Menjaga Warisan Leluhur, Rahasia Ketangguhan Masyarakat Adat Jingitiu di Tanah Sabu

Rendy Adrikni Sadikin

Jum'at, 30 Januari 2026 | 10:58 WIB
Menjaga Warisan Leluhur, Rahasia Ketangguhan Masyarakat Adat Jingitiu di Tanah Sabu
Lomi Mone, Deo Rai wilayah Adat Gopo, Kabupaten Sabu Raijua, NTT.(Dokumentasi pribadi)
baca 10 detik
  • Masyarakat adat Jingitiu di Kabupaten Sabu Raijua menggunakan rasi bintang sebagai astronomi tradisional untuk menentukan waktu tanam dan musim hujan.
  • Mereka memberlakukan pembatasan aktivitas ketat selama Januari hingga Maret, ditandai ritual Katikurai, demi menjaga keseimbangan ekologis.
  • Kearifan lokal mencakup aturan penanaman pohon lontar dan sistem pangan berbasis sorgum, kini didukung panel surya sejak 2024.

Suara.com - Masyarakat adat Jingitiu di Kampung Adat Gopo, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, menjalin kesepakatan rahasia dengan alam dalam menapaki jejak kehidupan. Pemeluk kepercayaan asli Sabu tersebut telah mewarisi kearifan yang membuat mereka tetap tegak kendati diimpit iklim nan keras. 

Pulau Sabu Raijua dikenal memiliki iklim semi-arid alias separuh kering. Curah hujannya rendah. Tidak banyak vegetasi yang dapat hidup di iklim ini. Yang ada hanya semak-semak dan pepohonan berduri. Untuk menentukan turunnya hujan, masyarakat adat Jingitiu memiliki cara yang terbilang cukup unik: melihat rasi bintang.

Ya, bagi masyarakat adat Jingitiu, waktu memang tidak diukur dengan jam digital. Mereka menggunakan rasi bintang. Nah, uniknya astronomi tradisional ini menjadi kompas bagi mereka untuk menentukan kapan hujan akan menyapa tanah yang gersang. Terlebih, kemarau di Sabu Raijua cukup panjang, yakni bisa berlangsung 8 hingga 9 bulan per tahun.

Terkait cara unik ini, Lomi Mone selaku Deo Rai atau pemimpin adat di wilayah Adat Gopo mengatakan, ketika penentuan musim, masyarakat Jingitiu memang membaca rasi bintang dari tempat khusus. Pengetahuan astronomi tradisional ini membantu mereka merencanakan waktu tanam dengan sangat tepat.

“Di bulan tertentu, saya lihat. Ada posisi tertentu yang bisa menjadi petunjuk musim hujan datang cepat atau lambat,” ujar Lomi Mone saat ditemui tim Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia di kediamannya di Kampung Adat Gopo, Kecamatan Sabu Liae, Senin (19/1/2026).

Pun masyarakat Jingtiu memiliki kalender adat sendiri berdasarkan rasi bintang. Sistem penanggalan ini menetapkan bulan tertentu sebagai masa jeda bagi alam. Antara Januari hingga Maret, Sabu memasuki periode ‘bulan keramat’. Saat itu, aktivitas manusia dibatasi dengan ketat demi menjaga keseimbangan ekologis.

Lomi Mone pun menekankan pentingnya larangan ini. “Tidak boleh bunuh hewan-hewan, tidak boleh menebang pohon. Orang Jingitiu tidak akan bangun rumah dari September sampai Maret atau satu musim.”

Kepercayaan ini, menurut Lomi Mone, memegang prinsip darah yang jatuh ke tanah selama periode ini bisa berubah menjadi hama yang akan merusak tanaman mereka di masa depan. Segala aktivitas baru boleh berjalan normal setelah ritual Katikurai dilaksanakan.

Adapun ritual Katikurai bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghormatan dan syukur kepada pencipta dan para leluhur. Fokus utama ritual antara lain memohon kesuburan tanah sekaligus keberhasilan panen, menjaga keharmonisan sosial serta spiritual masyarakat agar terhindar dari marabahaya atau penyakit dan mempererat ikatan antarklan.

baca juga

Lontar, Pohon Kehidupan dan Aturan Penanamannya

Pohon lontar adalah napas bagi orang Sabu. Dari pohon ini, mereka mendapatkan makanan, minuman, bahan anyaman, hingga material bangunan. Tapi, imbuh Lomi Mone, penanaman ‘pohon hayat’ ini tidak bisa sembarangan. Ada aturan pamali (larangan adat) dalam proses penanaman. Tujuannya, demi keselamatan kerja.

“Kalau tanam pohon lontar, dalam kepercayaan Jingitiu, tidak boleh pakai tangan. Itu menjadi pamali. Jika pakai tangan nanti bisa menyebabkan kecelakaan kerja, misalnya jatuh,” ujar Lomi Mone.

Kesucian ini tidak cuma berlaku untuk lontar. Air pun dipandang sebagai sumber kehidupan yang harus dihormati lewat ritual Ketakorai, sebuah doa meminta hujan dan berkah pada mata air. Tempat-tempat ritual leluhur dilarang keras untuk disentuh oleh pembangunan rumah atau aktivitas pertanian lainnya.

Ritual Kelimpahan dan Pangan Lokal

Ketahanan pangan masyarakat Jingitiu bersandar pada keragaman tanaman lokal seperti sorgum, kacang hijau, dan jagung. Sorgum memiliki tempat istimewa; bibitnya diyakini berasal dari laut yang ditemukan di dalam kerang raksasa (kima). Untuk memastikan persediaan pangan tidak habis sebelum panen berikutnya, mereka memiliki ritual unik menggunakan buah nitas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menjemput Air di Jantung Kebun, Ikhtiar Desa Lobohede Sabu Raijua Lawan Krisis Iklim

Menjemput Air di Jantung Kebun, Ikhtiar Desa Lobohede Sabu Raijua Lawan Krisis Iklim

Lifestyle | Kamis, 29 Januari 2026 | 10:18 WIB

Evolusi Ekonomi Sabu Raijua, Mengubah Komoditas Lokal Menjadi Bisnis Hijau Inklusif

Evolusi Ekonomi Sabu Raijua, Mengubah Komoditas Lokal Menjadi Bisnis Hijau Inklusif

Lifestyle | Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:00 WIB

Kedaulatan Data dan Kearifan Lokal, Pondasi Sabu Raijua Hadapi Krisis Iklim Global

Kedaulatan Data dan Kearifan Lokal, Pondasi Sabu Raijua Hadapi Krisis Iklim Global

Lifestyle | Jum'at, 16 Januari 2026 | 10:55 WIB

Terkini

Presiden Korsel Minta Prabowo ke Korut untuk Buka Dialog

Presiden Korsel Minta Prabowo ke Korut untuk Buka Dialog

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 16:46 WIB

Komplotan Curanmor di Jakarta Pakai Modus Polisi Gadungan untuk Intimidasi Korban

Komplotan Curanmor di Jakarta Pakai Modus Polisi Gadungan untuk Intimidasi Korban

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 16:41 WIB

Legenda AC Milan Franco Baresi Meninggal Dunia, Pernah Terkesan dengan Suporter Indonesia

Legenda AC Milan Franco Baresi Meninggal Dunia, Pernah Terkesan dengan Suporter Indonesia

Bola | Jum'at, 31 Juli 2026 | 16:39 WIB

Segera Pensiun, Komjen Karyoto dan Fadil Imran Tak Dapat Perpanjangan Masa Dinas?

Segera Pensiun, Komjen Karyoto dan Fadil Imran Tak Dapat Perpanjangan Masa Dinas?

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 16:36 WIB

Polisi Bongkar 769 Kasus Curanmor, 11 Senjata Api hingga 119 Kunci T Disita

Polisi Bongkar 769 Kasus Curanmor, 11 Senjata Api hingga 119 Kunci T Disita

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 16:36 WIB

LPSK Proses Permohonan Perlindungan Saksi FH di Kasus TPPU Eks Jampidsus

LPSK Proses Permohonan Perlindungan Saksi FH di Kasus TPPU Eks Jampidsus

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 16:35 WIB

Mata-Mata Iran Asal London Tertangkap Intip Pangkalan Militer Inggris di Siprus

Mata-Mata Iran Asal London Tertangkap Intip Pangkalan Militer Inggris di Siprus

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 16:35 WIB

Tak Cukup Putusan MK, PGRI Tagih Guru Jangan Dipaksa Menanggung Beban Tambahan

Tak Cukup Putusan MK, PGRI Tagih Guru Jangan Dipaksa Menanggung Beban Tambahan

Jogja | Jum'at, 31 Juli 2026 | 16:31 WIB

Ini Bukan Tinju! Pelatih Timor Leste Kirim Pesan Aneh Buat Timnas Indonesia

Ini Bukan Tinju! Pelatih Timor Leste Kirim Pesan Aneh Buat Timnas Indonesia

Bola | Jum'at, 31 Juli 2026 | 16:29 WIB

18 Nyawa Melayang di Usia Emas: Petaka Human Error di Jalan Raya Pringsewu Tembus 115 Kasus

18 Nyawa Melayang di Usia Emas: Petaka Human Error di Jalan Raya Pringsewu Tembus 115 Kasus

Lampung | Jum'at, 31 Juli 2026 | 16:27 WIB

×