Lontar dan Filosofi Kecukupan, Memahami Orang Sabu Lewat Sebatang Pohon

Rendy Adrikni Sadikin

Jum'at, 06 Februari 2026 | 18:50 WIB
Lontar dan Filosofi Kecukupan, Memahami Orang Sabu Lewat Sebatang Pohon
Masyarakat Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur.(Dokumentasi pribadi)
baca 10 detik
  • Pemahaman masyarakat Sabu Raijua berpusat pada Pohon Lontar, sumber utama yang menyediakan kebutuhan pangan dan bahan bangunan.
  • Orang Sabu menganut Filosofi Kecukupan; kebahagiaan diukur dari sedikitnya kebutuhan, bukan akumulasi materi tak terbatas.
  • Standar pembangunan modern sering keliru menilai kesejahteraan, padahal kearifan lokal berbasis alam lebih adaptif terhadap lingkungan.

Suara.com - Kunci memahami orang Sabu di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, bukan terletak pada angka-angka statistik ekonomi, melainkan pada sebatang pohon. Namanya Pohon Lontar. Masyarakat Sabu Raijua menyebut pohon tersebut sebagai napas kehidupan.

Di sudut Desa Raekore, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Selasa (20/1/2026), diskusi mendalam mengalir di kediaman seorang pendeta bernama Fransisko Jakob. Dia merupakan seorang sejarawan dan peneliti arsip. Tak hanya itu, pria yang karib disapa Ciko tesebut juga memiliki ikatan batin yang kuat dengan tanah kelahirannya yakni Sabu Raijua.

Ciko membagikan perspektif yang menjungkirbalikkan banyak asumsi modern tentang kemiskinan, kebahagiaan, dan pembangunan di Pulau Sabu. Tak hanya itu, dia juga menyebut bahwa memahami orang Sabu itu bukan dari angka statistik, tapi dari sebatang pohon: lontar.

Lontar sebagai  jantung dan napas kehidupan

Bagi masyarakat Sabu, lontar bukan sekadar komoditas perkebunan. Lontar merupakan poros yang memungkinkan kehidupan bertahan di tengah gersangnya pulau. Ciko membuka percakapan dengan sebuah pernyataan yang merangkum esensi tersebut secara tajam:

“Selama ada pohon lontar, orang Sabu bisa hidup,” ujar Ciko saat ditemui tim dari Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia di kediamannya.

Ya, kalimat sederhana ini bermakna luas. Lontar menyediakan segala kebutuhan dasar masyarakat Sabu, mulai dari pangan hingga bahan bangunan. Niranya diolah menjadi gula sabu sebagai sumber pangan dan air minum segar. Daunnya menjadi bahan anyaman untuk wadah air. Nah, batangnya menjadi tulang punggung bagi rumah tradisional mereka.

Infografis tentang pohon lontar.(Gambar dibuat menggunakan Notebook LM)
Infografis tentang pohon lontar.(Gambar dibuat menggunakan Notebook LM)

Hubungan intim antara Pohon Lontar dan masyarakat Sabu Raijua menciptakan ritme hidup yang unik. Dalam hal ini, seluruh sendi kehidupan sosial, ekonomi, hingga upacara adat, harus tunduk pada siklus produktivitas pohon lontar dan perubahan musim. Ciko pun memiliki penjelasan soal ketergantungan yang indah ini.

“Maka bagi orang Sabu, lontar adalah pohon kehidupan. Sumber makan, sumber minum, menjadi anyaman untuk wadah air, dan lain-lain. Semua yang dibutuhkan ada di sana.”

baca juga

Filosofi kecukupan, kebahagiaan dalam kesederhanaan

Satu hal yang paling membedakan masyarakat Sabu dengan paradigma ekonomi global adalah Filosofi Kecukupan. Sudah menjadi rahasia umum, di dunia modern, keberhasilan diukur dari akumulasi tanpa batas. Tapi, orang Sabu malah berbeda. Menurut Ciko, orang Sabu  justru memegang teguh prinsip: semakin sedikit kebutuhan, semakin bahagia.

Ciko mengisahkan bagaimana prinsip tersebut dipraktikkan oleh para penyadap lontar di Sabu Raijua. “Orang Sabu itu tidak banyak kebutuhan, secukupnya. Selama ada pohon lontar, orang Sabu bisa hidup.”

Ia mencontohkan seorang penyadap yang secara sadar akan berhenti mengambil nira ketika ia merasa persediaan untuk satu tahun sudah mencukupi. Baginya, imbuh Ciko, ini adalah bentuk kebijaksanaan dalam menjaga keseimbangan hidup. Meski dari kacamata ekonomi modern, tindakan ini dianggap tidak efisien.

“Kalau penyadap merasa sudah cukup untuk satu tahun, dia akan berhenti. Meskipun masih bisa sadap lebih banyak saat kemarau. Kalau pendekatan ekonomi, kita mengatakan bahwa mereka tidak memanfaatkan potensi,” ujar Ciko.

Fransisko Jakob.(Dokumentasi Pribadi)
Fransisko Jakob.(Dokumentasi Pribadi)

Paradoks kebahagiaan

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Nyawa Seharga Buku: Tragedi Siswa SD di NTT, Sesuram Itukah Pendidikan Indonesia?

Nyawa Seharga Buku: Tragedi Siswa SD di NTT, Sesuram Itukah Pendidikan Indonesia?

Liks | Rabu, 04 Februari 2026 | 18:24 WIB

Tanggapan Mensos Soal Kematian Siswa SD di NTT: Ini Bukan Kasus Individual, Data Kita Bocor!

Tanggapan Mensos Soal Kematian Siswa SD di NTT: Ini Bukan Kasus Individual, Data Kita Bocor!

News | Rabu, 04 Februari 2026 | 09:07 WIB

Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki

Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki

News | Selasa, 03 Februari 2026 | 19:29 WIB

Saat Daerah Tak Sanggup Bayar Gaji ASN, Siswa SD di NTT Menyerah pada Hidup Demi Buku Tulis

Saat Daerah Tak Sanggup Bayar Gaji ASN, Siswa SD di NTT Menyerah pada Hidup Demi Buku Tulis

News | Selasa, 03 Februari 2026 | 15:59 WIB

Siswa SD di NTT Bunuh Diri Karena Tak Mampu Beli Buku, DPR: Ini Alarm Keras, Negara Harus Hadir

Siswa SD di NTT Bunuh Diri Karena Tak Mampu Beli Buku, DPR: Ini Alarm Keras, Negara Harus Hadir

News | Selasa, 03 Februari 2026 | 14:20 WIB

Terkini

Kebakaran Empat Lawang, 20 Rumah Terdampak dan Kerugian Tembus Rp5,2 Miliar

Kebakaran Empat Lawang, 20 Rumah Terdampak dan Kerugian Tembus Rp5,2 Miliar

Sumsel | Senin, 10 Agustus 2026 | 23:52 WIB

3 Pelaku Begal Polisi di Palembang Ternyata Ayah, Anak dan Seorang Perempuan

3 Pelaku Begal Polisi di Palembang Ternyata Ayah, Anak dan Seorang Perempuan

Sumsel | Senin, 10 Agustus 2026 | 23:31 WIB

Jadi Ojek Pangkalan, Polisi di Palembang Ditusuk 4 Kali dan Motornya Dibawa Kabur Begal

Jadi Ojek Pangkalan, Polisi di Palembang Ditusuk 4 Kali dan Motornya Dibawa Kabur Begal

Sumsel | Senin, 10 Agustus 2026 | 23:07 WIB

Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan

Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan

Sumsel | Senin, 10 Agustus 2026 | 22:59 WIB

Kasus Iklan BJB, Ada Dugaan Aliran Dana ke Lisa Mariana Lewat Pihak Nominee

Kasus Iklan BJB, Ada Dugaan Aliran Dana ke Lisa Mariana Lewat Pihak Nominee

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 22:22 WIB

KPK Tahan Bos-Bos Iklan Bank BJB, Dirut Yuddy Renaldi Mendadak Sakit Saat Akan Dibui

KPK Tahan Bos-Bos Iklan Bank BJB, Dirut Yuddy Renaldi Mendadak Sakit Saat Akan Dibui

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 22:10 WIB

BRI Beri Diskon Spesial Seminar Johnny Andrean Lewat Aplikasi BRImo

BRI Beri Diskon Spesial Seminar Johnny Andrean Lewat Aplikasi BRImo

Bri | Senin, 10 Agustus 2026 | 22:07 WIB

Menuju IFRC 2026, ERT NHM Perdalam Teknik dan Strategi Penyelamatan

Menuju IFRC 2026, ERT NHM Perdalam Teknik dan Strategi Penyelamatan

Jakarta | Senin, 10 Agustus 2026 | 22:07 WIB

Gelar Dicopot! Profil Menantu Sultan Brunei yang Bikin Penasaran Publik, Ternyata Ini Kasusnya

Gelar Dicopot! Profil Menantu Sultan Brunei yang Bikin Penasaran Publik, Ternyata Ini Kasusnya

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 21:53 WIB

PSSI Murka! Justin Hubner dan Keluarga Jadi Sasaran Ancaman, Publik Diminta Hentikan Serangan

PSSI Murka! Justin Hubner dan Keluarga Jadi Sasaran Ancaman, Publik Diminta Hentikan Serangan

Bola | Senin, 10 Agustus 2026 | 21:53 WIB

×