Hari Kopi Internasional, Ini 5 Cara Agar Kopi Tak Musnah dari Muka Bumi

Vania Rossa

Jum'at, 01 Oktober 2021 | 17:18 WIB
Hari Kopi Internasional, Ini 5 Cara Agar Kopi Tak Musnah dari Muka Bumi
Ilustrasi kopi. (Pexels)

“Berdonasi dan aksi menanam kembali ini sangat penting untuk melindungi lahan perkebunan kopi agar lingkungannya terus terjaga,” kata Puji.

Ia juga mengapresiasi gerakan-gerakan dari para pemilik kedai kopi yang punya kebijakan terkait kelestarian kopi. Misalnya, mereka menetapkan, dengan membeli kopi tertentu berarti konsumen sudah berdonasi untuk menjaga kelestarian kopi Nusantara dan membantu masyarakat petani kopi tersebut. Hanya saja, ia melihat, gerakan tersebut belum terlalu masif. Gerakan dari konsumen juga sangat diharapkan untuk membantu berdonasi, bukan sekadar membeli dan menikmati kopi.

3. Minum kopi lokal ramah lingkungan
Puji bercerita, kopi merupakan sumber penghasilan terbesar masyarakat Flores Manggarai. Lebih dari 50% sumber penghidupan mereka berasal dari kopi. Selain itu, karena kebun kopi di sana dikelola secara agroforest, bukan monokutur, banyak tanaman lain yang tumbuh di lahan mereka termasuk tanaman penaung kopi sebagai sumber pendapatan.
Oleh karena itu, dengan mengonsumsi kopi lokal, berarti kamu sudah membantu kesejahteraan petani. Saat mereka bisa sejahtera dari kopi, maka mereka tidak akan menjual lahan untuk dialih-fungsikan. Kamu pun akan selalu bisa menikmati kopi.

Viki bercerita, sebetulnya harga kopi lokal justru lebih mahal daripada kopi impor. Itu berarti, kopi lokal punya posisi yang sangat bergengsi di dunia perkopian Indonesia.
Kopi impor bisa murah karena negara penghasilnya punya stok berlimpah. Hal ini terjadi karena produktivitas perkebunan yang terbilang baru jauh lebih tinggi daripada perkebunan lama.

Di Indonesia, cerita Viki, masih banyak terdapat perkebunan kopi yang usianya sudah puluhan tahun. Contohnya, pohon-pohon kopi di Flores Manggarai sangat tinggi karena usianya sudah tua.

Jika menengok sejarah kopi di Flores Manggarai, Puji menjelaskan, diperkirakan kopi dibawa oleh para misionaris sekitar tahun 1930. Mereka memperkenalkan kopi sebagai tanaman perkebunan dan mereka menanamnya tanpa pupuk atau pestisida kimia. Seiring waktu, karena mengejar produktivitas, maka kemudian digunakan input-input lain, termasuk bahan kimia.

“Karena kopi merupakan tanaman agroforest, berarti di sekitarnya ada tanaman lain juga. Misalnya, cengkeh dan kemiri. Dengan begitu, tanah di area pohon kopi bisa terkontaminasi. Pupuknya bukan untuk pohon kopi, tapi mengenai pohon kopi. Atau, area perkebunan kopi terkena aliran air dari persawahan yang pakai pupuk kimia. Karena itu, kami sedang mengupayakan agar perkebunan kopi ini dikelola sesuai tata kelola ekologi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, mulai dari budi daya hingga pascapanen,” kata Puji.

4. Kenali asal muasal kopimu

Ilustrasi tanaman kopi. (Pexels)
Ilustrasi tanaman kopi. (Pexels)

Puji menyebutkan, konsumen perlu aware terhadap apa yang mereka konsumsi. Terkait dengan kopi, ia menyarankan agar orang-orang kota juga mengenali dari mana kopi itu berasal, di mana lokasi perkebunannya, kelompok petani mana yang menanamnya, dan siapa nama petaninya.

baca juga

Ia menilai hal ini menjadi penting agar terbangun connectivity. Ketika seseorang punya koneksi dengan kopi tertentu, maka ia dengan senang hati ikut mempromosikan, sekaligus mencari cara untuk membantu pengembangannya.

Viki bercerita, dulu ia menjelaskan soal kopi kepada pelanggan hanya lewat tulisan-tulisan kecil. Para barista di belakang meja tak bisa bercerita banyak tentang asal kopi yang mereka ramu dan sajikan.

Sekarang, lewat media sosial konsumen bisa diajak untuk melihat foto-foto perkebunan yang cantik, dilengkapi keterangan soal ketinggian lahan, misalnya.

“Yang lebih seru, konsumen bisa mendapat cerita langsung dari barista soal asal kopi, juga soal karakter dan cita rasanya yang khas. Seandainya kedai kopi itu memakai kopi house blend (campuran sendiri), konsumen bisa bertanya campuran kopinya apa saja. Ketika pengetahuan akan kopi lokal bertambah, kita jadi bangga minum kopi lokal,” kata Viki.

5. Cicipi berbagai kopi Nusantara
Di Indonesia terdapat banyak sekali daerah perkebunan kopi, dan setiap daerah menghasilkan kopi dengan karakter berbeda. Meski bibitnya sama, karena kelembapan dan kontur tanahnya berbeda, maka karakter kopinya bisa berbeda pula.

Viki mengamati, jarang sekali ada negara yang setiap daerahnya punya kopi. Tidak seperti Indonesia, yang di setiap pulaunya punya daerah penghasil kopi.

Viki menyebutkan, penyebutan jenis kopi di Indonesia umumnya berdasarkan daerah perkebunannya. Misalnya, kopi Kintamani, kopi Malabar, kopi Aceh Gayo, dan kopi Toraja Kalosi.
Padahal, sebenarnya kopi dari suatu pulau itu bermacam-macam. Selain Kintamani, di Bali ada kopi Mengani. Sedangkan di Jawa Barat, selain kopi Malabar, ada kopi Ciwidey, kopi Gunung Puntang, dan kopi Papandayan.

Saatnya #TimeforActionIndonesia. Bagi pencinta kopi, Viki menyarankan untuk mencoba kopi dalam dalam berbagai cita rasa. Misalnya, minggu ini Anda sudah mencicipi kopi Flores Manggarai dengan rasa khas chocolaty. Ketika datang lagi ke kedai kopi, Anda bisa mencoba kopi yang rasanya fruity.
“Bisa dari biji kopi yang berbeda, atau dari biji kopi yang sama tapi diproses dengan cara berbeda. Proses sangrai kopi yang berbeda-beda ini akan menghasilkan cita rasa minuman kopi yang unik,” kata Viki.

Sepakat dengan Viki, Puji mengajak Anda untuk minum beragam kopi Nusantara yang enak-enak.

“Kopi Nusantara sangat beragam. Budaya maupun cita rasanya sangat khas. Jadi, mari kita bersama-sama mempertahankannya. Ada banyak cerita di balik secangkir kopi yang Anda minum,” pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Nepa Mountain, Book & Coffee: Ngopi dengan Suasana Nepal di Jogja

Nepa Mountain, Book & Coffee: Ngopi dengan Suasana Nepal di Jogja

Your Say | Jum'at, 01 Oktober 2021 | 11:32 WIB

Daftar Hari Penting di Oktober 2021, Hari Kopi hingga Hari Pangan

Daftar Hari Penting di Oktober 2021, Hari Kopi hingga Hari Pangan

Sumsel | Jum'at, 01 Oktober 2021 | 08:46 WIB

Mau Coffee Shop Ramai Dikunjungi Anak Muda? Pastikan Ada 5 Hal Ini!

Mau Coffee Shop Ramai Dikunjungi Anak Muda? Pastikan Ada 5 Hal Ini!

Lifestyle | Jum'at, 01 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Terkini

Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu

Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu

Jabar | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:46 WIB

Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama

Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama

Sumsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:32 WIB

Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan

Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan

Lifestyle | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:24 WIB

Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?

Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?

Sumsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:18 WIB

10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas

10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas

Sumsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:07 WIB

Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja

Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja

Sport | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:54 WIB

Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?

Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?

Tekno | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:28 WIB

175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya

175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya

Riau | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:17 WIB

Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?

Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:10 WIB

Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi

Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi

Tekno | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:04 WIB

×