Kisah Vera Anggraini, Desainer yang Jatuh Cinta dengan Kebaya

Ririn Indriani | Dinda Rachmawati
Kisah Vera Anggraini, Desainer yang Jatuh Cinta dengan Kebaya
Desainer Vera Anggraini tampil anggun dengan kebaya rancangannya. (Foto: Dokumentasi Pribadi

Vera Anggraini yang besar lewat 'Vera Kebaya' tak didapatnya secara instan.

Suara.com - Kisah Vera Anggraini, Desainer yang Jatuh Cinta dengan Kebaya.

Kebaya menjadi salah satu busana khas Indonesia yang tak pernah termakan oleh zaman.

Ya, busana satu ini selalu menjadi nomor satu ketika datang untuk berbagai perayaan spesial, mulai dari upacara kelulusan, lamaran, pernikahan atau sekadar menghadiri undangan formal.

Ketika mendengar kata kebaya, nama 'Vera Kebaya' mungkin adalah salah satu yang akan terlintas di pikiran.

Label kebaya rancangan Vera Anggraini yang karyanya sudah dikenakan oleh banyak selebriti dalam negeri, seperti Raisa hingga putri Presiden Republik Indonesia (RI), Kahiyang Ayu.

Rancangannya yang khas dengan desain klasik, namun tetap simpel dan modern ini banyak dicintai oleh perempuan Indonesia. Tak heran jika banyak dari mereka yang ingin mengenakan kebaya rancangan Vera untuk hari spesial mereka.

Vera Anggraini tampil dengan model rambut khas Bali. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Vera Anggraini tampil dengan model rambut khas Bali. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Namun, keberhasilan yang diraih perempuan kelahiran 25 Oktober 1974 ini pun tak instan didapatkannya. Ia mengaku, sejak duduk dibangku sekolah memang sudah mantap untuk menjadi seorang desainer di Sekolah Menengah Teknologi Kerumahtanggaan (SMK) Negeri 8 Medan.

Ia mengambil jurusan Tata Busana dan melanjutkannya studinya ke Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Medan dengan jurusan yang sama.

Saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMK, Vera memang sudah dikenal sebagai murid yang berprestasi di bidang menjahit sehingga mendapatkan beasiswa penuh selama sekolah. Di bangku kuliah, Vera juga mengasah keterampilannya dengan menerima pesanan jahitan.

Bekal inilah yang lantas membawanya merantau ke Ibu Kota pada awal 2000an dan bekerja menjadi salah satu staf kreatif desainer senior, almarhum Nelwan Anwar. Selang dua tahun, Vera mencoba tantangan baru dengan bekerja sebagai asisten desainer senior Adjie Notonegoro.

"Di sanalah saya belajar sebagai asisten desainer. Kebetulan dia (Adjie) dikenal sebagai desainer kebaya dan gaun. Dia sering mengarahkan kliennya ke saya. Sampai akhirnya saya pikir saya makin jatuh cinta dengan kebaya," ujar Vera.

Desainer Vera Anggraini tampil anggun dengan kebaya rancangannya. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Desainer Vera Anggraini tampil anggun dengan kebaya rancangannya. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Hingga pada 2003, Vera mantap untuk berkarier solo. Tapi, dia mengatakan saat itu, masih ada embel-embel nama seorang Adjie Notonegoro di belakang namanya.

"Waktu itu orang masih taunya pakai nama 'Vera Adjie'. Vera yang mana? Vera Adjie," jelas dia lagi.

Dalam memulai karier, Vera mengaku menjalani semua prosesnya bersama sang suami. Ia juga sangat terbantu dari banyak toko bahan tempatnya berbelanja kain.

Pada awalnya, lanjut Vera, dia melakukan bisnisnya dengan sistem jemput bola. Satu persatu klien ia datangi ke rumah masing-masing.

Saat itu, kata Vera, rancangannya juga masih berupa kebaya kontemporer penuh warna.

"Tapi saya ngerasa kebaya klasik lebih menjadi minat saya. Menampilkan desain klasik yang lebih timeless menurut saya bisa sepanjang masa untuk dikenakan," ungkap dia.

Desainer Vera Anggraini saat konferensi pers peragaan busana tunggal pertamanya bertajuk Merajut Nusantara di Jakarta, beberapa waktu lalu. (Suara.com/Dinda Rachmawati)
Desainer Vera Anggraini saat konferensi pers peragaan busana tunggal pertamanya bertajuk Merajut Nusantara di Jakarta, beberapa waktu lalu. (Suara.com/Dinda Rachmawati)

Hingga akhirnya semua pun berubah saat dirinya dan suami mulai mengunggah foto-foto klien yang sedang mengenakan kebaya rancangannya ke Instagram pada 2011.

Sejak saat itulah, nama Vera Kebaya mulai melekat dan dikenal, khususnya untuk kalangan menengah atas seperti deretan selebriti hingga publik figur. Namun, hal tersebut tak membuat Vera 'besar kepala'.

Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan bonus, namun tidak menjadi target yang ia tetapkan sejak awal.

"Artis itu ngga terlalu memberi efek yang gimana sama saya. Walaupun endingnya berteman dengan mereka. Saya justru inginnya klien biasa yang berfoto pakai kebaya saya, melihat keanggunan dan kecantikan mereka, karena kalau artis kan pakai baju apa saja sudah pasti cantik, apalagi pakai kebaya" ujar dia panjang lebar.

Selama hampir 16 tahun berkarya, pencapaian Vera pun bertambah setelah 2018, ia akhirnya memberanikan diri menggelar peragaan busana tunggal pertamanya yang diberi tajuk "Merajut Nusantara".

Menghadirkan 40 kebaya modifikasi dari Aceh hingga Papua. Ia menyebut bahwa "Merajut Nusantara" adalah sebagai pencapaian terbesarnya saat ini.

Karena bisa dikatakan, Vera sempat tak percaya diri untuk menggelar acara yang juga melibatkan musisi Djaduk Ferianto dan fotografer Darwis Triadi tersebut.

"Aku tuh orangnya kadang-kadang masih suka kurang percaya diri. Tapi berkat support suami, keluarga, serta para pendukung acara, fashion show tunggal perdanaku bisa terlaksana," tutup Vera bersemangat.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS