- Sandra Dewi mengajukan gugatan untuk meminta hartanya kembali usai disita di kasus korupsi Harvey Moeis.
- Alkitab sendiri, sebagai kitab suci umat Kristen dan Katolik, memiliki pandangan tegas terhadap korupsi.
- Alkitab mengingatkan bahwa dosa korupsi bisa menjaringkan seluruh rumah tangga.
Suara.com - Sandra Dewi mengajukan gugatan untuk meminta hartanya kembali. Sebelumnya, Kejaksaan Agung (Kejagung) ikut menyita sejumlah aset mewahnya di kasus korupsi Harvey Moeis.
Aset yang disita di antaranya amobil Rolls-Royce dan Mini Cooper hadiah ulang tahun dari Harvey untuk Sandra, tas Hermes, emas batangan, serta tanah dan bangunan.
Terlepas dari gugatan Sandra Dewi, menarik untuk melihat hukum korupsi menurut pandangan Alkitab. Lantas, apa kata Alkitab soal korupsi?
Pandangan Alkitab soal Korupsi

Alkitab, sebagai kitab suci umat Kristen dan Katolik, memiliki pandangan tegas terhadap korupsi. Korupsi sering diidentikkan dengan suap, pencurian, dan ketidakadilan, yang semuanya dikutuk dalam Firman Tuhan.
Dalam ayat Ulangan 27:25, dikatakan: "Terkutuklah orang yang menerima suap untuk membunuh orang yang tidak bersalah."
Ayat ini menekankan bahwa korupsi adalah bentuk pengkhianatan terhadap keadilan, yang membutakan mata orang benar dan memutarbalikkan kata-kata.
Keluaran 23:8 juga menyatakan: "Janganlah engkau menerima suap, sebab suap itu membutakan mata orang yang melihat dan memutarbalikkan perkataan orang yang benar." Ini menunjukkan bahwa korupsi merusak sistem keadilan dan masyarakat.
Dalam Perjanjian Baru, korupsi digambarkan sebagai dosa yang berakar dari keserakahan.
Dalam Roma 1:29-31, Paulus menyebutkan bahwa orang-orang yang penuh dengan ketamakan, kejahatan, dan tipu daya adalah mereka yang menjauh dari Tuhan.
Yesus sendiri mengecam praktik korupsi di Bait Allah, di mana Ia membalikkan meja-meja para penukar uang dan mengusir mereka, menyebutnya sebagai "sarang penyamun" (Matius 21:12-13).
Ini adalah kritik terhadap eksploitasi agama untuk keuntungan pribadi, mirip dengan bagaimana korupsi hari ini menyalahgunakan kekuasaan untuk memperkaya diri.
Amsal 15:27 menyatakan: "Siapa loba akan keuntungan gelap menjaringkan rumah tangganya sendiri, tetapi siapa membenci suap akan hidup." Ayat ini mengingatkan bahwa kekayaan dari korupsi tidak membawa berkat, malah menghancurkan keluarga.
Begitu juga dalam Amsal 28:20: "Orang yang setia akan mendapat banyak berkat, tetapi orang yang tergesa-gesa menjadi kaya tidak akan luput dari hukuman."
Alkitab menekankan bahwa kekayaan yang halal datang dari kerja keras dan integritas, bukan dari tipu daya.
Dalam konteks modern, ajaran ini relevan dengan kasus seperti Harvey Moeis. Korupsi dianggap sebagai dosa yang tidak hanya melawan hukum manusia, tapi juga hukum Tuhan.
Alkitab mendorong umat untuk hidup jujur, seperti dalam Efesus 4:28: "Siapa yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan."
Ini menunjukkan bahwa jalan keluar dari korupsi adalah melalui pertobatan dan kerja yang jujur.
Kasus Sandra Dewi mengajak kita merefleksikan bagaimana korupsi memengaruhi orang terdekat. Meskipun Sandra mengklaim asetnya terpisah, Alkitab mengingatkan bahwa dosa korupsi bisa menjaringkan seluruh rumah tangga.
Ini bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengingatkan pentingnya transparansi dalam pernikahan dan keuangan. Di sisi lain, jika aset Sandra memang halal, keadilan harus ditegakkan, sesuai dengan Amsal 21:3: "Melakukan keadilan dan hukum lebih disukai Tuhan dari pada korban."