Mengenal Fenomena Job Hugging: Sinyal Pegawai Setia atau Terkekang?

Yasinta Rahmawati Suara.Com
Kamis, 18 September 2025 | 13:44 WIB
Mengenal Fenomena Job Hugging: Sinyal Pegawai Setia atau Terkekang?
Ilustrasi sosok job hugger (Pexels/Nataliya Vaitkevich).

Tak dapat dipungkiri bahwa lapangan kerja baik dalam skala global maupun nasional sedang mengalami perlambatan signifikan.

Pertumbuhan lowongan kerja melambat dan persaingan untuk mendapatkan pekerjaan baru semakin ketat.

Kondisi yang demikian membuat pekerja enggan mengambil risiko untuk resign tanpa kepastian pekerjaan baru.

Beberapa ahli ketenagakerjaan juga melihat bahwa keengganan pekerja untuk pindah kerja adalah karena takut mendapat PHK atau dipecat.

Pekerja merasa lebih aman bertahan di posisi yang sudah mereka kenal daripada menjadi karyawan baru yang berisiko menjadi target PHK pertama.

Alasan lain yang tak kalah besar yakni perkembangan AI atau kecerdasan buatan. 

Para pekerja memilih bertahan di pekerjaan yang dianggap "stabil" daripada beralih ke peran yang mungkin lebih rentan digantikan oleh AI di masa depan.

Terakhir, ada alasan paling besar yakni keadaan ekonomi yang makin tak menentu. Pekerja, terutama generasi muda, merasa tertekan oleh kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

Mereka akhirnya memilih untuk bertahan dengan gaji tetap dan tunjangan dari pekerjaan saat ini yang menjadi jaring pengaman finansial.

Baca Juga: Di Tengah Ekonomi Sulit, Begini Solusi UMKM dan Pekerja Tradisional dapat Bertahan dan Tumbuh

Berkaca dari beberapa alasan tersebut, bisa dipastikan bahwa job hugger tak serta merta menunjukkan bahwa job hugging adalah hal yang mutlak positif.

Job hugging membawa segudang dampak negatif

Seorang job hugger (Pexels/Mart Production).
Seorang job hugger (Pexels/Mart Production).

Beberapa pakar sumber daya manusia setuju bahwa job hugger justru membawa dampak negatif.

Laura Ullrich, Direktur Riset Ekonomi di Indeed Hiring Lab menilai bahwa job hugging membuat karier seseorang mandeg.

Ketika seorang pekerja merasa pekerjaannya jenuh tapi enggan resign adalah mimpi buruk bagi dirinya.

Ia menjadi merasa terjebak dan tak bisa berkembang.

Dr. Diane Hamilton melalui artikel yang ia tulis juga menekankan bahwa ada dampak psikologis dari job hugging.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI