Suara.com - Perubahan gaya hidup digital membuat cara masyarakat mengelola keuangan ikut berevolusi. Jika dulu belanja identik dengan pembayaran tunai atau kartu kredit, kini muncul solusi yang lebih fleksibel dan mudah diakses oleh banyak orang. Salah satu yang paling menonjol adalah aplikasi Buy Now Paylater, layanan pembayaran yang memungkinkan transaksi dilakukan sekarang dan dibayar kemudian dengan skema cicilan.
Menariknya, layanan ini tidak lagi sekadar mengikuti tren belanja online. Di banyak situasi, PayLater justru berperan sebagai alat bantu pengelolaan arus kas, terutama bagi generasi produktif yang hidup di tengah kebutuhan cepat dan pemasukan yang datang berkala. Inilah alasan mengapa Paylater kini mulai dipandang sebagai kebutuhan, bukan sekadar gaya hidup.
Dari Tren Digital ke Alat Finansial Harian
Pada awal kemunculannya, Paylater sering diasosiasikan dengan belanja impulsif atau kebutuhan tersier. Namun, seiring meningkatnya literasi keuangan dan penggunaan fintech, persepsi ini mulai bergeser. Banyak pengguna kini memanfaatkan Paylater untuk kebutuhan yang lebih rasional, mulai dari belanja bulanan, isi pulsa, pembayaran tagihan, hingga pembelian perangkat kerja.
Faktor kemudahan menjadi pendorong utama. Proses pendaftaran yang cepat, tanpa kartu kredit, serta transparansi cicilan membuat layanan ini lebih inklusif. Bagi masyarakat yang belum memiliki akses ke produk perbankan konvensional, PayLater menjadi pintu masuk ke ekosistem keuangan digital yang lebih terstruktur.
Perbandingan Sebelum dan Setelah Hadirnya Aplikasi Buy Now Paylater
Perubahan perilaku finansial masyarakat terlihat jelas jika dibandingkan dengan kondisi sebelum layanan ini hadir.

Dari tabel tersebut terlihat bahwa Paylater bukan hanya mempermudah transaksi, tetapi juga mengubah cara orang merencanakan pengeluaran. Pengguna dapat menyesuaikan pembayaran dengan siklus pemasukan mereka, tanpa harus menunda kebutuhan penting.
Kenapa Paylater Dianggap Kebutuhan di Era Digital
Baca Juga: Reshuffle Kabinet: Menkomdigi Meutya Hafid Dikabarkan Diganti Angga Raka Prabowo
Kebutuhan finansial saat ini bersifat cepat dan dinamis. Banyak pengeluaran muncul di luar rencana, sementara pemasukan tidak selalu datang secara harian. Dalam kondisi seperti ini, PayLater berfungsi sebagai penyeimbang arus kas jangka pendek.
Selain itu, meningkatnya aktivitas digital membuat transaksi non-tunai semakin dominan. Mulai dari belanja online, layanan transportasi, hingga pembayaran hiburan, semuanya membutuhkan metode pembayaran yang praktis. Kehadiran Paylater menjawab kebutuhan ini dengan memberikan opsi pembayaran yang tetap terkontrol.
Beberapa laporan industri fintech juga menunjukkan bahwa penggunaan Paylater cenderung meningkat di kalangan pengguna yang sudah lebih sadar perencanaan keuangan, bukan hanya untuk konsumsi impulsif. Artinya, fungsi Paylater mulai bergeser menjadi alat bantu manajemen keuangan.
Bukan Sekadar Soal Menunda Bayar, Tapi Mengatur Prioritas
Kesalahan umum dalam memahami Paylater adalah menganggapnya sebagai “utang konsumtif”. Padahal, ketika digunakan dengan bijak, layanan ini justru membantu pengguna memprioritaskan kebutuhan. Misalnya, saat harus membeli perangkat kerja atau membayar kebutuhan mendesak, Paylater memungkinkan transaksi tetap berjalan tanpa mengganggu pos keuangan lain.
Kunci utamanya ada pada kontrol pengguna. Memahami tenor, jumlah cicilan, dan kemampuan bayar menjadi faktor penting agar Paylater benar-benar berfungsi sebagai solusi, bukan beban. Di sinilah peran edukasi dan fitur transparansi dari penyedia layanan menjadi sangat krusial.