Kisah Mati Suri Lisa Samadikun, Buktikan Yoga Berefek Menyembuhkan

Vania Rossa, Dini Afrianti Efendi

Senin, 16 September 2019 | 08:50 WIB
Kisah Mati Suri Lisa Samadikun, Buktikan Yoga Berefek Menyembuhkan
Lisa Samadikun. (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

Suara.com - Tidak banyak orang yang percaya jika olahraga yang minim gerakan seperti yoga bisa memiliki efek yang sangat dahsyat, bahkan pada orang yang mati suri.

Hal ini dialami secara langsung Lisa Samadikun, perempuan berumur 50 tahun yang kini berprofesi sebagai praktisi yoga and movement sekaligus happiness speaker. Tidak hanya sekedar menjadi instruktur yoga, Lisa juga kerap memberikan berbagai motivasi dan pengalaman hidupnya kepada orang lain. Kini, perempuan kelahiran Banten itu disebut sebagai salah satu pembicara andal yang mampu mengubah hidup banyak orang untuk mau hidup sehat.

Menderita Autoimun Hingga Nyaris Mati
Lisa berkisah dirinya pernah nyaris meninggal di umur 43 tahun akibat autoimun yang membuat sebelah badannya lumpuh saat ia berada di puncak karir

Lisa Samadikun dalam Workshop Happiness Is. (Instagram/@jeda.wellnest)
Lisa Samadikun dalam Workshop Happiness Is. (Instagram/@jeda.wellnest)

Pada 2012, Lisa saat itu masih berprofesi sebagai seorang banker. Ia merasa puas dengan pekerjaanya. Tapi di sisi lain, tekanan stres dan beragam deadline pekerjaan mulai menyerangnya. Di sanalah ia mulai meninggalkan kebiasaanya menggerakkan badan dan berolahraga. Padahal ia berangkat dari seorang balerina dan penari, yang sesungguhnya merupakan passion-nya sejak umur 5 tahun

Terjadi secara cepat, tanpa disadari, badan Lisa terasa lemas, kaku, tidak enak badan, dan sulit bergerak. Dari hari ke hari semakin parah hingga setengah badannya tidak bisa digerakkan dan semua tubuh sebelah kanannya lumpuh.

"Tiga minggu ngedrop, aku dibilang cuma lupus, tanpa ketahuan kenapa. Tiba-tiba saja ngedrop tanpa tahu apa-apa," ungkap Lisa beberapa waktu lalu di Shangri-La Hotel, Jakarta Selatan.

Dokter yang menanganinya pun tidak tahu apa-apa, dan malah bertanya kepadanya 'Kenapa ini bisa terjadi?'. Lisa pun sama tidak pahamnya, tidak mengerti dengan keadaan tubuhnya.

Lisa kemudian diterbangkan ke Singapura untuk diambil sumsum tulangnya. Dari sana diketahui ia terserang autoimun. Ternyata di dalam tubuhnya sudah ada virus yang menantinya, menunggu keadaan tubuhnya drop.

"Second virus yang datang saat badan saya ngedrop. Biasanya antibodi saya akan menangkis kalau badan saya normal. Tapi karena badan saya tidak normal, lagi ngedrop, membuat antibodi bingung mau melindungi saya atau melindungi penyakit kedua yang datang. Akhirnya dia support virus yang datang, dan menjadikannya lebih kuat untuk menyerang badan saya, makanya saya kena autoimun," papar Lisa dengan sorot mengenang.

baca juga

Tabungan Rp 500 Juta Terkuras Habis
Merasakan sakit yang sebegitu parahnya, waktu Lisa habis untuk mengobati penyakit yang membuatnya nyaris mati. Saat lumpuh sebelah itu, yang menggaung dalam pikirannya adalah, 'Apa yang telah saya lakukan selama hidup ini?' dan 'Adakah hal yang bermanfaat?'

Lalu ia sadar, seberapa suksesnya dalam pekerjaan, tidak menjadikannya puas dan bahagia. Bahkan uang yang selama ini ditabungnya juga akan habis karena penyakitnya. Tak main-main, untuk pengobatan saja ia menghabiskan dana hingga Rp 500 juta. Belum lagi transport, penginapan, dan berbagai kebutuhan selama perawatan tidak masuk hitungan.

"Duit gue habis begitu aja, hanya untuk bayar kesehatan gue," celetuknya.

Di sanalah ia tersentak dan menyesal dengan hidup yang dijalaninya, betapa sangat tidak bermakna, hingga baru disadari saat menjelang ajal.

"Yang saya pikirkan sekarang adalah supaya bisa mengisi napas itu dengan hal yang baik, pikiran yang baik, tingkah yang baik, dan melakukan hal yang baik, agar ketika satu saat saya tidak bernapas lagi, saya tidak menyesal," tutur Lisa.

Yoga yang Menyembuhkan
Dokter kemudian mengidentifikasi penyakit Lisa karena tidak adanya keseimbangan dalam tubuhnya, sehingga penyakit autoimunnya menyerang. Menurut dokter, dulu saat ia konsen melakukan aneka gerakan balerina dan dancing selama 20 tahun tanpa henti, Lisa hanya konsen pada gerakan pemanasan, tidak ada bagian inti atau pendinginan. Padahal gerakan olahraga haruslah ada ketiganya.

Lisa Samadikun. (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)
Lisa Samadikun. (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

"Dulu saya nari waktu kecil mulai dari 5 tahun jadi balerina. Otot yang saya pakai mungkin pinggang ke bawah, karena latihannya lower body. Terus sampai umur 20 tahun ke atas mulai terjadi impact cedera yang dari lutut sampai pergelangan kaki, karena saya banyak jatuh. Lompat keseleo, lompat jatuh keseleo," cerita Lisa.

Penjelasan itu membuatnya tercengang. Dan setelahnya ia diminta mencari gerakan rehabilitasi atau pengobatan. Dalam keadaan setengah lumpuh, ia diminta mengikuti kelas yoga dengan para pelaku yoga lainnya. Keheranan, ia sempat meragukan permintaan dokter.

"Gila aja, gue yang masih pakai kursi roda gini, badan yang gerak kiri saja, malah disuruh yoga. Tapi dia tetap minta, dan ternyata di situ aku percaya apa yang namanya energi bisa tersalurkan. Saat itu orang-orang di kelas yoga bersemangat, kita juga akan kebawa semangat," ungkap Lisa menggebu-gebu.

Setelah meyakinkan diri sendiri, ia diminta memusatkan perhatiannya satu per satu pada tubuh bagian kanannya, ia fokus gerakkan dengan menjadikan bagian kananya titik fokus memberikan energi menyembuhkan. Benar saja, meski makan waktu berbulan-bulan, perlahan lutut kanannya mulai bisa digerakan. Dan kemudian berturut-turut kaki kanan, lengan kanan, hingga bahu kanan, semuanya bisa bergerak perlahan.

"Ketika itu aku pakai siku kiri, pikirin ingin sembuhin siku kanan, bergumam 'siku kanan, siku kanan, siku kanan'. Sampai merasa imposible setiap engsel aku kirimin (energi). Hari ke-31 'plek' (bergerak), hari ke-32 naik (bergerak) lutut balik lagi, 8 bulan prosesnya sampai aku bisa jongkok lagi. Aku nggak percaya tadinya, tanpa obat," ceritanya antusias.

Hidup Kedua dan Berbagi Ilmu
Merasa diberikan napas dan hidup untuk kedua kalinya, Lisa pun tidak ingin menyia-nyiakan setiap embusan napas yang diberikan kepadanya. Ia sekarang lebih memilih mencari kebahagiaan dan hidup lebih bermakna, dengan menjaga kesehatan dan memilih dengan baik pekerjaan.

Lisa Samadikun dalam Workshop Happiness Is. (Instagram/@jeda.wellnest)
Lisa Samadikun dalam Workshop Happiness Is. (Instagram/@jeda.wellnest)

"Uang penting, tapi aku udah nggak ngoyo lagi cari uang, karena aku sadar kesehatanku jadi kekayaanku. Buat apa kekayaan kalau kesehatan menurun atau mentalnya terganggu, kaya tapi tidak bahagia," ungkapnya dengan hati ringan.

Lisa yang dulu tidak pernah bangun pagi, kini selalu memulai hari jam 4 pagi menyiapkan kebutuhan keluarga dan berolahraga sejenak, menyerap vitamin D dari matahari pagi agar autoimunnya tidak kembali menyerang.

"Makanan no prosess food, prosses food is not food, plant base is the best. Tapi waktu itu belum vegetarian, tapi saya kontrol. Karena masa punya mobil tahu apa oli yang dipakai, tapi nggak mau tahu apa yang masuk ke dalam diri kamu. Sadari aja dulu ada lemak di sini," katanya

"Process food kebanyakan racun yang diproses, kalau mau sembuh autoimun, 70 persen makanlah plant base, selebihnya 30 persen buat party time. Asal jangan diet berlebihan," lanjutnya

Konsen dan fokus Lisa kini yaitu mencari kebahagiaan dengan passion yang disukainya, seperti menari dan yoga. Baginya, napasnya sangat berharga, karena ia tidak tahu kapan napas akan berhenti menemaninya, hingga ia memilih berbagi ilmu dan pengetahuan kepada orang lain untuk sama-sama mencari kebahagiannya dengan menjadi happiness speaker.

Ia akan mengingatkan orang lain dengan kisah hidupnya yang nyaris meninggal, untuk mau memulai hidup sehat nan bermakna. Tidak lagi menjalani hidup dengan penuh tekanan, perlu sesekali jeda sejenak dari pekerjaan dan aktivitas yang membuat pikiran terganggu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gejala Mata Kering Raditya Dika, Juga Jadi Tanda Autoimun Lho

Gejala Mata Kering Raditya Dika, Juga Jadi Tanda Autoimun Lho

Health | Rabu, 11 September 2019 | 21:00 WIB

Sebelum Nonton Serena Williams, Meghan Markle Curi Waktu Ikut Kelas Yoga

Sebelum Nonton Serena Williams, Meghan Markle Curi Waktu Ikut Kelas Yoga

Lifestyle | Selasa, 10 September 2019 | 15:45 WIB

Seperti Raditya Dika, Orang-orang Ini Berisiko Terkena Penyakit Autoimun

Seperti Raditya Dika, Orang-orang Ini Berisiko Terkena Penyakit Autoimun

Health | Senin, 02 September 2019 | 09:46 WIB

Terkini

3 Rekomendasi Genset 500 Watt yang Bisa Dipakai di Rumah, Solusi saat Pemadaman Listrik

3 Rekomendasi Genset 500 Watt yang Bisa Dipakai di Rumah, Solusi saat Pemadaman Listrik

Lifestyle | Rabu, 24 Juni 2026 | 21:05 WIB

Lebih dari Sekadar Pertandingan: Ketika Euforia Sepak Bola Menjadi Gaya Hidup Generasi Urban

Lebih dari Sekadar Pertandingan: Ketika Euforia Sepak Bola Menjadi Gaya Hidup Generasi Urban

Lifestyle | Rabu, 24 Juni 2026 | 20:56 WIB

5 Face Wash Anti-Aging untuk Kurangi Kerutan Usia 40 Tahun agar Wajah Tampak Muda

5 Face Wash Anti-Aging untuk Kurangi Kerutan Usia 40 Tahun agar Wajah Tampak Muda

Lifestyle | Rabu, 24 Juni 2026 | 20:55 WIB

Ciri-Ciri Sunscreen Kedaluwarsa, Ini Risikonya kalau Tetap Dipakai

Ciri-Ciri Sunscreen Kedaluwarsa, Ini Risikonya kalau Tetap Dipakai

Lifestyle | Rabu, 24 Juni 2026 | 20:50 WIB

9 Penyebab Kulkas Berbunyi Dengung, Lengkap Panduan Rawat Elektronik Rumah Tangga

9 Penyebab Kulkas Berbunyi Dengung, Lengkap Panduan Rawat Elektronik Rumah Tangga

Lifestyle | Rabu, 24 Juni 2026 | 20:38 WIB

Berapa Suhu AC Ideal agar Tidak Boros Listrik? Ini Trik biar Tagihan Tetap Hemat

Berapa Suhu AC Ideal agar Tidak Boros Listrik? Ini Trik biar Tagihan Tetap Hemat

Lifestyle | Rabu, 24 Juni 2026 | 20:10 WIB

3 Serbuk Anti-Sumbat Saluran Air, Solusi Pipa Mampet Akibat Rambut

3 Serbuk Anti-Sumbat Saluran Air, Solusi Pipa Mampet Akibat Rambut

Lifestyle | Rabu, 24 Juni 2026 | 20:06 WIB

5 Air Cooler yang Dingin dan Hemat Listrik, Bikin Ruangan Sejuk Maksimal

5 Air Cooler yang Dingin dan Hemat Listrik, Bikin Ruangan Sejuk Maksimal

Lifestyle | Rabu, 24 Juni 2026 | 19:50 WIB

3 Skincare Marina Bright Booster Harga Rp20 Ribuan, Pengguna Akui Ampuh Cerahkan Wajah

3 Skincare Marina Bright Booster Harga Rp20 Ribuan, Pengguna Akui Ampuh Cerahkan Wajah

Lifestyle | Rabu, 24 Juni 2026 | 19:45 WIB

Gaji UMR Beli Sepatu Running Apa? Ini 3 Pilihan Terbaik Versi Dokter Tirta

Gaji UMR Beli Sepatu Running Apa? Ini 3 Pilihan Terbaik Versi Dokter Tirta

Lifestyle | Rabu, 24 Juni 2026 | 19:15 WIB