Apa Itu Slow Living? Gaya Hidup yang Kini Dijalani Lulu Tobing

Bimo Aria Fundrika

Senin, 17 Juli 2023 | 12:50 WIB
Apa Itu Slow Living? Gaya Hidup yang Kini Dijalani Lulu Tobing
Potret Lulu Tobing.(Instagram/@lutob)

Suara.com - Baru-baru ini viral sebuah unggahan di Twitter yang menyebut Lulu Tobing kini menjalani hidup slow living. Twit itu pertama kali diunggah oleh @RyuDeka.

"Lulu Tobing adalah wakil dari kami para penganut indahnya ‘Slow Living’ yang tidak punya ambisi berlebih dalam hidup," ujar dia dalam Twitter miliknya.

Dalam video itu ia mengunggah percakapan Lulu Tobing dengan Melaney Ricardo.

"Gue gak ada kerjaan ya gue nikmatin kerjaan gue yang sekarang ini. Gue gak jadi sirik sama orang yang dipuja puja. Gue benar benar hidup gue slow banget, gue gak kompetitif , gue gak ambisius, gue slow, slow banget," ujar Lulu Tobing.

Tapi, apa itu slow living yang dimaksud?

Slow living adalah pola pikir di mana seorang menyusun gaya hidup yang lebih bermakna dan sadar yang sejalan dengan apa yang paling Anda hargai dalam hidup. Demikian seperti dikutip dari situs slow living ldn. 

Slow living juga berart melakukan segalanya dengan kecepatan yang tepat. Alih-alih berusaha melakukan sesuatu dengan lebih cepat, gerakan lambat berfokus pada melakukan sesuatu dengan lebih baik. Seringkali, itu berarti memperlambat, melakukan lebih sedikit, dan memprioritaskan menghabiskan jumlah waktu yang tepat untuk hal-hal yang paling penting bagi kamu.

Sejarah slow living

Slow living adalah bagian dari gerakan lambat yang lebih luas yang dimulai pada 1980-an di Italia. Menghadapi pembukaan McDonald's di jantung kota Roma, Carlo Petrini dan sekelompok aktivis membentuk Slow Food, sebuah gerakan yang mempertahankan tradisi makanan daerah.

baca juga

Gerakan slow food kini memiliki pendukung di lebih dari 150 negara dan terus melindungi tradisi gastronomi, mempromosikan upah yang adil bagi produsen, mendorong kenikmatan makanan berkualitas baik, dan terlibat dalam aktivitas seputar keberlanjutan.

Carl Honoré, salah satu penulis dan pembicara paling terkenal tentang gerakan lambat, membantu membawa konsep hidup lambat ke arus utama pada tahun 2004 dengan menerbitkan bukunya In Praise of Slowness. Honoré mengeksplorasi bagaimana Slow Food memicu gerakan hidup lambat yang lebih luas dengan 'lambat' sekarang diterapkan ke area kehidupan lain yang telah mengalami percepatan besar, termasuk pekerjaan, mengasuh anak, dan rekreasi.

Sejak penerbitan buku, kecepatan hidup kita terus meningkat, begitu pula kesadaran akan gerakan hidup yang lambat. Saat ini, perjalanan yang lambat, mode yang lambat, kebugaran yang lambat, berkebun yang lambat, interior yang lambat, desain yang lambat, pemikiran yang lambat, berita yang lambat, dan kerja yang lambat adalah contoh cabang lebih lanjut dari gerakan hidup yang lambat. Semakin banyak orang mengakui bahwa lebih cepat tidak selalu lebih baik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gaya Hidup Slow Living: Mengatur Ritme Hidup agar Lebih Tenang

Gaya Hidup Slow Living: Mengatur Ritme Hidup agar Lebih Tenang

Your Say | Rabu, 10 Mei 2023 | 17:53 WIB

Slow Living 101: Pengertian, Manfaat, dan Cara Penerapannya

Slow Living 101: Pengertian, Manfaat, dan Cara Penerapannya

Lifestyle | Kamis, 29 September 2022 | 16:30 WIB

Menerapkan Slow Living di Tengah Geliat Zaman yang Serba Cepat

Menerapkan Slow Living di Tengah Geliat Zaman yang Serba Cepat

Lifestyle | Kamis, 18 Juli 2019 | 12:00 WIB

Terkini

Jawa Barat Sumbang 12 Persen untuk Penjualan Yamaha Nasional, NMax dan Aerox Jadi Andalan

Jawa Barat Sumbang 12 Persen untuk Penjualan Yamaha Nasional, NMax dan Aerox Jadi Andalan

Otomotif | Minggu, 26 Juli 2026 | 14:29 WIB

Flek Hitam di Wajah Karena Apa? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Flek Hitam di Wajah Karena Apa? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Lifestyle | Minggu, 26 Juli 2026 | 14:25 WIB

Eksklusivitas Komunitas Lari WNA di Bali: Menggugat Kedaulatan Ruang Publik Kita

Eksklusivitas Komunitas Lari WNA di Bali: Menggugat Kedaulatan Ruang Publik Kita

Your Say | Minggu, 26 Juli 2026 | 14:23 WIB

Polemik Londo Ireng: Ketika Kritik Media Dibalas Stigma dari Penguasa

Polemik Londo Ireng: Ketika Kritik Media Dibalas Stigma dari Penguasa

Your Say | Minggu, 26 Juli 2026 | 14:20 WIB

Blokade Laut AS ke Iran Masih Berlaku, Pasukan Donald Trump Siaga Tempur

Blokade Laut AS ke Iran Masih Berlaku, Pasukan Donald Trump Siaga Tempur

News | Minggu, 26 Juli 2026 | 14:05 WIB

Pemerintah Punya Tiga Opsi Hadapi Tekanan Fiskal, Salah Satunya Tambah Utang

Pemerintah Punya Tiga Opsi Hadapi Tekanan Fiskal, Salah Satunya Tambah Utang

Bisnis | Minggu, 26 Juli 2026 | 14:00 WIB

Memahami Zeus's Law dalam Film The Odyssey, Penyederhanaan Xenia Epos Homer

Memahami Zeus's Law dalam Film The Odyssey, Penyederhanaan Xenia Epos Homer

Your Say | Minggu, 26 Juli 2026 | 13:50 WIB

Belum Ada Kuota Khusus, Penyandang Disabilitas Tertinggal di Program Andalan Prabowo

Belum Ada Kuota Khusus, Penyandang Disabilitas Tertinggal di Program Andalan Prabowo

News | Minggu, 26 Juli 2026 | 13:45 WIB

Houthi Serang 'Tambang' Arab Saudi, Harga Minyak Hampir 100 Dolar AS per Barel

Houthi Serang 'Tambang' Arab Saudi, Harga Minyak Hampir 100 Dolar AS per Barel

Bisnis | Minggu, 26 Juli 2026 | 13:36 WIB

Bisakah Laut Serap Lebih Banyak Karbon? Ilmuwan Uji Cara Baru Hadapi Perubahan Iklim

Bisakah Laut Serap Lebih Banyak Karbon? Ilmuwan Uji Cara Baru Hadapi Perubahan Iklim

News | Minggu, 26 Juli 2026 | 13:30 WIB

×