- Prioritaskan menyelesaikan kewajiban finansial seperti zakat dan utang konsumtif segera setelah menerima uang THR.
- Alokasikan dana THR menggunakan rumus sederhana 50-20-20-10.
- Hindari pemborosan impulsif.
Suara.com - Momen menerima Tunjangan Hari Raya (THR) selalu menjadi saat yang paling dinantikan oleh para pekerja menjelang Lebaran.
Bagi banyak orang, THR adalah nafas segar untuk memenuhi kebutuhan hari raya, mulai dari membeli baju baru, mudik, hingga memberikan "angpao" kepada sanak saudara.
Namun, realitanya, seringkali dana THR habis begitu saja dalam hitungan hari, bahkan sebelum gema takbir berkumandang.
Fenomena "uang numpang lewat" ini biasanya terjadi karena pengelolaan keuangan yang impulsif dan kurangnya perencanaan.
Agar dana tambahan ini bisa memberikan manfaat jangka panjang dan tidak membuat kantong kering setelah Lebaran, simak panduan lengkap strategi mengelola THR berikut ini.
1. Dahulukan Kewajiban: Zakat dan Utang
Langkah pertama yang harus dilakukan begitu dana THR masuk ke rekening adalah menyisihkan untuk kewajiban.
Dalam konteks hari raya, zakat fitrah (dan zakat mal jika sudah mencapai nishab) adalah prioritas utama bagi umat Muslim.
Selain zakat, gunakan sebagian THR untuk melunasi atau mencicil utang konsumtif yang berbunga tinggi.
Ingatlah bahwa THR adalah pendapatan ekstra yang sangat efektif untuk mengurangi beban finansial di masa depan.
Baca Juga: Perbaikan Jalan Rusak di Jalur Mudik Dilakukan Minimal 10 Hari Sebelum Lebaran
Dengan menyelesaikan kewajiban di awal, Anda akan memiliki gambaran bersih mengenai sisa dana yang benar-benar bisa digunakan untuk keperluan konsumsi.
2. Buat Alokasi Anggaran dengan Rumus Sederhana
Jangan biarkan dana THR bercampur begitu saja dengan gaji bulanan di satu rekening tanpa catatan.
Gunakan metode alokasi anggaran agar pengeluaran lebih terukur. Salah satu rumus yang disarankan oleh banyak perencana keuangan adalah:
- 50% untuk Kebutuhan Lebaran: Mudik, hidangan khas hari raya, dan perlengkapan ibadah.
- 20% untuk Sosial: Angpao Lebaran (salam tempel) untuk orang tua, keponakan, dan sedekah.
- 20% untuk Tabungan/Investasi: Dana cadangan atau modal investasi.
- 10% untuk Dana Darurat: Antisipasi biaya tak terduga selama perjalanan mudik atau pasca-Lebaran.
3. Batasi Anggaran "Salam Tempel"
Memberi angpao kepada sanak saudara memang sudah menjadi tradisi yang baik di Indonesia.
Namun, seringkali poin inilah yang menjadi kebocoran terbesar dalam dana THR.
Untuk mengantisipasinya, buatlah daftar penerima secara detail. Tentukan nominal yang masuk akal sesuai kemampuan, bukan karena gengsi.
Ingatlah bahwa esensi Lebaran adalah silaturahmi, bukan ajang pamer kemakmuran melalui besarnya nominal angpao yang diberikan.
4. Waspadai Jebakan Self-Reward Berlebihan
Godaan diskon besar-besaran di pusat perbelanjaan maupun marketplace seringkali mengaburkan logika.
Banyak orang terjebak dalam perilaku doom spending, menghabiskan uang untuk barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan dengan dalih "menghargai diri sendiri" setelah bekerja keras setahun penuh.
Sebelum memencet tombol checkout, berikan waktu 24 jam untuk berpikir, "Apakah saya membutuhkan barang ini, atau hanya sekadar ingin?"
Membeli baju baru memang sunnah, namun tidak harus mahal dan tidak harus berlebihan secara kuantitas.
5. Persiapkan Dana untuk "Bulan Panjang" Pasca-Lebaran
Salah satu kesalahan finansial yang paling sering terjadi adalah lupa bahwa setelah Lebaran, masih ada hari-hari biasa yang harus dijalani sebelum gaji bulan berikutnya cair.
Sering kali jarak antara hari raya dan tanggal gajian berikutnya terasa sangat panjang.
Pastikan Anda tidak menghabiskan seluruh THR dan gaji bulanan sekaligus.
Sisihkan dana operasional untuk transportasi bekerja, tagihan listrik, dan biaya makan sehari-hari untuk setidaknya dua hingga tiga minggu setelah libur Lebaran usai.
Mengelola THR bukan berarti tidak boleh bersenang-senang atau menikmati hasil kerja keras. Kuncinya adalah pengendalian diri dan skala prioritas.
Dengan perencanaan yang matang, Anda bisa merayakan Idul Fitri dengan khidmat dan penuh kegembiraan tanpa harus merasa pusing dengan kondisi keuangan yang kritis saat kembali bekerja.
Selamat mengelola THR dengan bijak!