Pakai Kebaya, Rahmi Hidayati Menjelajah Berbagai Gunung di Indonesia

Vania Rossa, Dini Afrianti Efendi

Senin, 12 Agustus 2019 | 09:00 WIB
Pakai Kebaya, Rahmi Hidayati Menjelajah Berbagai Gunung di Indonesia
Rahmi Hidayati, perempuan pendaki gunung berkebaya. (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

Anak MAPALA Universitas Indonesia

Pakai Kebaya, Rahmi Hidayati Taklukkan Berbagai Gunung di Indonesia. (Foto: Facebook/Rahmi Hidayati)
Pakai Kebaya, Rahmi Hidayati Menjelajah Berbagai Gunung di Indonesia. (Foto: Facebook/Rahmi Hidayati)

Terlepas dari penampilannya yang terbilang feminim, ibu dua anak ini ternyata cukup bernyali, karena pada 1988 lalu saat masih menjadi mahasiswa, ia tergabung dalam unit Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) Universitas Indonesia. Setelah itu, untuk pertama kalinya naik Gunung Gede pada 1986 lalu.

Sebelum mendaki dengan menggunakan kebaya, Rahmi telah mengkhatamkan berbagai gunung tertinggi di Indonesia termasuk Kerinci. Bahkan ia pernah menapaki kaki di gunung Himalaya, puncak ABC, sebagai lokasi salah satu puncak tertinggi di dunia, Everest. Sayangnya, saat itu ia tidak mencapai puncak karena berbagai alasan.

"Jangan berpikir trek perjalanan naik gunung di luar negeri lebih susah dibanding Indonesia, masih sulit naik gunung di Indonesia, trek perjalanannya sangat berat berikut dengan caranya bertahan hidup. Saya juga tidak bangga pernah menginjakkan kaki di Himalaya," celetuknya miris.

Kini, Rahmi dapat menularkan hobinya naik gunung kepada anak terakhirnya yang juga bergabung di MAPALA UI, seorang perempuan, yang juga mengambil kelas dan bidang khusus Paralayang.

Pernah Diremehkan Naik Gunung dengan Kebaya

Pakai Kebaya, Rahmi Hidayati Taklukkan Berbagai Gunung di Indonesia. (Foto: Facebook/Rahmi Hidayati)
Pakai Kebaya, Rahmi Hidayati Menjelajah Berbagai Gunung di Indonesia. (Foto: Facebook/Rahmi Hidayati)

Cerita unik ini terjadi saat Rahmi mencoba ikut bersama rombongan anak muda yang hendak menaiki Gunung Ceremai. Saat itu perempuan mantan jurnalis ini sudah memakai kebaya, dan itu berhasil membuat salah satu anak lelaki tidak nyaman melihatnya sehingga memastikan kepada Rahmi.

"Anak itu nanya, 'Mbak seriusan naik gunung?', 'iya serius kok', kali dia pikir udah emak-emak ikut mereka, cewek sendiri pakai kebaya, ngeliatin dari atas ke bawah," cerita Rahmi.

Kepada anak muda itu Rahmi mengatakan ia memang habis mendaki Gunung Prau dan Merbabu, dua gunung yang jauh lebih pendek dari Ceremai. Anak-anak lelaki itupun sempat sanksi sehingga sepanjang perjalanan pendakian terus memperhatikan Rahmi, tapi yang dilakukannya hanya cuek dan asik mendaki dengan caranya sendiri hingga akhirnya sampai puncak dan turun dengan selamat.

baca juga

"Di bawah baru tuh mereka kelihatan lega kayaknya," imbuh Rahmi sambil tertawa puas.

Ikatan Kain, Kenyamanan dan Keselamatan Adalah Kunci

Pakai Kebaya, Rahmi Hidayati Taklukkan Berbagai Gunung di Indonesia. (Foto: Facebook/Rahmi Hidayati)
Pakai Kebaya, Rahmi Hidayati Menjelajah Berbagai Gunung di Indonesia. (Foto: Facebook/Rahmi Hidayati)

Sebagai anak MAPALA, Rahmi sadar betul ia lebih memilih tidak naik gunung dibanding harus membahayakan nyawa saat perbekalan dan perlengkapannya tidak memadai. Begitupun dengan memakai kebaya saat naik gunung. Perempuan yang juga konsultan komunikasi ini akan memakai kebaya yang nyaman dikenakan, dimana kuncinya adalah ikatan kain.

Beberapa kali naik gunung dengan kebaya, Rahmi sempat kesulitan dengan kain yang beberapa kali lepas, dan ia harus menyediakan waktu khusus untuk mengikatnya kembali. Sampai ia menemukan metode ikatan yang nyaman dan pas, pakai kain di atas gunung tidak lagi merepotkan.

"Kebayanya juga bukan kebaya yang ketat, aku sampai bikin sendiri ke sepupu untuk minta dijahitkan kebaya tapi bahannya kaos, jadi nyaman saat beraktifitas," ungkapnya.

Rahmi juga bercerita, ada di satu ketika ia kehujanan saat sedang mendaki dan membuat kainnya basah meski ia sudah mengenakan jas hujan sekalipun. Tidak ingin nekat tetap memakan kain basah yang akan mempersulit saat berjalan, ia memilih melepaskan dan mengganti baju agar tidak kedinginan dan terserang dingin atau hipotermia di gunung.

Founder 'Perempuan Berkebaya' ini berharap naik gunung yang banyak digandrungi anak muda yang dilakukannya dengan berkebaya, mampu menularkan semangat mencintai tanah air dengan berkebaya, meski di atas gunung sekalipun.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Putri Handayani, Ambisinya Mengejar Puncak Tertinggi Dunia

Putri Handayani, Ambisinya Mengejar Puncak Tertinggi Dunia

Lifestyle | Selasa, 25 Juni 2019 | 08:05 WIB

Selfie Jadi Penyebab Banyak Pendaki Meninggal di Gunung Everest

Selfie Jadi Penyebab Banyak Pendaki Meninggal di Gunung Everest

Lifestyle | Selasa, 28 Mei 2019 | 10:02 WIB

Dilarang BAB, Pendaki Gunung Denali AS Kini Wajib Bawa Tinjanya saat Turun

Dilarang BAB, Pendaki Gunung Denali AS Kini Wajib Bawa Tinjanya saat Turun

Lifestyle | Kamis, 04 April 2019 | 08:50 WIB

Terkini

Pulau Panggang Krisis BBM, Nelayan Terancam Tak Bisa Melaut

Pulau Panggang Krisis BBM, Nelayan Terancam Tak Bisa Melaut

News | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:37 WIB

Misteri Pembunuhan di Ruangan Tertutup dalam Novel Everything Becomes F

Misteri Pembunuhan di Ruangan Tertutup dalam Novel Everything Becomes F

Your Say | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:30 WIB

Panut Rilis Buku Otobiografi, Tegaskan Komitmen Kawal Benteng Hijau Sumatra

Panut Rilis Buku Otobiografi, Tegaskan Komitmen Kawal Benteng Hijau Sumatra

Sumut | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:29 WIB

Perjalanan Putra Samuel Silitonga Dikenal Jutaan Penonton Berkat Sosok Mumu Warintil

Perjalanan Putra Samuel Silitonga Dikenal Jutaan Penonton Berkat Sosok Mumu Warintil

Lifestyle | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:29 WIB

Cluster Beverly Hills Resmi Show Unit, Tawarkan Hunian American Classic di Semarang

Cluster Beverly Hills Resmi Show Unit, Tawarkan Hunian American Classic di Semarang

Jawa Tengah | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:28 WIB

Mau ke Monas Malam Ini? Simak Rekayasa Lalu Lintas dan Titik Parkir Konser Akbar 2026

Mau ke Monas Malam Ini? Simak Rekayasa Lalu Lintas dan Titik Parkir Konser Akbar 2026

News | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:19 WIB

Dua Mahasiswa Diduga Jadikan Instagram Lapak Tembakau Sintetis

Dua Mahasiswa Diduga Jadikan Instagram Lapak Tembakau Sintetis

News | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:05 WIB

Pelatih Spanyol Lebih Takut Naik Helikopter Dibanding Lawan Lionel Messi di Final Piala Dunia 2026

Pelatih Spanyol Lebih Takut Naik Helikopter Dibanding Lawan Lionel Messi di Final Piala Dunia 2026

Bola | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:05 WIB

Kanker pada Perempuan Kini Bisa Ditangani Lebih Personal, Terapi Presisi Bawa Harapan Baru

Kanker pada Perempuan Kini Bisa Ditangani Lebih Personal, Terapi Presisi Bawa Harapan Baru

Health | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:01 WIB

Dari Propaganda hingga Pengawasan: Mengapa 1984 Tetap Relevan di Zaman Digital

Dari Propaganda hingga Pengawasan: Mengapa 1984 Tetap Relevan di Zaman Digital

Your Say | Sabtu, 18 Juli 2026 | 18:00 WIB

×