- Sebanyak 12 mahasiswa UPM ikut Asia Business Case Program bersama NTU dan SolBridge dari November 2025 hingga Januari 2026 di Korea Selatan.
- Program ini merupakan imersi bisnis lintas negara yang fokus pada studi kasus nyata dan dinamika manajemen bisnis Asia.
- Peserta belajar langsung praktik bisnis, budaya kerja berbeda, serta mengasah kolaborasi dalam tim multinasional yang beragam.
Suara.com - Belajar bisnis global tidak cukup hanya dari teori di ruang kelas. Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana perusahaan bekerja, memahami budaya bisnis di negara lain, serta belajar berkolaborasi dengan tim lintas negara.
Dalam konteks itulah, 12 mahasiswa program magister dari Universitas Prasetiya Mulya (UPM) mengikuti Asia Business Case (ABC) Program, sebuah program imersi bisnis yang mempertemukan mahasiswa pascasarjana dari tiga institusi di Asia: Universitas Prasetiya Mulya, National Taiwan University, dan SolBridge International School of Business di Korea Selatan.
Program ini berlangsung sejak November 2025 hingga Januari 2026, dengan melibatkan masing-masing 12 mahasiswa dari setiap universitas. Tahun ini, Korea Selatan menjadi tuan rumah. Puncak kegiatan berlangsung pada 12–16 Januari 2026 melalui rangkaian studi lapangan yang mempertemukan mahasiswa dengan berbagai praktik bisnis dan dinamika manajemen di kawasan Asia.

Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari studi kasus di ruang kelas, tetapi juga melihat langsung bagaimana perusahaan beroperasi, memahami budaya kerja, serta berinteraksi dengan peserta dari latar belakang negara yang berbeda.
Mochammad Rifqi, mahasiswa Program Magister Manajemen Strategic Management Universitas Prasetiya Mulya, mengatakan pengalaman tersebut memberikan sudut pandang baru dalam memahami bisnis.
“Program ini memberi kesempatan untuk melihat langsung perusahaan yang menjadi objek penelitian. Kami juga belajar memahami Korea sebagai sebuah negara, baik dari sisi bisnis maupun konteks nasionalnya, sehingga bisa melihat bagaimana negara tersebut mampu berkembang pesat secara ekonomi dalam waktu relatif singkat,” ujarnya.
Menurut Rifqi, memahami budaya suatu negara juga menjadi bagian penting dari pembelajaran. Ia menilai selalu ada pelajaran yang dapat diambil dari cara masyarakat dan organisasi bekerja dalam konteks budaya yang berbeda.
Pengalaman serupa dirasakan Lee Chieun Yun, peserta dari National Taiwan University. Ia menilai dinamika kerja lintas negara menjadi salah satu aspek paling berkesan dari program tersebut.
“Sungguh mengesankan. Kami bekerja bersama mahasiswa dari latar belakang yang sangat beragam. Dengan waktu yang terbatas, kami harus membangun kerja tim dengan orang yang sebelumnya belum saling mengenal. Keterlibatan langsung dalam proyek dunia nyata membuat pengalaman ini sangat membekas,” katanya.
Baca Juga: Mengapa Kampus Lebih Sibuk Kejar Akreditasi daripada Jaga Nyawa Mahasiswa?
Asia Business Case Program sendiri telah diselenggarakan secara bergilir di tiga negara Asia. Indonesia menjadi tuan rumah pada 2023, disusul Taiwan pada 2024, dan Korea Selatan pada 2026.
Koordinator program dari Universitas Prasetiya Mulya, Henry Pribadi, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memberikan pemahaman tentang praktik bisnis di Asia melalui pendekatan lintas budaya.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga terlibat dalam studi kasus nyata, bekerja dalam tim multinasional, serta berinteraksi langsung dengan perusahaan dan akademisi dari berbagai negara.
Selama program berlangsung, para peserta tergabung dalam kelompok internasional untuk menganalisis persoalan bisnis yang dihadapi perusahaan mitra. Mereka juga mengikuti kunjungan industri, diskusi dengan pimpinan perusahaan, serta sesi kuliah dari profesor universitas mitra.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami lingkungan bisnis di berbagai negara Asia sekaligus mengasah kemampuan berpikir strategis dan bekerja dalam tim lintas budaya.
Bagi para peserta, pengalaman ini bukan hanya soal belajar bisnis, tetapi juga tentang memahami bagaimana kolaborasi lintas negara dapat membuka cara pandang baru terhadap dunia kerja yang semakin global.