Becermin dari Tangisan Bawang Putih: Pangan Lokal, Pangan yang Berdaulat

Yohanes Endra, Yulia Rosdiana Putri

Minggu, 03 November 2024 | 21:42 WIB
Becermin dari Tangisan Bawang Putih: Pangan Lokal, Pangan yang Berdaulat
Rak-rak berisi pangan lokal di toko kelontong dan kedai Bhumi Bhuvana, Yogyakarta (Suara.com/Yulia Rosdiana Putri)

Suara.com - Congklak dikeluarkan dari tempat peristirahatan. Bukan kelereng atau kerikil yang mengajak kami bersenang-senang di tengah kelumit kehidupan.

Dijinjing perlahan lalu disajikan di atas meja, congklak tua dengan lubang berjumlah 16 ini mengusik pikiran kami. Membuat kami mempertanyakan apakah kami benar-benar mengenal tanah air kami, Indonesia.

Ketakutan akan kegagalan menggema dalam diri saya, dan mungkin dalam diri seorang perempuan dan seorang laki-laki di sisi kanan kiri saya. Namun tepat di hadapan kami, perempuan berhidung lancip bernama Bukhi Prima Putri tersenyum manis, menatap dengan sorot kelembutan, menanti jawaban kami.

Sebagai pemilik dari Bhumi Bhuvana (Sansekerta: bhumi =  bumi, bhuvana = semesta), bersama kucing kesayangan, Kokom, Bukhi tak sekadar tampil bak seorang tuan atas tanah yang kami pijaki, melainkan seorang rakyat yang mengabdi untuk mencari, mengumpulkan, mencatat, hingga mengolah aneka sumber daya pangan di Indonesia.

Mungkin dari situ lah ketenangan saya mulai terusik. Berhadapan dengan lebih dari 16 sumber pangan yang berlindung di atas lubang-lubang congklak, saya hanya mampu mengidentifikasi bawang putih, bunga lawang, dan cengkeh.

Bawang putih saja, menyisakan kisah yang saya yakin tak semua orang memiliki kemauan untuk membuka lembarannya. Bawang putih yang disodorkan kepada kami adalah bukti bahwa apa yang menjadi lokal telah teriris oleh apa yang menjadi praktis.

Bawang putih yang sebagian besar ditemukan di pasar, dibeli setiap harinya, dielu-elukan jadi rempah wajib bagi masakan-masakan Indonesia, bukan lah milik kita. Bawang putih ‘kita’ memiliki ukuran yang jauh lebih kecil, yang rasa dari satu siungnya bisa setara dengan tiga atau empat siung bawang putih impor yang biasa dikonsumsi.

Saya pun mengambil langkah untuk membuktikannya. Diiringi dengan keengganan, saya memasukkan setengah siung bawang putih lokal ke dalam mulut dan dibuat terkejut dengan rasa yang kuat, sedikit pedas, dan lebih renyah. Rasa yang diperoleh usai saya bersama perempuan di samping kanan saya menghabiskan waktu lama, bergulat menghadapi kulit si bawang putih yang tak mudah dipisahkan dari dagingnya.

Saat itu lah, ucapan dari Bukhi membuat mata saya terbuka. Masalah utama di balik kekalahan bawang putih lokal tidak terletak pada persoalan rasa, melainkan kepraktisan. Masyarakat Indonesia cenderung memilih bawang putih lokal, yang selain ukurannya lebih besar, juga lebih mudah untuk dikupas.

baca juga

“Yang membuat dia (bawang putih lokal) jarang dijual karena orang malas mengupasnya (bawang putih berukuran lebih kecil),” ujar Bukhi di sela-sela percobaan saya menikmati satu siung bawang putih lokal.

Meski begitu, sebuah titik terang disertakan oleh Bukhi, bagi masyarakat terutama warga Yogyakarta yang ingin mencoba memasak atau sekadar mencicipi bawang putih lokal. 

“Yang masih ada itu pasar-pasar di area Gunung Kidul, di Beringharjo aja udah nggak ada. Di Temanggung, masih ada,” terang Bukhi.

Pedagang merapikan bawang putih dagangannya di Pasar Raya Medan Mega Trade Center (MMTC), Deli Serdang, Minggu (19/5/2024). [Antara]
Bawang putih di Pasar Raya Medan Mega Trade Center (MMTC), Deli Serdang [Antara]

Persoalan mengenai lenyapnya popularitas bawang putih lokal ini juga disampaikan oleh Dwi Indriyati, pendiri sekaligus pemilik dari bulkstore (toko curah) pertama di Yogyakarta, Peony Ecohouse.

Tepat di pojok atas paling kiri dari rak kedua, saya menemukan sebuah toples bertuliskan bubuk bawang putih. Kendati tak penuh, bubuk tersebut adalah hasil tangan dari seorang Dwi Indriyati yang dibuatnya dari bawang putih lokal alih-alih impor.

Memandang saya, bubuk dalam toples tersebut seolah bersuara mengenai keputusasaan yang dialami para petani bawang putih lokal. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terima Kasih Pak Jokowi: Pernah Ingatkan Ancaman Krisis Pangan, tapi...

Terima Kasih Pak Jokowi: Pernah Ingatkan Ancaman Krisis Pangan, tapi...

Your Say | Senin, 21 Oktober 2024 | 13:09 WIB

Mardiono Siapkan Transisi Kepemimpinan Soal Pengentasan Kemiskinan dan Ketahanan Pangan

Mardiono Siapkan Transisi Kepemimpinan Soal Pengentasan Kemiskinan dan Ketahanan Pangan

Bisnis | Rabu, 09 Oktober 2024 | 06:28 WIB

Pertamina EP Adera Field Dorong Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten PALI

Pertamina EP Adera Field Dorong Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten PALI

Bisnis | Senin, 30 September 2024 | 16:14 WIB

Terkini

Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri

Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:28 WIB

Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok

Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:12 WIB

Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya

Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya

Bola | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:10 WIB

Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok

Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok

Bogor | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:05 WIB

Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI

Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:03 WIB

Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan

Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:00 WIB

Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator

Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator

Banten | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:55 WIB

Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan

Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:49 WIB

Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!

Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:37 WIB

BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan

BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan

Bri | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:28 WIB

×