Guru di Malaysia Geram, Karangan Siswanya Kok Dipenuhi Bahasa Indonesia? Ini Penyebabnya

Dinda Rachmawati

Senin, 07 Juli 2025 | 14:32 WIB
Guru di Malaysia Geram, Karangan Siswanya Kok Dipenuhi Bahasa Indonesia? Ini Penyebabnya
Viral Guru Malaysia Kesal Siswa Menulis Karangan dengan Bahasa Indonesia (TikTok/cikgugja)

Suara.com - Media sosial tengah ramai memperbincangkan sebuah video dari akun TikTok @cikgugja, yang menampilkan seorang guru bernama Azizah, atau akrab disapa Cikgu Gja, mengeluhkan fenomena baru di ruang kelas. 

Guru tersebut menyampaikan kekesalannya setelah mendapati banyak siswanya menulis karangan sekolah dalam campuran Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia.

Dalam video tersebut, Cikgu Gja tampak heran dan cukup kesal saat membaca hasil tulisan siswanya yang dipenuhi kata-kata seperti “berencana”, “rumah sakit”, dan “teman-teman”. Ia berkata dengan ekspresi bingung,

“Cikgu jadi macam, ih apa nih? Perkataan yang cikgu jumpa, merencanakan. Berencana. Rumah sakit. Teman,” ungkap dia seperti Suara.com kutip pada Senin (7/7/2025).

Menurut Cikgu Gja, kata-kata seperti teman sebenarnya memang ada dalam Bahasa Melayu, tetapi penggunaannya tidak seumum kata kawan atau rakan dalam konteks pendidikan di Malaysia.

“Kami pergi berskelah bersama kawan-kawan. Bersama rakan-rakan. Ini bersama teman-teman? Nampak sangatlah dia memang guna Bahasa Indonesia,” ujarnya dengan nada prihatin.

Ia menilai bahwa fenomena ini bukan kesalahan anak-anak semata, melainkan karena kuatnya pengaruh konten digital dari luar negeri, terutama dari negara serumpun, Indonesia, yang ditonton anak-anak setiap hari.

“Banyak yang cikgu jumpa dalam kalangan awak ini. Apa? Kurang-kurang sikit tengok konten Indonesia itu. Jangan terbawa-bawa dalam cerita awak itu dengan Bahasa Indonesia. Salah,” tambahnya.

Dalam keterangannya, Cikgu Gja menegaskan bahwa tegurannya bukan bermaksud merendahkan Bahasa Indonesia. Ia justru menghargai Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang indah dan kaya budaya. 

baca juga

Namun, dalam konteks tugas sekolah yang mengikuti kurikulum Malaysia, para siswa harus belajar menggunakan Bahasa Melayu yang tepat.

“Video ini bukan untuk hina mana-mana bahasa atau negara. Saya hormat Bahasa Indonesia. Tapi dalam karangan sekolah, murid perlu guna Bahasa Melayu yang betul, ikut silibus Malaysia,” katanya.

Cikgu Gja juga menyampaikan pesan penting kepada orang tua agar lebih memperhatikan apa yang dikonsumsi anak-anak di media sosial dan YouTube.

“Cikgu bebel bukan suka-suka. Tolong ya ibu bapa. Pantau konten yang anak-anak tengok. Sebab sekarang karangan murid penuh perkataan macam berencana, teman-teman, rumah sakit. Apa yang mereka tengok, itulah yang mereka tulis,” tambahnya lagi. 

Video ini segera viral dan memicu diskusi hangat, bahkan hingga ke netizen Indonesia. Sebagian besar warganet mendukung sikap Cikgu Gja dan memahami keresahannya sebagai seorang pendidik.

“Dia memposisikan dirinya sebagai guru atau cikgu. Dia pendidik. Wajar cikgu kesal atas itu, karena beliau mengajarkan Bahasa Melayu. Saya juga pasti demikian kalau sudah seperti kasus ini. Semangat, cikgu!,” ujar @fol****.

Seorang netizen Indonesia dengan akun @car**** juga membenarkan posisi sang guru.

“Wajar nggak sih dia marah? Ya kalau orang Indonesia juga pasti marah lah kalau anak-anaknya pakai bahasa lain di pelajaran resmi. Itu soal pelestarian,” tambah dia.

Bahkan ada yang membagikan pengalamannya sendiri di kolom komentar.

“HELP!! THIS IS REAL Pening baca karangan murid full dengan Bahasa Indonesia,” tulis @Eyn****.

Konten Digital dan Tantangan Bahasa di Era Global

Fenomena ini menggambarkan tantangan nyata di dunia pendidikan di era digital. Di satu sisi, keterbukaan informasi dan akses ke konten luar negeri memberi wawasan dan hiburan yang luas bagi anak-anak. 

Namun di sisi lain, tanpa bimbingan yang tepat, hal ini dapat mengaburkan batas-batas identitas bahasa dan budaya mereka. Sebagai negara serumpun, Malaysia dan Indonesia memang memiliki bahasa yang mirip. 

Namun, masing-masing memiliki kaidah dan struktur yang berbeda, terutama dalam konteks pendidikan formal. Ketika siswa Malaysia terbiasa menyerap istilah dalam Bahasa Indonesia dari sinetron, drama, TikTok, atau YouTube, mereka bisa saja menggunakannya tanpa sadar dalam konteks yang tidak sesuai.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Viral Mobil Dinas Propam Tapsel Disebut Tabrak Lari-Dikemudikan Anak di Bawah Umur di Medan

Viral Mobil Dinas Propam Tapsel Disebut Tabrak Lari-Dikemudikan Anak di Bawah Umur di Medan

News | Senin, 07 Juli 2025 | 13:54 WIB

Tusuk 3 Pesilat Saat Dikeroyok, Pengakuan Ojol Viral: Kalau Diam, Saya Mati

Tusuk 3 Pesilat Saat Dikeroyok, Pengakuan Ojol Viral: Kalau Diam, Saya Mati

News | Senin, 07 Juli 2025 | 13:53 WIB

KFC Jual Saham Anak Usaha ke Perusahaan Haji Isam Meski Dinilai "Tidak Wajar"

KFC Jual Saham Anak Usaha ke Perusahaan Haji Isam Meski Dinilai "Tidak Wajar"

Bisnis | Senin, 07 Juli 2025 | 11:16 WIB

Terkini

Indonesia Tidak Lagi Dijajah Belanda, Lalu Mengapa Gerpolek Masih Relevan?

Indonesia Tidak Lagi Dijajah Belanda, Lalu Mengapa Gerpolek Masih Relevan?

Your Say | Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:10 WIB

Wamensesneg Soroti Temuan MK Soal Ijazah Gibran: Bukan Tidak Ada, Tapi Belum Diketemukan

Wamensesneg Soroti Temuan MK Soal Ijazah Gibran: Bukan Tidak Ada, Tapi Belum Diketemukan

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:09 WIB

Beredar Daftar Patokan Sumbangan ASN, PMI DKI Jakarta Bakal Telusuri Aliran Bulan Dana

Beredar Daftar Patokan Sumbangan ASN, PMI DKI Jakarta Bakal Telusuri Aliran Bulan Dana

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:08 WIB

Masih Negosiasi dengan AFC, I.League Kejar Slot Asia untuk Juara League Cup 2026/2027

Masih Negosiasi dengan AFC, I.League Kejar Slot Asia untuk Juara League Cup 2026/2027

Bola | Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:05 WIB

Cara Memakai Viva Milk Cleanser dan Face Tonic yang Benar, Ternyata Ada 4 Langkah

Cara Memakai Viva Milk Cleanser dan Face Tonic yang Benar, Ternyata Ada 4 Langkah

Lifestyle | Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:05 WIB

Hilirisasi Nikel Digenjot, 11 Proyek Rp180 Triliun Resmi Diluncurkan

Hilirisasi Nikel Digenjot, 11 Proyek Rp180 Triliun Resmi Diluncurkan

Bisnis | Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:02 WIB

Promo BRI untuk Pembelian iPhone 18 di iBox dan Eraphone, Ada Diskon Jutaan!

Promo BRI untuk Pembelian iPhone 18 di iBox dan Eraphone, Ada Diskon Jutaan!

Bri | Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:01 WIB

Bongkar Polemik Ijazah Gibran, Pakar UMY: Pintu Masuk Pidananya Ada di Kementerian Pendidikan

Bongkar Polemik Ijazah Gibran, Pakar UMY: Pintu Masuk Pidananya Ada di Kementerian Pendidikan

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:01 WIB

Ijazah SMA Gibran Jadi Sorotan, Jokowi: Yang Penting Mas Wapres Sudah Selesaikan S1

Ijazah SMA Gibran Jadi Sorotan, Jokowi: Yang Penting Mas Wapres Sudah Selesaikan S1

Video | Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:00 WIB

Kabut Asap Makin Parah, Anwar Ibrahim Telepon Prabowo Desak Indonesia Lakukan Ini

Kabut Asap Makin Parah, Anwar Ibrahim Telepon Prabowo Desak Indonesia Lakukan Ini

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:57 WIB

×