suara hijau

Menjemput Air di Jantung Kebun, Ikhtiar Desa Lobohede Sabu Raijua Lawan Krisis Iklim

Kamis, 29 Januari 2026 | 10:18 WIB
Menjemput Air di Jantung Kebun, Ikhtiar Desa Lobohede Sabu Raijua Lawan Krisis Iklim
Salah satu rumah di Desa Lobohede, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur.(Dokumentasi Pribadi)
Baca 10 detik
  • Desa Lobohede Sabu Raijua mengawinkan teknologi dan kearifan lokal melalui penempatan sumur resapan di perkebunan guna efisiensi irigasi petani.
  • Inovasi program ini mencakup adopsi Pupuk Organik Cair (POC) dengan memanfaatkan kuatnya struktur sosial berbasis marga untuk penyebaran cepat.
  • Keberhasilan program ini juga diperkuat tradisi gotong royong desa, meskipun masih terdapat kebutuhan dukungan teknis seperti dinamo untuk distribusi air.

Suara.com - Bentang alam Nusa Tenggara Timur terbilang menantang. Stepa atau semi-kering. Kondisi ini menjadi santapan sehari-hari warga di sana. Namun, ada perubahan sunyi yang tengah tumbuh di Desa Lobohede, Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua. Mereka mengawinkan teknologi dan kearifan lokal. Tujuannya berdamai dengan iklim yang menantang.

Ya, lazimnya sumur memang dibangun di dekat permukiman guna memudahkan pemenuhan kebutuhan domestik. Tapi berbeda di Desa Lobohede. Strategi yang diambil malah sebaliknya. Sumur resapan malah sengaja ditempatkan di area perkebunan warga. Logika penempatan tersebut sangat praktis. Menurut mereka, di situlah air justru banyak dibutuhkan.

Menurut Rido dari Komunitas Bacarita Pangan Lokal (Bapalok) yang membersamai inovasi tersebut, lokasi sumur yang berada di tengah perkebunan bukan tanpa alasan. Sumur ditempatkan di tengah perkebunan untuk membantu para petani. Terbukti, beban kerja petani berkurang drastis sejak dibuatnya sumur tersebut.

“Sumur-sumur ini sengaja kami tempatkan di kebun warga karena di situlah sumber air paling dibutuhkan,” ujar Rido dalam kunjungan bersama tim Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, Yayasan Pikul dan Komunitas Bapalok ke Desa Lobohede, Jumat (16/1/2026).

Adapun strategi melalui teknologi yang menjadi bagian dari program GEF SGP Indonesia Fase 7, ini cukup manjur mendukung pengembangan kebun gizi. Petani tidak lagi memikul air dari jarak jauh. Jadi, energi mereka bisa dialokasikan sepenuhnya untuk mengintensifkan tanaman pangan lokal. Ini adalah langkah kunci dalam menjaga ketahanan pangan dari halaman rumah sendiri.

Selain itu, penempatan strategis ini membuka peluang besar bagi pengembangan kebun gizi yang juga menjadi fokus program. Akses air yang memadai di area perkebunan memungkinkan masyarakat mengembangkan tanaman pangan lokal dengan lebih intensif. Hal ini sekaligus menjaga ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.

Kekuatan Marga dalam Pertanian Organik

Inovasi di Desa Lobohede nggak cuma setop pada urusan infrastruktur air. Program ini juga memperkenalkan Pupuk Organik Cair (POC). Entitas ini menjadi jawaban atas ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal dan merusak tanah. Menariknya, proses adopsi teknologi ini di Desa Lobohede berjalan sangat cepat.

Elisabeth Ester dari Yayasan Pikul mencatat bahwa masyarakat setempat sebenarnya sudah karib dengan konsep pertanian organik. Dengan begitu, mereka terlalu tidak sulit untuk beralih ke pupuk organik cair. Kendati begitu, kunci sukses yang sebenarnya justru terletak pada pendekatan berbasis marga. Seperti apa pendekatan berbasis marga?

Baca Juga: Evolusi Ekonomi Sabu Raijua, Mengubah Komoditas Lokal Menjadi Bisnis Hijau Inklusif

Warga Desa Lobohede, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, memperbaiki sumur resapan.(Dokumentasi Pribadi)
Warga Desa Lobohede, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, memperbaiki sumur resapan.(Dokumentasi Pribadi)

Dalam struktur sosial di Desa Lobohede, menurut Ester, ikatan keluarga atau klan sangatlah kuat. Program ini memanfaatkan modal sosial tersebut sebagai motor penggerak. Melalui sistem tersebut, kelompok produksi POC tidak hanya menjadi unit bisnis, tetapi juga ruang belajar kolektif antarkeluarga.

“Pendekatan berbasis marga ini kekuatannya luar biasa. Ketika satu anggota marga melihat manfaatnya, penyebarannya cepat ke anggota marga yang lain. Ini modal sosial yang sangat berharga,” ungkap Ester.

Menurut Ester, saat ini tantangannya adalah bagaimana memperluas penerima manfaat agar lebih banyak keluarga yang bisa merasakan dampaknya. Adapun Kelompok produksi POC yang telah terbentuk di desa ini memanfaatkan sistem marga sebagai pendekatan mobilisasi.

Gotong Royong: Napas Kemandirian Desa

Kepala Desa Lobohede Obi Labu menyambut baik seluruh strategi melalui program tersebut. . Bagi dia, program GEF SGP Indonesia Fase 7 bukan sekadar memberikan bantuan fisik, melainkan memperkuat nilai-nilai luhur yang sudah lama ada.

“Kami memang punya tradisi gotong royong yang kuat. Program ini justru memperkuat ikatan itu dengan memberikan tujuan yang jelas: air untuk semua,” tuturnya saat berdialog dengan tim kunjungan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Apa Merk HP yang Sesuai Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jika Hidupmu adalah Film, Kamu si Tokoh Antagonis, Protagonis atau Cuman Figuran?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mie Apa yang Kamu Banget? Temukan Karakter Aslimu
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Benar-benar Asli Orang Jogja atau Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Warna Helm Motor Favorit Ungkap Karakter Pasangan Ideal, Tipe Mana Idamanmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kim Seon-ho atau Cha Eun-woo? Cari Tahu Aktor Korea yang Paling Cocok Jadi Pasanganmu!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tes Kepintaran GTA Kamu Sebelum Grand Theft Auto 6 Rilis!
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Kamu Tipe Red Flag, Green Flag, Yellow Flag atau Beige Flag?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Kabar Kamu Hari Ini? Cek Pesan Drakor untuk Hatimu
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI