alexametrics

Jalani Multiperan Berisiko Bikin Perempuan Cepat Baper, Ini Solusinya

Risna Halidi | Dinda Rachmawati
Jalani Multiperan Berisiko Bikin Perempuan Cepat Baper, Ini Solusinya
Ilustrasi Perempuan (dok.Unsplash/Mateus Campos)

"Perempuan yang insecure ini akhirnya jadi baperan dan emosi. Melakukan sesuatu hanya untuk menggugurkan kewajiban."

Suara.com - Memiliki peran ganda seperti sebagai seorang ibu, istri dan pekerja dapat menjadi tantangan besar bagi perempuan, terutama di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini. 

Dalam satu waktu perempuan harus dihadapkan pada beberapa pilihan, seperti melayani kebutuhan suami, memenuhi kebutuhan anak atau mengerjakan tugas-tugas di kantor. 

Tentu saja hal tersebut pada akhirnya bisa membuat banyak perempuan merasa kewalahan, yang pada gilirannya memicu stres, tidak nyaman dengan diri sendiri, rasa percaya diri yang hilang dan lainnya.

Hal inilah yang disampaikan Diina Sofia, seorang Empowering Women Trainer dari Tempa Trainers Guild (TTG), dalam diskusi bertajuk 'Wanita Tangguh Tanpa Keluh' yang diinisiasi Desainer Nina Nugroho melalui gerakan #akuberdaya belum lama ini. 

Baca Juga: Dua Rumah Habis Terbakar di Balikpapan Barat, Anak Perempuan Umur 5 Tahun Jadi Korban

"Perempuan yang insecure ini akhirnya jadi baperan dan emosi. Melakukan sesuatu hanya untuk menggugurkan kewajiban."

Webinar bertajuk Wanita Tangguh Tanpa Keluh (Ist)
Webinar bertajuk Wanita Tangguh Tanpa Keluh (Ist)

"Karena berpikirnya simple aja, kan gak dapat apreasiasi dari anak dan suami juga,” urai mantan penyiar asal Lamongan, Jawa Timur ini dalam siaran pers yang Suara.com terima, Selasa (12/10/2021).

Fenomena tersebut bahkan ia temukan saat membuat survei untuk kepentingan pembuatan bukunya yang berjudul "Tangguh Tanpa Keluh". 

Diina menemukan sebanyak 85 persen responden perempuan yang diwawancarainya mengalami 'baper' alias terlalu sensitif akibat ketidak berdayaan dalam menjalankan tugas multi peran.

Selain baper, perasaan iri dan memiliki hidup yang penuh persaingan juga akan dialami perempuan.

Baca Juga: Hari Anak Perempuan Internasional: Remaja, Yuk Lawan Stigma Menstruasi!

"Jadi banyak perempuan-perempuan karena insecure tadi, akhirnya merasa kehidupan orang lain lebih bagus dari dirinya. Kalau ini dibiarkan, bikin capek. Udah kerjaan nggak selesai, tapi justru sibuk memikirkan hidup orang lain. Sehingga hidup menjadi tidak produktif," lanjut Diina lagi.

Komentar