- Yulia Kristina menjadi manajer R&D Unicharm lokal pertama setelah berkolaborasi global dan menyerap etos kerja Jepang.
- Pengalaman perempuan menjadi modal penting dalam inovasi produk kesehatan, menjawab detail kebutuhan konsumen secara fungsional.
- Dukungan sistem, pasangan, dan lingkungan kerja setara memungkinkan perempuan menyeimbangkan peran profesional dan domestik secara utuh.
Suara.com - Di balik setiap produk yang menemani keseharian perempuan, ada perempuan lain yang bekerja dengan ketelitian, empati, dan keteguhan. Di laboratorium riset, di ruang diskusi lintas negara, hingga di rumah setelah jam kerja berakhir, peran itu dijalani bersamaan tanpa harus memilih salah satunya.
Bagi Yulia Kristina, dunia riset dan pengembangan bukan sekadar tempat bekerja, melainkan ruang bertumbuh. Bergabung sejak 2013 di divisi Research & Development (R&D) untuk produk pembalut wanita, Yulia kini mencatatkan sejarah sebagai karyawati lokal pertama yang menduduki posisi Manajer di R&D Unicharm, sebuah capaian yang sebelumnya didominasi oleh tenaga ahli dari Jepang.
Perjalanan Yulia bukan proses instan. Lebih dari satu dekade ia mengasah kompetensi, terlibat langsung dalam pengembangan produk, hingga mendapat kesempatan belajar dan berkolaborasi dengan tim global di kantor pusat Jepang. Di sana, ia tak hanya mempelajari standar kualitas internasional, tetapi juga menyerap filosofi kerja monozukuri, etos Jepang yang menjunjung kesempurnaan detail dan dedikasi tinggi dalam menciptakan produk yang benar-benar dibutuhkan konsumen.
“Kolaborasi lintas negara membuka cara berpikir baru,” tutur Yulia.
“Kami saling bertukar praktik terbaik, bukan hanya soal teknologi, tapi juga budaya kerja dan tanggung jawab terhadap konsumen,” katanya.
Sebagai perempuan, Yulia membawa perspektif yang sangat personal ke dalam inovasi. Di industri produk kesehatan dan kebersihan perempuan, pengalaman nyata menjadi modal penting. Mulai dari persoalan kenyamanan di cuaca panas, rasa khawatir akan bau, hingga kebutuhan perlindungan saat malam hari—semua diterjemahkan menjadi solusi yang relevan dan fungsional.
“Perempuan memahami detail yang sering kali luput,” ujarnya.
“Bukan soal perasaan semata, tapi tentang kualitas, keamanan, dan fungsi yang benar-benar menjawab kebutuhan,” papar Yulia.
Namun, pencapaian profesional ini tak datang tanpa tantangan. Menjalani peran ganda sebagai ibu dan pekerja menuntut keseimbangan yang tidak selalu mudah. Bagi Yulia, kunci utamanya adalah sistem pendukung yang solid, yaitu pasangan yang mau berbagi peran di rumah, tim kerja yang saling menguatkan, serta atasan yang memberi ruang dan kepercayaan.
Baca Juga: Jelang Menikah, El Rumi Bicara soal Karier Syifa Hadju: Pilih Jadi IRT?
Kesempatan itulah yang menurutnya menjadi fondasi penting bagi perempuan untuk berkembang. Lingkungan kerja yang memberi akses pelatihan, mentoring, dan jalur kepemimpinan yang setara membuat perempuan tidak perlu menurunkan ambisi demi peran domestik, karena keduanya bisa berjalan beriringan.
Komitmen ini pula yang digaungkan PT Uni-Charm Indonesia Tbk melalui berbagai program pengembangan kompetensi dan kepemimpinan bagi karyawatinya. Berangkat dari keyakinan bahwa setiap individu memiliki potensi tak terbatas, perusahaan mendorong lebih banyak perempuan—termasuk ibu bekerja—untuk berani melangkah ke posisi strategis.
Upaya ini sejalan dengan semangat kesetaraan gender dan visi keberlanjutan, di mana pertumbuhan bisnis berjalan seiring dengan pemberdayaan manusia di dalamnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 pun mencatat tren positif: perempuan kini mencakup sekitar 50 persen tenaga profesional di Indonesia.
Meski demikian, tantangan keseimbangan peran masih nyata. Psikolog Cecilia Helmina E., M.Psi., menekankan bahwa kualitas kehadiran ibu jauh lebih penting daripada kuantitas waktu. Komunikasi terbuka dengan pasangan, pembagian peran yang adil, serta kebiasaan sederhana seperti berbincang sebelum tidur bisa menjadi jangkar emosional bagi anak.
Kisah Yulia menjadi pengingat bahwa ruang laboratorium dan ruang keluarga tidak harus saling meniadakan. Dengan dukungan yang tepat, kesempatan yang setara, dan keberanian untuk percaya pada diri sendiri, perempuan bisa terus melangkah—menciptakan inovasi, memimpin perubahan, dan tetap hadir utuh dalam peran yang mereka jalani.