Dalam Islam, perempuan memiliki kondisi khusus seperti haid dan nifas. Haid merupakan luruhnya dinding rahim yang tidak dibuahi, sedangkan nifas adalah darah yang keluar setelah proses persalinan. Kedua kondisi ini menjadi penghalang sahnya puasa.
Apabila darah haid keluar saat Anda sedang berpuasa, maka puasa tersebut batal dan wajib diganti (qadha) di hari lain setelah suci. Ketentuan ini dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim nomor 335 berikut:
كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.
Artinya: “Kami dulu mengalami haid. Kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.” [HR. Muslim, no. 335].
4. Keluar Mani dengan Sengaja
Mengeluarkan mani secara sengaja, seperti melalui masturbasi, termasuk perbuatan yang membatalkan puasa. Karena dilakukan dengan kesadaran dan kehendak sendiri, maka puasa yang dijalankan menjadi tidak sah dan wajib diganti di hari lain.
Adapun jika keluarnya mani terjadi tanpa kesengajaan, misalnya karena mimpi basah saat tidur, maka puasa tetap sah dan tidak batal. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:
عن أبي سعيد الحدري قال : قال رسول الله صلي الله علبه وسلم : ثَلَاث ٌلاَ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ : أَلحِجَامَةُ وَالْقَيْءُ وَاْلإِحْتِلاَمُ (رواه الترميذي والبيهقي)
Dari Abu Said al-Khudri: Rasulullah bersabda: "Tiga hal yang tidak membuat batal orang yang berpuasa: berbekam, muntah, dan mimpi basah (hingga keluar mani)." [HR. Tirmidzi dan Baihaqi].
5. Melakukan Perbuatan Dosa
Puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari berbagai perbuatan dosa. Tindakan seperti bergosip, mengadu domba, berbohong, memandang dengan syahwat, hingga bersumpah palsu dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa Anda.
Meski tidak selalu membatalkan secara fikih, perbuatan tersebut dapat merusak nilai ibadah yang sedang dijalankan.
Penjelasan mengenai hal ini terdapat dalam hadis riwayat Ad-Dailami berikut:
خمسٌ يُفطِرن الصّائِم: الغِيبةُ، والنّمِيمةُ، والكذِبُ، والنّظرُ بِالشّهوةِ، واليمِينُ الكاذِبةُ
Artinya: “Lima hal yang bisa membatalkan pahala orang berpuasa: membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat, dan bersumpah palsu.” (HR Ad-Dailami).
6. Berhubungan Suami Istri (Jima’)
Melakukan hubungan suami istri pada siang hari saat Anda sedang berpuasa termasuk perbuatan yang membatalkan puasa. Sebab, puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan hawa nafsu.
Jika hal ini dilakukan, maka selain wajib mengqadha puasa, pelakunya juga dikenai kifarat atau denda sesuai ketentuan syariat.
Ulama Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad menjelaskan:
والقرآن دال على أن الجماع مفطّر كالأكل والشرب، لا يُعرف فيه خلاف
Artinya: Al-Qur’an menunjukkan bahwa Jima’ (berhubungan badan) membatalkan puasa seperti halnya makan dan minum, tidak ada perbedaan pendapat akan hal ini. (Kitab Zaadul Ma’ad 2/66).
7. Murtad
Seseorang yang keluar dari agama Islam (murtad) saat menjalankan puasa Ramadan, maka puasanya otomatis batal. Hal ini karena salah satu syarat sah puasa adalah beriman kepada Allah SWT.
Tanpa keimanan, ibadah puasa tidak lagi memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan.
Dasar kewajiban puasa bagi orang-orang beriman tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183).
Kontributor : Hillary Sekar Pawestri