alexametrics

Jadi Konsumen Cerdas, Ini Cara Cegah Penipuan dan Data Pribadi Bocor saat Belanja Online

M. Reza Sulaiman | Dini Afrianti Efendi
Jadi Konsumen Cerdas, Ini Cara Cegah Penipuan dan Data Pribadi Bocor saat Belanja Online
Ilustrasi Belanja Online. (freepik)

Tren belanja online semakin meningkat di masa pandemi, sehingga menjadi konsumen cerdas sangat diperlukan, dengan cara meningkatkan literasi platfrom digital.

Suara.com - Tren belanja online semakin meningkat di masa pandemi, sehingga menjadi konsumen cerdas sangat diperlukan, dengan cara meningkatkan literasi platfrom digital.

Salah satu cara menjadi konsumen cerdas yaitu harus waspada pada penipuan. Sebagaimana yang diungkap online business expert Michael Sugiharto yang mengatakan konsumen untuk tidak mudah percaya dengan harga yang terlalu murah.

Michael menyarankan untuk membandingkan harga dengan lapak lainnya, pastikan tidak jauh berbeda. Selanjutnya, perhatikan perilaku penjual.

"Jika berniat menipu, biasanya penjual memaksa pembeli untuk segera membayar. Pembeli juga dapat memastikan jejak digital penjual, contohnya dengan pengecekan nomor rekening penjual di situs milik Kominfo, cekrekening.id," ujar Michael dalam siaran pers Allianz Life Indonesia, Selasa (28/9/2021).

Baca Juga: Maraknya Kebocoran Data Mengancam Perekonomian Indonesia

Ilustrasi Belanja Online. (freepik)
Ilustrasi Belanja Online. (freepik)

Selain itu, meningkatnya tren transaksi online, pembeli juga wajib waspadai ancaman kebocoran data saat belanja online.

Seperti yang dijelaskan Pengamat IT sekaligus CEO & Chief Digital Forensic Indonesia, Ruby Alamsyah, bahwa kebocoran bisa terjadi akibat pihak peladen atau pengguna. Selain pihak aplikasi, pengguna perlu mengamankan data dan akunnya.

"Pengguna sebaiknya mencari tahu jenis autentifikasi aplikasi yang diunduh, menggunakan kata sandi yang tidak mudah dilacak, serta menghindari pengunduhan aplikasi yang tidak resmi. Selanjutnya, sistem operasi aplikasi gadget dan PC sebaiknya diperbarui secara berkala," papar Ruby.

Beberapa langkah di atas perlu dilakukan masyarakat Indonesia, lantaran kenyamanan, kepraktisan, diskon menarik hingga pembayaran atau transaksi yang jauh lebih mudah kerap membuat konsumen terlena.

Hal ini selaras dengan survei yang dilakukan Bank Indonesia (BI), yang mendapati volume transaksi digital banking terus berkembang, yaitu tumbuh 42,47 persen per tahun, mencapai 553,6 juta transaksi pada Maret 2021.

Baca Juga: Akun Facebook Palsu Makan Korban Warga Sulawesi Barat, Kerugian Puluhan Juta Rupiah

Potensi inilah yang tidak sedikit dimanfaatkan beberapa pihak tidak bertanggungjawab, sehingga literasi platform digital perlu dikuasai masyarakat Indonesia.

Komentar