Kembali ke Akar, Cerita Hamzah Sarjana Kehutanan yang Memilih Bertani Kopi di Desa Kahayya

Rendy Adrikni Sadikin

Senin, 07 Juli 2025 | 16:34 WIB
Kembali ke Akar, Cerita Hamzah Sarjana Kehutanan yang Memilih Bertani Kopi di Desa Kahayya
Hamzah, sarjana fakultas kehutanan, kembali ke Desa Kahayya, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Sulawesi Selatan, untuk membersamai orangtua dan bertani kopi.(Dokumentasi Pribadi)

Suara.com - Kota memang menjanjikan beragam kemudahan dan kesempatan. Status sosial hingga ekonomi pun bisa meningkat. Tapi, hiruk-pikuk kota tidak membuat Hamzah, 29 tahun, bergeming. Di saat anak-anak muda berlomba untuk ‘menantang’ kehidupan kota, Hamzah malah kembali ke desa: Tujuannya ada dua: bertani kopi dan lebih dekat dengan keluarga.

Lulusan S1 fakultas kehutanan ini emoh menetap setelah bertahun-tahun mencicipi hiruk pikuk Kota Makassar dan Kabupaten Morowali, Sulawesi Selatan. Dia memilih kembali ke kampung di Desa Kahayya, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, untuk menghidupkan kembali ladang kopi peninggalan orang tuanya.

Di Kota Makassar, Hamzah menimba ilmu di salah satu universitas. Sambil mencicipi bangku kuliah, dia pun bekerja sebagai operator dan desain bordir. Bertahun-tahun di Kota Makassar, Hamzah pun memutuskan untuk pindah kerja di Kabupaten Morowali. Namun, putusan terbesarnya adalah ketika kembali ke desa untuk bertani kopi. 

Ya, keputusan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Dia menyudahi 12 tahun masa perantauan di luar Desa Kahayya hanya demi keinginan lebih dekat dengan keluarga. Apalagi, orangtua Hamzah di desa sudah beranjak tua. Tentunya, butuh perhatian Hamzah. Kekinian, sudah hampir 3 tahun dirinya menetap di desa untuk bertani kopi.

“Saya sempat kerja di Makassar, lalu ke Morowali. Sekitar 2-3 tahun terakhir, saya kembali ke Kahaya untuk bertani kopi. Saya meninggalkan kota dan kembali ke desa karena ingin lebih dekat kepada keluarga. Selain orangtua yang lumayan tua, saya menyadari hasil kopi lumayan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Hamzah saat ditemui, beberapa waktu lalu.

Menurut Hamzah, penghasilan yang didapat baik dari kota maupun di desa sejatinya tidak berbeda jauh. Bahkan, kata dia, jumlah penghasilannya relatif sama. Tapi yang membedakan, tentunya intensitas pendapatannya. Di kota, dia mendapatkan pendapatan bulanan. Di desa, berbeda. Dia memantik penghasilan per musim dari kopi.

“Pendapatan dari kopi dengan dari pekerjaan di kota, nominalnya hampir sebanding. Cuma kan kalau kerja di kota itu pendapatannya per bulan. Sementara, kopi itu (pendapatannya) per musim. Tapi kalau untuk angkanya, ya sebandung. Di sisi lain, kalau di sini (Desa Kahayya) kan sudah dekat sama keluarga,” terang Hamzah.

Menanam Kopi, Merawat Warisan Keluarga

Langkah Hamzah kembali ke desa memang bukan sekadar romantisme masa lalu. Tapi, langkah tersebut merupakan keputusan sadar untuk menjaga warisan keluarga–berupa tanah ladang–sekaligus membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.

Orangtua Hamzah mewarisi sekitar 3 hektare ladang. Tanah tersebut dibagikan ke Hamzah dan 6 saudaranya. Wasiatnya hanya ingin agar tanah yang kosong tersebut, ditanami kembali. Kekinian, Hamzah sudah memenuhi wasian orangtua tersebut. Kurang lebih 1 hektare tanah ladang sudah ditanami kopi oleh Hamzah.

baca juga

“Saya ada tujuh bersaudara, jadi tanah itu dibagi. Ada wasiat dari orangtua agar lahan yang kosong ditanam kembali. Sekarang, saya sudah menanam kurang dari 1 hektare. Memang belum sepenuhnya karena saya baru tinggal di desa,” terang Hamzah.

Kopi memang bukan benda yang asing bagi keluarga Hamzah. Selama beberapa generasi, kopi menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga Hamzah. Ia mengenang bagaimana kehidupan di Desa Kahayya sejak dulu selalu berkaitan erat dengan tanaman kopi. Dari nenek moyang hingga orangtua Hamzah, semuanya mayoritas petani kopi.

“Kalau di kopi, sebenarnya orangtua dan nenek moyang itu mayoritas petani kopi. Sudah lama terjun ke pertanian kopi. Jadi, meski merantau atau keluar sekolah saat pagi, tetap kita terjunnya ke kebun kopi. Namun, saat ini orangtua lebih banyak di rumah. Saya yang turun ke ladang,” ujar Hamzah.

Nggak cuma itu, Hamzah pun mengaku mendapatkan ilmu tentang kopi dari keluarganya. Saban hari. Hamzah bersama orangtua dan keluarga lainnya dibiasakan untuk turun ke kebun. Selama itu, dia kerap melihat aktivitas keluarganya di ladang, dari mulai menanam, memetik merah hingga proses lain terkait kopi.

Tanaman kopi organik di wilayah daerah aliran sungai (DAS) Balantieng, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.(Dokumentasi pribadi)
Tanaman kopi organik di wilayah daerah aliran sungai (DAS) Balantieng, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.(Dokumentasi pribadi)

Mengutip laman Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, petik merah yakni memanen buat kopi yang sudah memerah. Keuntungannya yakni mutu buahnya bagus sehingga biji kering bermutu baik. Petik merah memiliki tantangan yakni harus mengejar kematangan yang tepat. Buah kopi tidak akan dibiarkan terlewat masak dan yang belum masak tidak akan dipetik.

Nah, dalam proses bertani, Hamzah tak sendiri. Ia mendapatkan dukungan dari program Global Environment Facility (GEF) Small Grants Programme (SGP) Indonesia yang memberikan pelatihan dan pendampingan. Program ini memperkenalkannya pada praktik pertanian berkelanjutan dan pengolahan kopi berkualitas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Novel Kedai Bunga Kopi: Kisah Inspiratif Perempuan dan Aroma Perjuangan

Novel Kedai Bunga Kopi: Kisah Inspiratif Perempuan dan Aroma Perjuangan

Your Say | Kamis, 03 Juli 2025 | 07:38 WIB

Rekomendasi 5 Resto Mirip Kopi Klotok, Suasana Masih Sepi Tanpa Antri

Rekomendasi 5 Resto Mirip Kopi Klotok, Suasana Masih Sepi Tanpa Antri

Lifestyle | Sabtu, 28 Juni 2025 | 12:03 WIB

Jadi Produsen Kopi Terbesar ke-4 Dunia, Pemerintah Janji Sejahterakan Petani

Jadi Produsen Kopi Terbesar ke-4 Dunia, Pemerintah Janji Sejahterakan Petani

Bisnis | Kamis, 26 Juni 2025 | 08:28 WIB

Cerita Serikat Perempuan di Bajiminasa, Menanam Asa untuk Sungai Balantieng

Cerita Serikat Perempuan di Bajiminasa, Menanam Asa untuk Sungai Balantieng

Lifestyle | Rabu, 25 Juni 2025 | 15:40 WIB

Kopi Bikin Awet Muda? Studi Harvard Buktikan Manfaat Tak Terduga

Kopi Bikin Awet Muda? Studi Harvard Buktikan Manfaat Tak Terduga

Your Say | Minggu, 22 Juni 2025 | 15:35 WIB

Terkini

Semangat Kemerdekaan, Bank Sumsel Babel Perkuat Komitmen Membangun Daerah yang Berdaulat dan Makmur

Semangat Kemerdekaan, Bank Sumsel Babel Perkuat Komitmen Membangun Daerah yang Berdaulat dan Makmur

Sumsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 19:07 WIB

BMW Puncaki Daftar Penjualan Mobil Mewah Meski Pasar Premium Sedang Lesu

BMW Puncaki Daftar Penjualan Mobil Mewah Meski Pasar Premium Sedang Lesu

Otomotif | Senin, 17 Agustus 2026 | 19:05 WIB

4 Rekomendasi Obat Totol Flek Hitam Paling Ampuh, Ada yang Hasilnya Kelihatan dalam 7 Hari

4 Rekomendasi Obat Totol Flek Hitam Paling Ampuh, Ada yang Hasilnya Kelihatan dalam 7 Hari

Lifestyle | Senin, 17 Agustus 2026 | 19:05 WIB

Eks Member JKT 48 Tegur Keras Anak Buah Erick Thohir: Jujur Aku Kecewa!

Eks Member JKT 48 Tegur Keras Anak Buah Erick Thohir: Jujur Aku Kecewa!

Entertainment | Senin, 17 Agustus 2026 | 19:03 WIB

Solidaritas dengan Korban Gempa Flores, Pemerintah Tunda Pesta Kembang Api di Monas

Solidaritas dengan Korban Gempa Flores, Pemerintah Tunda Pesta Kembang Api di Monas

Bisnis | Senin, 17 Agustus 2026 | 19:00 WIB

Bukan Sekadar Mediasi, KPAI Minta Pemulihan Korban Bullying SMPN 1 Blora Jadi Prioritas

Bukan Sekadar Mediasi, KPAI Minta Pemulihan Korban Bullying SMPN 1 Blora Jadi Prioritas

Jawa Tengah | Senin, 17 Agustus 2026 | 19:00 WIB

Ulasan Drama Mother and Mom: Kritik terhadap Obsesi Menjadi Ibu Ideal

Ulasan Drama Mother and Mom: Kritik terhadap Obsesi Menjadi Ibu Ideal

Your Say | Senin, 17 Agustus 2026 | 19:00 WIB

Parade Bendera Merah Putih di Bawah Laut Meriahkan HUT RI ke-81

Parade Bendera Merah Putih di Bawah Laut Meriahkan HUT RI ke-81

Video | Senin, 17 Agustus 2026 | 19:00 WIB

PJJ Sekolah Jakarta 18 Agustus Besok Karena akan Ada Demo Besar? Simak Penjelasan Pemprov DKI

PJJ Sekolah Jakarta 18 Agustus Besok Karena akan Ada Demo Besar? Simak Penjelasan Pemprov DKI

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 18:59 WIB

Suhu Panas Jadi Penyebab Jamal Musiala Ambruk Setelah Cetak Gol, Begini Kondisinya Sekarang

Suhu Panas Jadi Penyebab Jamal Musiala Ambruk Setelah Cetak Gol, Begini Kondisinya Sekarang

Bola | Senin, 17 Agustus 2026 | 18:56 WIB

×