Jika ada bagian yang mengelupas, rapuh, atau berlubang, keluarkan material rusak tersebut. Dinding yang tidak kuat lagi tidak boleh langsung ditutup dengan cat karena kerusakan akan muncul kembali.
5. Plamir dan cat ulang
Jika kondisi masih layak, Anda cukup mengaplikasikan plamir, kemudian cat kembali dengan cat yang memiliki sifat tahan lembap. Langkah ini hanya disarankan jika kerusakan tidak parah.
6. Pertimbangkan penggantian material
Bila dinding rusak cukup berat, gantilah sebagian atau seluruhnya. Pada banyak kasus, terutama pada material gypsum atau kalsiboard yang menyerap air cepat, penggantian biasanya lebih efektif.
Dinding yang Bagus untuk Daerah Banjir
![Foto udara kawasan perumahan elit yang terdampak banjir bandang di Lubuk Minturun, Padang, Sumatera Barat, Kamis (27/11/2025). [ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/11/28/64759-banjir-bandang-di-padang-banjir-padang.jpg)
Jika Anda tinggal di wilayah rawan banjir, memilih material dinding yang tepat akan membantu mengurangi risiko kerusakan di masa depan. Material seperti bata merah, bata ringan berkualitas tinggi, atau beton bertulang dikenal lebih tahan terhadap paparan air. Material ini lebih kuat menahan lembap dan tidak mudah lapuk bila dibandingkan dengan dinding gypsum.
Selain itu, Anda bisa mempertimbangkan penggunaan cat pelapis anti air atau waterproofing untuk memberikan perlindungan ekstra. Lapisan ini membantu mencegah air meresap ke dalam struktur dinding setelah banjir berikutnya.
Beberapa rumah di daerah rawan banjir juga menggunakan keramik pada bagian bawah dinding (setinggi 1–1,2 meter) untuk mempermudah pembersihan saat banjir terjadi.
Dengan memahami kondisi dinding setelah banjir, langkah perawatan yang benar, serta pemilihan material yang tepat, Anda dapat menjaga rumah tetap aman dan tahan lama meski tinggal di daerah berisiko tinggi. Semoga panduan ini membantu Anda menangani kerusakan secara efektif dan mencegah masalah serupa di masa mendatang.
Baca Juga: Berapa Korban Banjir Sumatera Per 30 November 2025? Ini Data BNPB
Kontributor : Hillary Sekar Pawestri