Suara.com - Salah satu tradisi yang sangat lekat dengan perayaan Idulfitri di Indonesia adalah sungkeman. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh anak kepada orang tua atau yang muda pada anggota keluarga yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan sekaligus permohonan maaf.
Sungkeman dilakukan dengan cara bersimpuh atau berlutut di hadapan orang tua, kemudian mencium tangan mereka. Gestur ini melambangkan kerendahan hati serta pengakuan atas segala kesalahan yang mungkin pernah dilakukan, baik yang disengaja maupun tidak.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sungkem diartikan sebagai sujud sebagai tanda bakti dan hormat. Dalam budaya Jawa, tradisi ini memiliki makna yang sangat mendalam karena tidak sekadar menjadi formalitas, tetapi juga menjadi simbol penghormatan dan permohonan maaf atau yang sering disebut nyuwun ngapura, yang dilakukan dengan posisi bersimpuh.
Orang yang lebih muda berada dalam posisi lebih rendah dari orang yang lebih tua, kemudian mencium tangan mereka sebagai tanda hormat.
Gerakan sederhana ini menyimpan makna yang besar. Sungkeman mengajarkan seseorang untuk menumbuhkan sikap rendah hati, menghilangkan sifat egois, serta menjunjung tinggi kesopanan dalam hubungan keluarga.
Dalam suasana Idulfitri, sungkeman juga menjadi momen penting untuk memperbaiki hubungan dan mempererat kembali silaturahmi yang mungkin sempat renggang akibat kesalahpahaman atau perasaan yang terpendam.
Selain itu, tradisi ini menjadi pengingat bagi anak-anak agar selalu menghormati orang tua serta menghargai segala pengorbanan yang telah diberikan sejak kecil.

11 Ucapan Sungkeman Lebaran dari Anak ke Orang Tua
Karena berasal dari budaya Jawa, ucapan sungkem sering kali disampaikan menggunakan bahasa Jawa halus atau krama. Namun, banyak juga yang mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia dengan penuh ketulusan.
Berikut 11 contoh ucapan sungkem Lebaran dari anak kepada orang tua yang bisa dijadikan inspirasi.
1. Bapak, Ibu, di hari yang suci ini aku datang bersimpuh memohon ampun atas segala salah dan khilaf. Jika ada kata-kataku yang melukai atau sikapku yang mengecewakan, mohon bukakan pintu maaf yang seluas-luasnya. Terima kasih atas kasih sayang, doa, dan pengorbanan yang tak pernah putus untukku.
2. Pak, Bu, selamat Hari Raya Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin jika selama ini anakmu sering berbuat salah. Terima kasih karena selalu mencintai dan membimbingku tanpa lelah. Doakan aku agar bisa menjadi anak yang lebih baik dan mampu membanggakan kalian.
3. Dari kecil hingga sekarang, Ayah dan Ibu tak pernah berhenti berjuang untukku. Hari ini aku memohon maaf atas semua kesalahanku. Semoga Allah membalas segala kebaikan kalian dengan kesehatan, kebahagiaan, dan umur yang penuh berkah.
4. Bu, segala kebaikan yang ada dalam diriku berasal dari didikan dan kasih sayang Ibu. Maaf jika selama ini aku sering menyakiti hati Ibu dengan kata maupun sikap yang tidak pantas. Di hari penuh berkah ini, izinkan aku memohon maaf dengan sepenuh hati.
5. Pak, terima kasih atas semua nasihat dan kerja keras yang selama ini Bapak lakukan demi keluarga. Maaf jika aku belum bisa menjadi anak yang sempurna. Doakan aku agar selalu berada di jalan yang diridai Allah.
6. Tidak ada kasih yang lebih tulus selain kasih sayang Ayah dan Ibu. Namun sering kali aku lalai dan bahkan menyakiti hati kalian. Di hari Lebaran ini, aku memohon ampun atas semua kesalahan dan berjanji untuk menjadi anak yang lebih berbakti.
7. Kepareng kula matur dumateng Bapak lan Ibu, kula ngaturaken sugeng Riyadi Idulfitri. Nuwun sewu kula nyuwun pangapunten lahir batin lan nyuwun berkah. (Dengan izin saya berbicara kepada Bapak dan Ibu, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin serta memohon berkah).
8. Kula ngaturaken sugeng riyadi. Kula nyuwun agunging pangapunten. Mugi Gusti Allah paring pangapura lan ngijabahi sedaya pandonga panjenengan. (Saya mengucapkan Selamat Lebaran. Saya memohon maaf sebesar-besarnya. Semoga Allah mengampuni dosa dan mengabulkan semua doa Anda).
9. Kula nyuwun pangapunten lahir batin dhumateng Bapak lan Ibu menawi wonten lepat kula ing lampah lan tembung. Mugi Gusti Allah tansah paring hidayah lan berkah dhumateng kula. (Saya mohon maaf lahir dan batin kepada Ayah dan Ibu jika ada kesalahan dalam perkataan maupun perbuatan. Semoga Allah selalu memberikan hidayah kepada saya).
10. Kula ngaturaken sugeng Riyadi Idulfitri lan ngalap berkah dhumateng Bapak lan Ibu. Mugi Gusti Allah tansah paring kesehatan, keslametan, lan kabegjan dhumateng kita sedaya. (Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri dan memohon berkah kepada Ayah dan Ibu. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan keselamatan kepada kita semua).
11. Ayah, Ibu, maafkan semua kesalahan anakmu ini. Terima kasih karena selalu menjadi tempat pulang yang paling hangat. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan, kebahagiaan, dan umur panjang untuk Ayah dan Ibu.
Demikian itu contoh ucapan sungkeman lebaran dari anak ke orang tua. Tradisi sungkeman bukan sekadar kebiasaan saat Lebaran, tetapi juga menjadi momen yang sarat makna. Melalui sungkeman, seseorang belajar merendahkan hati, menghargai orang tua, serta mempererat kembali hubungan keluarga yang mungkin sempat renggang.
Di tengah perubahan zaman, menjaga tradisi seperti sungkeman menjadi cara sederhana untuk tetap merawat nilai-nilai luhur dalam keluarga. Karena pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang saling memaafkan dan memperkuat kasih sayang antar anggota keluarga.
Kontributor : Mutaya Saroh