Suara.com - Pernahkah Anda mendengar istilah desa wisata? Ya betul, desa wisata merupakan salah satu program kerja Presiden Joko Widodo dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat lewat jalur ekonomi kreatif di bidang pariwisata.
Wacana soal desa wisata bersertifikasi kemudian ditegaskan lagi oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, saat ia bertemu Komisi X DPR, beberapa waktu lalu. Ia menargetkan ada 26 desa wisata dengan sertifikasi berkelanjutan pada 2021.
"Ini akan menjadi perhatian khusus dari kami, karena desa wisata menggerakkan ekonomi masyarakat, UMKM, menciptakan lapangan kerja, dan untuk pelestarian lingkungan yang merupakan hal penting," ujarnya saat itu.
Di tengah rutinitas dan kesibukan masyarakat secara umum, desa wisata ditawarkan dengan konsep asli, yaitu pemandangan alam yang hijau, udaranya yang sejuk, permukiman penduduk yang disesuaikan dengan kearifan lokal, hingga sajian budaya dan kulinernya yang pasti jarang dicicipi sebelumnya.
Selama ini, desa wisata lebih banyak menarik minat turis mancanegara, namun sekarang, keadaan berubah. Masyarakat lokal yang jenuh dengan kebisingan kota, juga mulai tertarik dengan gaya wisata ini.
Nah, soal desa wisata, Indonesia memiliki banyak lokasi yang patut dibanggakan. Keragaman budaya negeri ini menjadi salah satu kekuatan , sehingga melahirkan desa-desa wisata yang bisa dikunjungi.
Namun dari berbagai desa wisata yang tersebar di Indonesia, Menparekraf pernah menyebut, ada 3 desa wisata yang paling layak dikunjungi dan bisa Anda masukkan dalam agenda liburan Anda tahun ini. Berikut 3 desa wisata rekomendasi Sandiaga Uno:
Desa Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Sade merupakan salah satu dusun di desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Dusun ini dikenal sebagai dusun yang mempertahankan adat suku Sasak, yang telah mendiami kawasan itu selama 15 generasi.
Saat berkunjung ke sana, wisatawan dapat melihat penduduk suku Sasak menenun kain atau menampilkan tarian khas. Mereka bisa juga menyaksikan kegiatan warga setempat yang masih memegang teguh budaya.
Warga Desa Sade memiliki kebiasaan unik, yaitu mengepel lantai dengan kotoran kerbau. Dahulu, ketika belum ada semen, masyarakat Sasak Sade mengoleskan kotoran kerbau di alas rumah. Sekarang sebagian besar masyarakatnya sudah menggunakan semen, yang baru kemudian diolesi kotoran kerbau. Konon dengan cara begitu, lantai rumah dipercaya lebih hangat dan dijauhi nyamuk.
Desa Osing Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur
Penghuni Desa Kemiren adalah masyarakat Suku Osing, yang berbeda dengan masyarakat suku Jawa pada umumnya. Suku asli Osing merupakan pemeluk agama Hindu Blambangan yang masih tersisa. Mulanya, desa ini adalah sebuah sawah dan hutan yang dimiliki oleh penduduk Desa Cungking. Penduduk desa inilah yang dinamakan Suku Osing.
Pada tahun 1830, tepatnya pada masa penjajahan Belanda, lahirlah Desa Kemiren yang kemudian dihuni oleh masyarakat Suku Osing. Seiring waktu, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menetapkan Desa Kemiren sebagai cagar budaya dan desa wisata.
Salah satu yang menarik wisatawan ke sana adalah aktivitas warga. Turis bisa menyaksikan mereka bercocok tanam, memanen padi, menumbuk padi, dan lainnya. Para turis juga bisa menikmati tarian khas Suku Osing, yaitu Tari Gandung Pesona yang biasanya dimainkan di Sanggar Ganjah Arum. Selain itu, Anda juga bisa menemukan Angklung Paglak setinggi 10 meter yang terbuat dari bambu.
Desa Wisata Adat Osing Kemiren menjadi salah satu dari 16 Desa Wisata penerima piagam penghargaan Sertifikasi Desa Wisata berkelanjutan tahun 2020, yang diserahterimakan oleh Menparekraf belum lama ini.
Desa Liang Ndara, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur
Desa Adat Liang Ndara layak Anda kunjungi jika Anda ke Labuan Bajo. Desa ini terletak di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT, sekitar 20 kilometer dari Kota Labuan Bajo. Di sini Anda akan disambut dengan Tarian Caci, yang merupakan adu ketangkasan antara dua laki-laki dengan menggunakan cambuk dan perisai. Mereka akan mencambuk dan menangkis secara bergantian.