Simak Perjalanan Panjang Cokelat Masuk ke Indonesia yuk!

Dythia Novianty, Dinda Rachmawati

Jum'at, 03 Agustus 2018 | 13:32 WIB
Simak Perjalanan Panjang Cokelat Masuk ke Indonesia yuk!
Diskusi Media ‘Serba Serbi Cokelat’ di Jakarta, Kamis (2/08/2018). [Suara.com/Dinda Rachmawati]

Suara.com - Siapa sih yang tak suka cokelat? Pernahkah kita penasaran tentang bagaimana sejarah cokelat yang bisa berkembang di Indonesia dan menjadi salah satu kategori camilan terfavorit urutan keempat setelah kategori pastry, biskuit, dan permen dengan pangsa pasar hingga 776 juta dolar AS (Rp 11,2 triliun)?

Seorang Sejarawan Makanan, Fadly Rahman, mengatakan bahwa awal mulanya tanaman cokelat yang dihasilkan dari kakao, ditemukan di lembah sungai Amazon sekitar 400 tahun lalu. Tanaman ini lantas dibudidayakan menjadi minuman, yang saat itu disebut sebagai Xocoatl, berarti air pahit atau cairan pahit.

"Bangsa Maya dan Aztec lah yang memainkan peranan penting bagi keberlangsungan kakao saat itu. Mereka menganggap kakao sebagai lambang kesuburan dan praktik kesehatan, minuman kemakmuran atau minuman para dewa," ujar dia menjelaskan dalam acara Diskusi Media ‘Serba Serbi Cokelat’ di Jakarta, Kamis (2/08/2018).

Hingga akhirnya, kakao dibawa pertama kali oleh kolonial Spanyol ke Indonesia pada tahun 1560, yang saat itu masuk melalui daerah Minahasa setelah perjalanan panjang dari Spanyol melewati Filipina. Bibit kakao yang berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan ini akhirnya ditanam di Indonesia.

Kakao pun mulai dikenal masyarakat pada tahun 1880, hingga akhirnya Indonesia memiliki perkebunan kakao di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Industri kakao ini berkembang sangat pesat di tahun 1938 dengan total 29 perkebunan kakao di Pulau Jawa.

Pada awal abad 20, masyarakat Indonesia mulai mengolah kakao menjadi bubuk kakao atau yang kita kenal sekarang dengan bubuk cokelat. Bubuk kakao ini, kata Fadly, biasanya diseduh dan diminum pada pagi dan malam hari sebagai penambah stamina.

Melihat peminat cokelat atau bubuk kakao semakin meningkat, seorang pengusaha dari Belanda pada tahun 1924 mendirikan perusahaan produk cokelat yang diberi ‘Tjoklat’. Inilah yang semakin mendorong pengembangan industri makanan yang berbahan dasar cokelat di dalam negeri.

"Di tahun 1925, perusahaan tersebut berinovasi dengan 63 cokelat batangan. Pada saat itu perusahaan ini juga mengekspor biji-biji kakao ke Amsterdam dan ke beberapa Negara Eropa," ujarnya menjelaskan.

Sekarang, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara penanam dan penikmat cokelat, setelah Ghana dan Pantai Gading. Tapi, Cocoa Life Director for Southeast Asia, Mondelez International Andi Sitti Asmayanti, mengungkap bahwa perjalanan cokelat di Indonesia tak lepas dari beragam tantangan.

baca juga

Ia menjelaskan bahwa meskipun Indonesia merupakan negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia, pertanian kakao masih menghadapi berbagai tantangan. Diantaranya karena pertanian kakao yang masih dilakukan secara tradisional, sehingga produktivitasnya pun rendah, sehingga ketertarikan petani untuk membudidayakan kakao pun rendah.

Diskusi Media ‘Serba Serbi Cokelat’ di Jakarta, Kamis (2/08/2018). [Suara.com/Dinda Rachmawati]
Diskusi Media ‘Serba Serbi Cokelat’ di Jakarta, Kamis (2/08/2018). [Suara.com/Dinda Rachmawati]

Apalagi, kata Yanti, kakao juga harus mengalami perjalanan panjang sebelum menjadi camilan cokelat yang siap dikonsumsi. Proses fermentasi setelah memanen kakao justru paling penting dalam menentukan kualitas dan rasa cokelat.

"Setelah dijemur sampai kering dan dipanggang, biji kakao kemudian digilas sampai menjadi cocoa liquor. Cocoa liquor tersebut kemudian diproses menjadi cocoa butter yang lebih padat," jelasnya merinci.

Untuk menjadi camilan cokelat yang siap dikonsumsi, lanjutnya, cocoa liquor kemudian dicampur dan dipanaskan dengan cocoa butter, gula dan susu selama beberapa jam untuk kemudian didinginkan dan dibentuk sesuai produk yang diinginkan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Wow, Makan Cokelat saat Sarapan Bisa Bikin Langsing

Wow, Makan Cokelat saat Sarapan Bisa Bikin Langsing

Lifestyle | Sabtu, 28 April 2018 | 08:56 WIB

Dimana Sebaiknya Coklat Batangan Disimpan?

Dimana Sebaiknya Coklat Batangan Disimpan?

Lifestyle | Senin, 29 Januari 2018 | 15:21 WIB

Banyak Perempuan Butuh Cokelat Saat Haid, Ini Alasannya

Banyak Perempuan Butuh Cokelat Saat Haid, Ini Alasannya

Lifestyle | Rabu, 17 Januari 2018 | 15:29 WIB

Stroberi dan Kopi Bisa Ganggu Kehidupan Seks

Stroberi dan Kopi Bisa Ganggu Kehidupan Seks

Lifestyle | Minggu, 14 Januari 2018 | 14:33 WIB

Dokter Peringatkan Bahaya Sarapan Roti Cokelat Setiap Hari

Dokter Peringatkan Bahaya Sarapan Roti Cokelat Setiap Hari

Health | Jum'at, 11 Agustus 2017 | 12:24 WIB

6 Coklat dengan Bentuk Anti-mainstream, Berani Makan?

6 Coklat dengan Bentuk Anti-mainstream, Berani Makan?

Lifestyle | Minggu, 27 November 2016 | 09:00 WIB

Terkini

Konten Couple Carousel Bikin Gemas! Penolong untuk yang Takut Jatuh Cinta

Konten Couple Carousel Bikin Gemas! Penolong untuk yang Takut Jatuh Cinta

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 11:20 WIB

Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat

Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat

Lifestyle | Minggu, 27 September 2026 | 11:20 WIB

Indonesia Kembali Bidik Kursi DK PBB 2029-2030, Sugiono Ungkap Komitmen yang Dibawa

Indonesia Kembali Bidik Kursi DK PBB 2029-2030, Sugiono Ungkap Komitmen yang Dibawa

News | Minggu, 27 September 2026 | 11:19 WIB

Sammy Simorangkir Bawakan Lagu-Lagu Kerispatih, Pestapora 2026 Larut dalam Nostalgia

Sammy Simorangkir Bawakan Lagu-Lagu Kerispatih, Pestapora 2026 Larut dalam Nostalgia

Entertainment | Minggu, 27 September 2026 | 11:08 WIB

3D Printing Kini Bisa Bikin Mainan hingga Barang Medis

3D Printing Kini Bisa Bikin Mainan hingga Barang Medis

Lifestyle | Minggu, 27 September 2026 | 11:07 WIB

Padepopan: Sweet Escape Hadirkan Festival Musik di Tengah Terminal Jatijajar yang Tetap Beroperasi

Padepopan: Sweet Escape Hadirkan Festival Musik di Tengah Terminal Jatijajar yang Tetap Beroperasi

Entertainment | Minggu, 27 September 2026 | 11:05 WIB

BI dan Bank Sentral Timor-Leste Sepakati Penjajakan QRIS Antarnegara

BI dan Bank Sentral Timor-Leste Sepakati Penjajakan QRIS Antarnegara

Bisnis | Minggu, 27 September 2026 | 10:57 WIB

Guruh Soekarnoputra Dikenang Fadli Zon sebagai Sosok yang Tekun Merawat Literasi

Guruh Soekarnoputra Dikenang Fadli Zon sebagai Sosok yang Tekun Merawat Literasi

News | Minggu, 27 September 2026 | 10:55 WIB

Rp8.400 Per Bulan, Petani Dapat Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan

Rp8.400 Per Bulan, Petani Dapat Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan

Sulsel | Minggu, 27 September 2026 | 10:54 WIB

Tether dan Bitcoin Jadi Aset Kripto Paling Diburu Investor Sepanjang Agustus

Tether dan Bitcoin Jadi Aset Kripto Paling Diburu Investor Sepanjang Agustus

Bisnis | Minggu, 27 September 2026 | 10:52 WIB

×