Konflik ini sebenarnya sudah memanas sejak 'Perang 12 Hari' pada Juni 2025 antara Iran dan Israel.
Memasuki Februari 2026, AS mengerahkan dua kapal induk yakni USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford ke Teluk Persia sebagai sinyal tekanan militer. Langkah itu kini terbukti bukan sekadar manuver simbolis.
Respons Iran: Serangan Balasan
Tak butuh waktu lama bagi Iran untuk merespons. Militer Israel melaporkan rudal Iran ditembakkan ke wilayah utara Israel. Sirene serangan udara berbunyi di beberapa kota.
Iran juga menargetkan sejumlah pangkalan militer AS di kawasan, termasuk Al Udeid (Qatar), Al-Salem (Kuwait), Al-Dhafra (UEA), hingga markas Armada Kelima AS di Bahrain. Situasi ini meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas.
Apa Dampaknya?

Konfrontasi terbuka ini berpotensi mengguncang stabilitas Timur Tengah, memengaruhi harga minyak global, serta memicu ketidakpastian geopolitik yang berdampak hingga Asia, termasuk Indonesia.
Israel telah menetapkan keadaan darurat nasional dan menutup wilayah udaranya untuk penerbangan sipil. Sementara AS disebut tengah merencanakan operasi lanjutan selama beberapa hari ke depan.
Konflik yang berakar dari perubahan ideologi sejak 1979, kebuntuan diplomasi nuklir, hingga dinamika politik domestik kini memasuki babak paling berbahaya. Dunia menahan napas kini menunggu apakah eskalasi ini akan berhenti pada operasi terbatas atau berkembang menjadi perang regional berskala besar.
Kontributor : Trias Rohmadoni