- Siswa SD berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, NTT, meninggal bunuh diri karena kesulitan membeli buku tulis.
- Peristiwa ini menyoroti lemahnya penanganan sosial pemerintah daerah akibat pemangkasan anggaran transfer dari pemerintah pusat.
- Rocky Gerung mengkritik keras proyek besar pemerintah kontras dengan kegagalan mengatasi kepapaan warga di tingkat akar rumput.
Suara.com - Tragedi bunuh dirinya seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) berinisial YBS (10) karena tak mampu membeli buku tulis, menjadi potret kelam di balik megahnya angka pertumbuhan ekonomi nasional.
Peristiwa ini menjadi sorotan, menggambarkan ketidakmampuan pemerintah daerah dalam menangani persoalan sosial akibat pemangkasan anggaran dari pusat.
Jurnalis Senior Hersubeno Arief yang juga terlibat dalam diskusi menyoroti kondisi fiskal daerah yang kian memprihatinkan setelah adanya pemangkasan transfer keuangan dari pusat. Menurutnya, banyak pemerintah daerah saat ini berada dalam kondisi "menyerah" secara finansial.
"Jangankan untuk menangani masalah-masalah begini untuk membayar gaji aparatur sipil negaranya aja banyak yang kesulitan dan banyak yang nyerah," kata Hersubeno dalam kanal Youtube Rocky Gerung Official, pada Selasa (3/2/2026).
Menurut dia, wilayah seperti NTT memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat rendah, sehingga mustahil bagi pemerintah daerah setempat untuk mampu meng-cover persoalan kemiskinan ekstrem tanpa dukungan penuh dari anggaran pusat.
Hilirisasi vs Kepekaan Terhadap ‘Kepapaan’ Warga
Menanggapi hal tersebut, pengamat politik sekaligus akademisi Rocky Gerung menilai tragedi buku tulis ini sebagai negative impression terhadap klaim prestasi pemerintah pusat.
Ia mengkritik keras perbandingan antara proyek-proyek besar yang dipamerkan di forum internasional dengan realitas di tingkat hulu (masyarakat bawah).
"Boleh dipamerkan tentang perumahan rakyat misalkan mungkin juga isinya cuman proposal. Boleh dipamerkan tentang semua rencana PSN, batu PSN, proyek strategis nasional boleh dipamerkan tentang hilirisasi tapi di hulu ada masalah yaitu kepekaan terhadap kepapaan warga negara, kepekaan terhadap ketidakmampuan rakyat kita untuk bertahan hidup," ujar Rocky Gerung.
Dia menegaskan bahwa pidato yang berapi-api soal kebesaran bangsa dan janji mengejar koruptor menjadi tidak relevan ketika fakta di lapangan menunjukkan adanya keretakan psikologi pada masyarakat marginal.
Baca Juga: Siswa SD Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Rocky Gerung: Ada yang Salah Kebijakan Pemerintah
"Semua isu itu akan dibatalkan oleh fakta-fakta kecil tadi dengan akibat yang besar yaitu keretakan psikologi manusia. Bayangkan anak umur 10 tahun memutuskan untuk bunuh diri dan menulis surat yang sangat sederhana tetapi dengan kedalaman psikologi bahwa dia minta maaf dia akan pergi mama tidak perlu bersedih," katanya.
Kemudian Rocky juga melihat tindakan YBS yang menulis surat perpisahan sederhana namun menyentuh merupakan bukti bahwa sang bocah sangat memahami penderitaan ibunya yang harus berjuang sendiri.
“Itu menunjukkan dia memahami kondisi psikologi dari ibunya. Dia memahami jalan hidup yang sudah ditempuh oleh ibunya yang memiliki lima orang anak dan tiga kali bercerai, “ tambahnya.
Tragedi di Kabupaten Ngada ini menjadi pengingat keras bagi pemangku kebijakan bahwa keadilan sosial bukan sekadar deretan angka di atas kertas, melainkan ketersediaan buku dan pulpen di atas meja belajar anak-anak di pelosok negeri. (Tsabita Aulia)