8 Tanda Hubungan Toxic dan Langkah Aman untuk Mengakhiri Hubungan Tidak Sehat

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:10 WIB
8 Tanda Hubungan Toxic dan Langkah Aman untuk Mengakhiri Hubungan Tidak Sehat
Ilustrasi hubungan toxic atau toxic relationship (Freepik)
Baca 10 detik
  • Hubungan toxic bisa menguras emosi tanpa disadari.
  • Ada delapan tanda utama yang menunjukkan hubungan sudah tidak sehat.
  • Berikut cara aman keluar dari hubungan toxic tanpa melukai diri sendiri.

Suara.com - Hubungan yang sehat seharusnya membuat kedua pihak merasa aman, didukung, dan berkembang bersama. Meski konflik adalah hal yang wajar, hubungan yang sehat tetap diwarnai komunikasi terbuka serta rasa saling menghargai. Sayangnya, tidak semua hubungan berjalan dengan cara tersebut. Banyak orang terjebak dalam hubungan toxic tanpa benar-benar menyadarinya.

Hubungan toxic atau toxic relationship adalah hubungan yang secara konsisten menguras energi emosional, mental, bahkan fisik. Setelah menghabiskan waktu bersama pasangan, perasaan lelah, cemas, atau tidak bahagia sering muncul. Kondisi ini kerap menjadi tanda awal bahwa ada sesuatu yang tidak sehat dalam hubungan yang dijalani.

ilustrasi dari pasangan toxic relationship (freepik)
Ilustrasi toxic relationship (Freepik)

Tanda-Tanda Hubungan Toxic yang Perlu Diwaspadai

Melansir dari laman healthline, salah satu ciri utama hubungan toxic adalah kurangnya dukungan emosional. Dalam hubungan yang sehat, pasangan saling mendorong satu sama lain untuk berkembang dan meraih kesuksesan. Sebaliknya, dalam hubungan toxic, pencapaian sering dianggap sebagai ancaman dan berubah menjadi ajang persaingan yang tidak sehat.

Komunikasi yang buruk juga menjadi tanda yang jelas. Percakapan penuh dengan sindiran, kritik tajam, dan nada merendahkan. Alih-alih merasa didengar, seseorang justru merasa diserang atau diremehkan, hingga akhirnya memilih diam atau menghindari pembicaraan demi mencegah konflik.

Rasa cemburu dan iri berlebihan juga dapat merusak hubungan. Jika pasangan terus mencurigai, memeriksa, atau membatasi aktivitas sehari-hari, hal ini bukan lagi bentuk perhatian, melainkan tanda kontrol yang berlebihan dan berpotensi berbahaya.

Tanda lainnya adalah perilaku mengontrol, seperti menuntut laporan keberadaan, marah ketika pesan tidak segera dibalas, atau memantau pergaulan pasangan. Perilaku ini sering dibungkus dengan dalih kepedulian, padahal mencerminkan kurangnya kepercayaan.

Hubungan toxic juga ditandai oleh penumpukan rasa kesal dan dendam. Masalah tidak dibicarakan secara terbuka karena takut memicu pertengkaran. Akibatnya, jarak emosional semakin melebar dan hubungan terasa dingin.

Ketidakjujuran kerap menjadi pola. Kebohongan kecil muncul demi menghindari konflik atau reaksi pasangan yang berlebihan. Jika kejujuran terasa berisiko, hubungan tersebut sudah berada dalam kondisi tidak sehat.

Baca Juga: 9 Cara Mengakhiri Hubungan yang Tidak Sehat, Jangan Terjebak Toxic Relationship!

Selain itu, stres berkepanjangan, hilangnya waktu untuk diri sendiri, menjauh dari teman dan keluarga, serta menurunnya kebiasaan merawat diri merupakan sinyal kuat bahwa hubungan tersebut berdampak negatif terhadap kesejahteraan.

Perbedaan Hubungan Toxic dan Hubungan Abusif

Masih melansir dari laman yang sama, tidak semua hubungan toxic bersifat abusif, tetapi hubungan abusif hampir selalu toxic. Hubungan abusif ditandai dengan keinginan untuk menguasai dan mengontrol pasangan, baik secara emosional, verbal, finansial, maupun fisik.

Ciri hubungan abusif meliputi penghinaan, gaslighting yang membuat seseorang meragukan perasaan dan ingatannya sendiri, ancaman, isolasi sosial, pembatasan keuangan, hingga kekerasan fisik. Jika keselamatan mulai terancam, hubungan tersebut tidak lagi bisa diperbaiki dan perlu segera ditinggalkan.

Apakah Hubungan Toxic Bisa Diperbaiki?

Hubungan toxic masih memiliki peluang untuk diperbaiki jika kedua pihak sama-sama menyadari masalah dan bersedia berubah. Tanggung jawab perlu diakui bersama tanpa saling menyalahkan.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI