- Kelelahan kognitif akibat paparan informasi digital konstan menurunkan kemampuan regulasi diri dan berpikir reflektif.
- Akumulasi micro-stress dari interaksi digital menjaga sistem saraf dalam mode siaga, meningkatkan reaktivitas impulsif.
- Desain platform dan budaya digital yang mengutamakan kecepatan mendorong otak beroperasi dominan dalam mode berpikir cepat.
Suara.com - Pernahkah Anda merasa semakin mudah reaktif di media sosial? Cepat berkomentar, gegabah membagikan berita, atau tanpa sadar membeli barang setelah melihat iklan sekilas. Perilaku ini bukan sekadar soal kebiasaan, melainkan respons tubuh dan pikiran terhadap dunia digital yang serba cepat.
Psikolog Irma Agustina (@ayankirma) menjelaskan bahwa di balik refleks click and share yang tampak sederhana, ada dinamika kompleks yang membuat kita lebih impulsif. Berikut adalah lima alasannya.
1. Paparan Informasi Berlebih yang Melelahkan Otak
Setiap hari, kita dibanjiri oleh ratusan notifikasi, berita, dan konten tanpa henti. Menurut psikolog Irma Agustina, paparan konstan ini menyebabkan kelelahan kognitif.
“Di era digital, kita tidak hanya lelah secara fisik, tetapi juga bisa lelah secara kognitif. Scroll tanpa henti dan informasi yang datang bertubi-tubi membuat kapasitas regulasi diri kita menurun,” jelasnya. Saat otak lelah, kemampuan kita untuk berpikir reflektif dan menimbang keputusan ikut melemah.
2. Akumulasi Micro-stress yang Membuat Sistem Saraf Siaga
Setiap interaksi kecil di dunia digital bisa menjadi sumber stres mikro (micro-stress). Membaca berita cemas, melihat komentar negatif, atau membalas chat pekerjaan di luar jam kerja adalah contohnya.
“Hal-hal kecil ini membuat sistem saraf kita terus berada dalam mode siaga. Tubuh bersiap merespons, lagi dan lagi,” ujar Irma. Ketika tubuh terus-menerus tegang, kita menjadi lebih reaktif dan mudah bertindak tanpa berpikir panjang.
3. Desain Platform yang Mendorong Reaksi Instan
Baca Juga: Topeng Sosial dan Kerapuhan Diri dalam Drama 'The Art of Sarah'
Platform media sosial dirancang untuk meminimalkan jeda. Notifikasi berwarna mencolok, tombol share dan like yang mudah diakses, serta fitur infinite scroll sengaja dibuat agar perhatian kita terus tersedot.
Desain minim friksi ini memperkecil ruang bagi kita untuk berhenti sejenak dan berpikir sebelum bertindak. Akibatnya, perilaku impulsif seperti berkomentar atau membagikan sesuatu terasa lebih natural.
4. Otak yang Terbiasa dengan Mode “Berpikir Cepat”
Psikolog Daniel Kahneman dalam bukunya, Thinking, Fast and Slow, menjelaskan bahwa manusia memiliki dua mode berpikir: cepat (otomatis) dan lambat (reflektif). Dunia digital hampir selalu mengaktifkan mode berpikir cepat.
Kita melihat sesuatu yang memancing emosi, dan sebelum sempat mencerna, jempol sudah bergerak. Kita membaca judul sensasional, dan tanpa membuka isi, opini sudah terbentuk. Kebiasaan ini membuat otak kita semakin jarang menggunakan mode berpikir lambat yang kritis.
5. Budaya Digital yang Menghargai Kecepatan
Di ruang digital, kecepatan sering kali dianggap lebih penting daripada kedalaman. Respons cepat dianggap lebih relevan, komentar pertama terasa lebih berarti, dan update terkini menjadi simbol keterhubungan.
Budaya ini secara tidak sadar mendorong kita untuk selalu terburu-buru dalam berinteraksi. Padahal, seperti yang diingatkan oleh Irma, jeda bahkan hanya 10 detik adalah yang kita butuhkan untuk kembali bijak sebelum mengambil keputusan.