Suara.com - Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran turut menewaskan Ayatollah Ali Khamenei.
Pemimpin Iran tersebut turut tewas dalam serangan tragis pada penghujung bulan Februari, Sabtu (28/2/2026).
Kursi kepemimpinan Iran kini tampak kosong usai sang pemimpin besar tewas.
Tongkat estafet kepemimpinan Iran ternyata kini sudah diserahkan ke beberapa pihak yang turut diberikan kepercayaan oleh Khamenei jika ia suatu saat tak bisa lagi memimpin.
Lantas, siapa yang kini bakal pimpin Iran menghalau serangan Amerika Serikat dan Israel?
Dewan Kempemimpinan Sementara kini turun tangan
Berdasarkan laporan terbaru dari Al Jazeera dan berbagai sumber resmi pada awal Maret 2026, Iran kini berada di bawah kepemimpinan sementara sebuah dewan khusus setelah wafatnya Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei.
Sesuai dengan Konstitusi Iran, kekosongan kekuasaan ini tidak diisi oleh satu orang saja, melainkan oleh sebuah panel kolektif.
Pasal 111 Konstitusi Republik Islam Iran menjelaskan, jika Pemimpin Agung meninggal dunia atau tidak mampu menjalankan tugasnya, sebuah dewan kepemimpinan sementara harus segera dibentuk.
Dewan ini bertugas menjalankan seluruh wewenang Pemimpin Agung sampai Majelis Ahli (Assembly of Experts) memilih penerus tetap.
Dewan ini terdiri dari tiga pejabat tinggi negara, yakni.
- Presiden Republik Islam Iran.
- Ketua Mahkamah Agung (Kepala Kehakiman).
- Seorang Fuqaha (ahli hukum Islam) dari Dewan Garda.
Tugas dan wewenang dewan
Dewan tiga anggota ini memiliki wewenang penuh layaknya Pemimpin Agung, tetapi bersifat sementara.
Mereka mengawasi angkatan bersenjata, kebijakan luar negeri, serta fungsi-fungsi keagamaan negara.
Meski demikian, fokus utama mereka saat ini adalah menjaga ketenangan publik dan memfasilitasi proses pemilihan Pemimpin Agung yang baru oleh Majelis Ahli.
Dewan sementara tunggu keputusan majelis ahli
Tugas dewan ini akan berakhir segera setelah Majelis Ahli, yakni badan yang terdiri dari 88 ulama senior mencapai kesepakatan mengenai sosok yang akan menjadi Pemimpin Agung berikutnya.
Proses pemilihan ini bisa berlangsung sangat cepat, bisa dalam hitungan hari atau memakan waktu lebih lama tergantung pada dinamika politik internal antara faksi-faksi di Iran.
Berikut profil ketiga tokoh yang ikut serta dalam dewan sementara tersebut.
Masoud Pezeshkian (Presiden Iran)

Sebagai presiden yang menjabat, Pezeshkian menjadi wajah administratif dari dewan ini.
Masoud Pezeshkian dengan latar belakangnya yang cenderung moderat dibandingkan faksi garis keras lainnya.
Ia bertanggung jawab memastikan roda pemerintahan dan diplomasi tetap berjalan di tengah masa berkabung nasional dan ketegangan geopolitik yang meningkat.
Gholam-Hossein Mohseni-Ejei (Ketua Mahkamah Agung)

Mohseni-Ejei adalah tokoh senior di dunia hukum dan keamanan Iran. Sebelum menjabat sebagai kepala yudisial, ia pernah menjadi Menteri Intelijen.
Kehadirannya di dewan ini sangat krusial untuk menjaga stabilitas hukum dan keamanan dalam negeri selama masa transisi yang sensitif.
Ayatollah Alireza Arafi (Anggota Dewan Garda)
![Alireza Arafi [Ist]](https://media.arkadia.me/v2/articles/souparmand/3iknpe0JPURnPMWmBcngaydqS5dBJqxs.png)
Ayatollah Arafi ditunjuk oleh Dewan Kebijaksanaan (Expediency Council) untuk melengkapi keanggotaan dewan ini sebagai perwakilan ulama danahli hukum Islam.
Arafi bukan orang sembarangan. Ia adalah tokoh berpengaruh dalam sistem pendidikan agama di Qom dan menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Ahli.
Perannya adalah memastikan bahwa semua keputusan dewan tetap selaras dengan prinsip-prinsip teokrasi Islam yang menjadi fondasi negara Iran.
Hingga sosok baru terpilih, Pezeshkian, Mohseni-Ejei, dan Arafi yang secara resmi memegang mandat tertinggi untuk menakhodai Iran melewati masa transisi bersejarah ini.
Mereka kini juga menanti keputusan hingga penerus Ali Khamenei disetujui secara mutlak oleh Majelis Ahli.
Kontributor : Armand Ilham