Facebook: Semakin Aman dan Sederhana Sebuah Konten, Semakin Diminati Publik

Risna Halidi | Dini Afrianti Efendi
Facebook: Semakin Aman dan Sederhana Sebuah Konten, Semakin Diminati Publik
Ilustrasi Facebook. [Austin Distel/Unsplash]

Banyak orang atau konten kreator memilih menggunakan bahasa yang sensasional untuk membuat kontennya ditonton atau dibaca dan menjadi viral.

Suara.com - Banyak orang atau konten kreator memilih menggunakan bahasa yang sensasional untuk membuat kontennya ditonton atau dibaca dan menjadi viral. Tapi menurut hasil penelitian, trik tersebut justru menunjukkan hasil yang sebaliknya.

Lewat sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan peneliti Facebook, ditemukan bahwa konten yang menggunakan bahasa yang 'aman' dan tidak sensasional justru mendapatkan interaksi yang lebih tinggi di media sosial Facebook.

Konten yang termasuk artikel dengan bahasa 'aman' ini, sesuai dengan panduan pencegahan bunuh diri, seperti misalnya menambahkan informasi layanan hotline pencegahan bunuh diri. Konten tersebut biasanya akan memiliki rating pembaca yang bisa bertambah hingga 19 persen.

"Misalnya jika sebuah artikel sebelumnya tidak menyertakan layanan hotline bunuh diri, saat mereka menambahkan informasi tersebut maka peluang artikel tersebut dibagikan oleh orang yang melihatnya di Facebook akan meningkat hingga sebesar 19 persen," ujar Moira Burke, Research Scientist Facebook dalam acara Workshop Panduan Pelaporan Berita Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Instagram, Kamis (8/10/2020).

Baca Juga: Gagal Selamatkan Nyawa Anak 6 Tahun, Dokter Bunuh Diri

Konten 'aman' itu bagaimana caranya mencegah aksi bunuh diri dan tindak melukai diri sendiri dengan memberikan berbagai pemahaman kesehatan mental, tidak membahas atau publikasi tempat dan metode aksi bunuh diri, terlebih jika bunuh diri dilakukan para pesohor atau publik figur.

Penelitian ini dilakukan CDC untuk memahami dampak pemberitaan bunuh diri di media sosial. Mirisnya ditemukan lebih dari 60 persen artikel berita tentang bunuh diri tidak memberi perlindungan, layanan pencegahan bunuh diri dan bantuan konsultasi kesehatan mental.

Mayoritas konten atau artikel yang ditemukan di Facebook mengandung unsur berbahaya, seperti menyebutkan nama orang yang meninggal 60 persen, menampilkan kata 'bunuh diri' yang mencolok di judul 59 persen, dan menginformasikan detail lokasi bunuh diri 55 persen hingga metode bunuh diri 50 persen.

Penelitian yang dipublikasi di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada 6 Juli 2020 dilakukan dengan cara mengumpulkan 1000 artikel tentang bunuh diri yang paling banyak dibagikan di facebook.

Artikel-artikel ini terbit dalam bahasa Inggris pada 2018, kemudian oleh tim peneliti artikel dievaluasi apakah mengikuti 27 poin panduan yang dibuat para ahli pencegahan bunuh diri, dan apakah menghindari 18 unsur berbahaya dalam artikel.

Baca Juga: Pandemi Covid-19 Diprediksi Bikin Angka Bunuh Diri Meroket

Komentar