Sering Impulsif Saat Ramadan? Psikolog Sarankan Jeda Sebelum Bereaksi

Vania Rossa | Suara.com

Sabtu, 28 Februari 2026 | 21:36 WIB
Sering Impulsif Saat Ramadan? Psikolog Sarankan Jeda Sebelum Bereaksi
Ilustrasi Impulsif saat Ramadan. (Freepik)
  • Masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata 7 jam 22 menit harian di internet, mempercepat kebiasaan reaksi digital impulsif.
  • Paparan stimulus intens menyebabkan overstimulasi kognitif, mempersingkat rentang perhatian, dan memicu pengambilan keputusan emosional.
  • Kondisi Ramadan memperparah respons cepat karena perubahan energi dan emosi memerlukan jeda reflektif sebelum bertindak.

Suara.com - Ramadan dikenal sebagai bulan menahan diri, namun di ruang digital, fenomena sebaliknya kerap muncul: jempol bergerak lebih cepat, komentar spontan, dan reaksi datang sebelum informasi selesai dipahami.

Fenomena ini bukan hanya soal Ramadan, melainkan kaca pembesar dari kebiasaan digital yang sudah terbentuk. Masyarakat modern hidup dalam ritme cepat: cepat tahu, cepat menilai, cepat bereaksi.

Data Digital 2025 Global Overview Report mencatat bahwa masyarakat Indonesia usia 16 tahun ke atas menghabiskan rata-rata 7 jam 22 menit per hari di internet. Dalam ekosistem dengan arus secepat ini, dorongan untuk langsung bereaksi perlahan terasa normal.

Belakangan, publik kerap menyaksikan isu meledak dalam hitungan jam. Salah satu contohnya adalah polemik penerima beasiswa LPDP yang dikritik netizen karena anaknya memiliki kewarganegaraan asing—sebuah ilustrasi bagaimana opini publik terbentuk cepat, sering kali sebelum konteks utuh dipahami.

Psikolog Klinis Rika Ermasari, S.Psi., Psikolog, ACC, menjelaskan bahwa pola ini bukan semata persoalan literasi digital atau kedewasaan, melainkan juga terkait kondisi kognitif masyarakat yang terus terpapar stimulus.

“Paparan digital yang intens membuat otak mengalami overstimulasi, sehingga rentang perhatian menjadi lebih pendek. Akibatnya, kita lebih mudah terdistraksi dan sulit fokus pada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi panjang,” ujar Rika.

Dalam kondisi ini, otak lebih mudah masuk ke mode reaktif. Setiap hari, tanpa disadari, kita mengambil ratusan keputusan kecil: scroll atau berhenti, tonton atau lewati, klik atau abaikan. Akumulasi keputusan mikro ini memicu decision fatigue yang menurunkan kualitas kontrol diri.

“Paparan digital memperbanyak micro-decisions. Saat energi menurun, kapasitas mental ikut turun sehingga keputusan lebih mudah didasari emosi dan menjadi lebih impulsif,” jelasnya.

Situasi Ramadan membuat kondisi ini lebih rentan. Perubahan jam tidur, fluktuasi energi, dan sensitivitas emosi saat berpuasa menciptakan kombinasi yang membuat respons digital makin cepat, dan sering kali emosional.

“Ketika kondisi fisik dan emosional berubah, kita lebih mudah hanyut oleh emosi di media sosial, baik marah, sedih, maupun tergoda promo. Penilaian jadi lebih bias dan memicu perilaku impulsif,” kata Rika.

Di sisi lain, ekosistem platform digital memang dirancang untuk mempercepat siklus reaksi. Video pendek, notifikasi mencolok, dan alur tanpa jeda membentuk pola reward instan di otak.

“Otak terbiasa mendapat kesenangan cepat dari like, komentar, atau konten singkat. Dalam kondisi energi rendah, otak cenderung mencari yang paling mudah dan menyenangkan, sehingga kemampuan menunda keinginan ikut melemah,” ujarnya.

Di titik ini, konsep wise mind dalam Dialectical Behavior Therapy (DBT) relevan: kondisi ketika pikiran rasional dan emosi bekerja seimbang sebelum seseorang bertindak.

Menurut Rika, tantangan terbesar masyarakat digital hari ini bukan soal mengetahui mana yang benar, melainkan terlalu cepat bereaksi sebelum wise mind sempat bekerja.

Untuk itu, penting membangun ritual jeda yang sederhana namun konsisten. Beberapa keterampilan berbasis DBT yang bisa dilatih antara lain:

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Viral Guru Muslim Mengajar di Sekolah Katolik, Sikap Siswanya Saat Ramadan Jadi Sorotan

Viral Guru Muslim Mengajar di Sekolah Katolik, Sikap Siswanya Saat Ramadan Jadi Sorotan

Entertainment | Sabtu, 28 Februari 2026 | 20:45 WIB

5 Menu Takjil Buka Puasa yang Bisa Dibikin Sendiri dengan Modal Sedikit

5 Menu Takjil Buka Puasa yang Bisa Dibikin Sendiri dengan Modal Sedikit

Lifestyle | Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:11 WIB

Dilema Midnight Sale Jelang Lebaran: Pilih Tidur Nyenyak atau Checkout Seragam Keluarga Estetik?

Dilema Midnight Sale Jelang Lebaran: Pilih Tidur Nyenyak atau Checkout Seragam Keluarga Estetik?

Your Say | Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:05 WIB

Terkini

Kontroversi Dikidoy, Akun yang Live TikTok Sidang Pelecehan Seksual Mahasiswa FH UI

Kontroversi Dikidoy, Akun yang Live TikTok Sidang Pelecehan Seksual Mahasiswa FH UI

Lifestyle | Rabu, 15 April 2026 | 09:41 WIB

Apa itu Objektifikasi Perempuan? Berkaca pada Kasus Pelecehan Seksual 16 Mahasiswa FH UI

Apa itu Objektifikasi Perempuan? Berkaca pada Kasus Pelecehan Seksual 16 Mahasiswa FH UI

Lifestyle | Rabu, 15 April 2026 | 09:11 WIB

Apa Beda Whistleblower dan Justice Collaborator di Kasus Pelecehan FH UI?

Apa Beda Whistleblower dan Justice Collaborator di Kasus Pelecehan FH UI?

Lifestyle | Rabu, 15 April 2026 | 08:55 WIB

Kreatif Saja Tak Cukup, UMK Kuliner Perlu Bimtek untuk Tembus Pasar Lebih Luas

Kreatif Saja Tak Cukup, UMK Kuliner Perlu Bimtek untuk Tembus Pasar Lebih Luas

Lifestyle | Rabu, 15 April 2026 | 08:43 WIB

16 Nama Mahasiswa FH UI Pelaku Pelecehan Seksual ke 27 Orang

16 Nama Mahasiswa FH UI Pelaku Pelecehan Seksual ke 27 Orang

Lifestyle | Rabu, 15 April 2026 | 08:41 WIB

5 Urutan Skincare Pagi dengan Day Cream dan Moisturizer yang Benar

5 Urutan Skincare Pagi dengan Day Cream dan Moisturizer yang Benar

Lifestyle | Rabu, 15 April 2026 | 08:30 WIB

Tren Baru Gaya Hidup: Kipas Portable dengan Kamera, Hadapi Cuaca Panas Sambil Abadikan Momen

Tren Baru Gaya Hidup: Kipas Portable dengan Kamera, Hadapi Cuaca Panas Sambil Abadikan Momen

Lifestyle | Rabu, 15 April 2026 | 08:27 WIB

Kronologi Lengkap 16 Mahasiswa FH UI Lakukan Pelecehan Seksual ke 27 Korban

Kronologi Lengkap 16 Mahasiswa FH UI Lakukan Pelecehan Seksual ke 27 Korban

Lifestyle | Rabu, 15 April 2026 | 08:22 WIB

Apa itu Helicopter Parenting? Dikaitkan dengan 16 Mahasiswa FH UI Pelaku Pelecehan Seksual

Apa itu Helicopter Parenting? Dikaitkan dengan 16 Mahasiswa FH UI Pelaku Pelecehan Seksual

Lifestyle | Rabu, 15 April 2026 | 08:16 WIB

6 Rekomendasi Sabun Mandi Aroma Buah yang Segar Dipakai Pagi-Pagi

6 Rekomendasi Sabun Mandi Aroma Buah yang Segar Dipakai Pagi-Pagi

Lifestyle | Rabu, 15 April 2026 | 08:16 WIB