danau Winata Indah Ditetapkan Tersangka Korupsi Proyek Kondotel Rp100 Miliar

News | Rabu, 30 September 2026 | 19:25 WIB

Menakar Teknologi Manufaktur YIMM di Tengah Ekspor 3 Juta Unit Motor Yamaha

Menakar Teknologi Manufaktur YIMM di Tengah Ekspor 3 Juta Unit Motor Yamaha

Otomotif | Rabu, 30 September 2026 | 19:20 WIB

Dampak Super El Nino Mulai Dirasakan Industri di RI

Dampak Super El Nino Mulai Dirasakan Industri di RI

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 19:19 WIB

Singgung Jabatan Komisaris, Denny Indrayana Sorot Peran Eks Ketua KPU Muluskan Pencalonan Gibran

Singgung Jabatan Komisaris, Denny Indrayana Sorot Peran Eks Ketua KPU Muluskan Pencalonan Gibran

News | Rabu, 30 September 2026 | 19:15 WIB

×