Suara.com - Bencana alam kembali menghantam Pulau Sumatera. Hujan deras tak henti selama beberapa hari terakhir memicu banjir bandang dan tanah longsor masif yang merendam puluhan kabupaten dan kota di tiga provinsi utama yakni Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Peristiwa banjir Sumatera ini mulai tercatat sejak Rabu, 26 November 2025, diawali di Kota Binjai, Sumatra Utara, sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Intensitas hujan yang sangat lebat menyebabkan meluapnya tiga sungai besar yakni Sungai Bingai, Mencirim, dan Bangkatan yang kemudian menenggelamkan permukiman. Di Binjai saja, tercatat sekitar 5.818 Kepala Keluarga (KK) atau 19.349 jiwa terdampak di lima kecamatan.
Namun, kerugian terbesar adalah hilangnya nyawa. Lantas, berapakah jumlah total korban bencana banjir dan longsor di Sumatra per hari Minggu, 30 November 2025? Simak penjelasan berikut ini.
Korban Jiwa Banjir Sumatera: 303 Orang Meninggal

Data terkini yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan lonjakan signifikan pada jumlah korban.
Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M., dalam konferensi pers pada Sabtu (29/11/2025), mengonfirmasi bahwa total korban jiwa meninggal dunia akibat bencana ini telah mencapai 303 orang. Angka ini bersifat dinamis dan diperkirakan masih bisa bertambah seiring proses pencarian yang masih berlangsung intensif.
Selain korban meninggal, sebanyak 279 orang dilaporkan masih dalam status hilang, dan 18 orang tercatat mengalami luka-luka di tiga provinsi terdampak.
Suharyanto menjelaskan, data ini adalah hasil pendataan intensif di lapangan oleh tim gabungan SAR yang terdiri dari Basarnas, TNI-Polri, BNPB, dan para relawan.
Berikut rincian duka di tiga provinsi tersebut:
Sumatra Utara (Sumut)
Baca Juga: Apa Itu Status Darurat Bencana Nasional? Pengertian, Indikator, dan Prosedurnya
Korban Meninggal Dunia: 166 Jiwa
Korban Hilang: 143 Jiwa
Korban Luka-Luka: Belum Terinci
Sumatra Barat (Sumbar)
Korban Meninggal Dunia: 90 Jiwa
Korban Hilang: 85 Jiwa
Korban Luka-Luka: 10 Orang
Aceh
Korban Meninggal Dunia: 47 Jiwa
Korban Hilang: 51 Jiwa
Korban Luka-Luka: 8 Orang
Sumatra Utara: Terdampak Paling Parah
Sumatra Utara menjadi wilayah yang mencatat angka korban tertinggi. Jumlah korban meninggal di provinsi ini melonjak tajam dari laporan sebelumnya 116 jiwa menjadi 166 jiwa. Daerah-daerah seperti Sibolga, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan menjadi fokus utama operasi pencarian dan pertolongan (SAR).
Sumatra Barat dan Aceh
Di Sumatra Barat, korban meninggal mencapai 90 orang dengan 85 orang masih hilang. Dampak terparah tercatat di Padang Panjang, Tanah Datar, Kabupaten Solok, serta Kota Padang. Sementara itu, Aceh mencatat 47 orang meninggal dan 51 orang hilang, terutama di wilayah Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Tenggara.
Penanganan Darurat Banjir Sumatra

Menyikapi perkembangan ini, BNPB telah menginstruksikan percepatan penanganan darurat. Operasi SAR terus diupayakan selama 24 jam untuk menembus wilayah yang terisolasi.
Kendala utama adalah akses darat yang terputus akibat titik longsor dan kerusakan jembatan, seperti akses menuju Sibolga dari Tarutung. Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah Pusat mengerahkan sejumlah upaya:
1. Distribusi Logistik Udara dan Laut: Helikopter (MI-17, TNI AD, AU, AL, dan BNPB) disiagakan untuk mendistribusikan bantuan logistik dan permakanan ke daerah terpencil di Sumut (khususnya Tapanuli Tengah) dan Aceh (Aceh Tengah, Aceh Tamiang). Untuk Sibolga, jalur laut melalui Pelabuhan Jago-jago dikoordinasikan.
2. Pemulihan Komunikasi: Sejumlah unit Starlink dan genset didistribusikan ke kabupaten/kota terdampak di Sumut dan Aceh guna memulihkan jaringan komunikasi yang terganggu.
3. Pembukaan Akses Darat: Tim gabungan berupaya membuka akses darat yang tertutup longsor. Di Aceh, akses di lima kabupaten sudah mulai bisa dilalui kembali sejak Sabtu malam.
Kepala BNPB menegaskan bahwa proses evakuasi, pencarian, dan pendistribusian logistik, serta layanan kesehatan, terus dilakukan secara paralel. Prioritas utama saat ini adalah keselamatan jiwa dan pemenuhan kebutuhan dasar bagi puluhan ribu warga yang terdampak dan mengungsi. Tim SAR akan terus bekerja tanpa henti selama 24 jam hingga semua korban ditemukan dan situasi darurat dapat teratasi.
Kontributor : Trias Rohmadoni