Suara.com - Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans terus memantik diskusi luas di ruang publik. Memoar yang berisi pengalaman personal Aurelie ini tidak hanya membuka kembali luka lama terkait kekerasan dan manipulasi yang dialaminya, tetapi juga menyeret perhatian publik pada sosok-sosok yang pernah hadir dalam hidupnya.
Salah satu nama yang belakangan ikut disorot adalah Kak Seto, figur publik yang selama puluhan tahun dikenal sebagai pemerhati dan sahabat anak di Indonesia.
Dalam Broken Strings, Aurelie menuliskan bagaimana ibunya berusaha mencari perlindungan dan keadilan saat ia masih berusia belia. Salah satu upaya tersebut adalah mendatangi Kak Seto, yang kala itu menjabat sebagai Ketua Komnas Perlindungan Anak.
Harapan sang ibu sederhana yakni ada figur otoritas yang berpihak pada anak dan mampu memberi perlindungan dari situasi yang dinilai membahayakan. Namun, narasi dalam buku itu menggambarkan bahwa upaya tersebut tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
Kisah ini kemudian membuat warganet mulai mengaitkan peran Kak Seto dalam Broken Strings dengan cerita lama mengenai kehidupan pribadinya.
Perbincangan tersebut mencuat usai sebuah cuitan viral di Twitter (X) yang diunggah akun @/shasiindah pada 14 Januari 2026. Dalam unggahan tersebut, ia membagikan dua tangkapan layar berita lama yang membahas kisah cinta Kak Seto dengan sang istri.
Dari informasi yang kembali beredar, diketahui bahwa Kak Seto mengaku sudah jatuh cinta pada istrinya sejak perkenalan pertama. Saat itu, Kak Seto berusia sekitar 35 tahun, sementara perempuan yang kemudian menjadi istrinya masih berumur 16 tahun.
Kak Seto lahir pada 28 Agustus 1951. Fakta ini memicu diskusi baru di kalangan publik, terutama karena konteks Kak Seto sebagai tokoh perlindungan anak.
“Pantesan gak gubris Mamanya Aurelie, yang dimintai tolong pelaku child grooming ternyata,” tulis akun @/shasiindah dalam cuitannya. Unggahan tersebut dengan cepat menyebar dan ditonton lebih dari 394 ribu kali, memancing ribuan komentar dari pengguna lain.
Baca Juga: Selain Roby Tremonti, Siapa Saja Sosok Nyata di Balik Nama Samaran Buku Aurelie Moeremans?
Beragam respons bermunculan. Akun @/postmortemmd menyoroti narasi yang sering muncul dalam relasi dengan perbedaan usia ekstrem. “‘Cukup dewasa untuk anak seusia dia’. Kata-kata khas groomer,” tulisnya.
Sementara akun @deckychandr mengekspresikan keterkejutannya, “Njir awal 2026 ngelihat Kak Seto downfall is not on my list.”
Komentar lain menyinggung detail waktu lamaran.
“Anj dilamarnya juga waktu 18 tahun dan itu orang 37 tahun,” ungkap akun @nisrinarfh.
Meski terjadi di masa lalu, banyak warganet menilai bahwa fakta-fakta tersebut tetap relevan untuk dibicarakan dalam konteks perlindungan anak hari ini.
Kak Seto menikah dengan sang istri di usia 37 tahun. Sementara sang istri kala itu telah berusia dewasa secara hukum, yakni 18 tahun. Namun, sorotan utama warganet bukan hanya pada momen pernikahan, melainkan pada awal relasi yang dimulai ketika usia sang istri masih di bawah umur.