-
Arti Minal Aidin Wal Faizin adalah doa kembali suci dan meraih kemenangan.
-
Ungkapan Minal Aidin Wal Faizin bukan berarti mohon maaf lahir dan batin.
-
Ucapan Lebaran yang dicontohkan sahabat Nabi adalah Taqabbalallahu minna wa minkum.
Suara.com - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, ucapan Minal Aidin Wal Faizin menggema di mana-mana, mulai dari pesan singkat, media sosial, hingga diucapkan langsung saat bersilaturahmi.
Namun, tahukah Anda bahwa selama ini banyak masyarakat Indonesia yang salah mengira "Minal Aidin Wal Faizin" adalah bahasa Arab dari "Mohon Maaf Lahir dan Batin".
Padahal, secara harfiah, arti keduanya sangatlah berbeda. Lantas, apa makna yang sebenarnya? Simak ulasan lengkapnya berikut ini agar tidak salah ucap lagi!
Arti Minal Aidin Wal Faizin secara Harfiah
Kalimat Minal 'Aidin wal Fa'izin (من العائدين والفائزين) sebenarnya merupakan sebuah doa dan harapan. Jika dibedah satu per satu artinya seperti berikut ini:
- Min: Dari
- Al-Aidin: Orang-orang yang kembali
- Wal: Dan
- Al-Faizin: Orang-orang yang menang
Secara utuh, ungkapan ini berarti: "Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali (ke fitrah/suci) dan orang-orang yang meraih kemenangan."
Makna "Kembali" di sini merujuk pada kondisi suci seperti bayi yang baru lahir setelah dosa-dosanya diampuni selama Ramadan.
Sementara itu, "Menang" berarti sukses melawan hawa nafsu dan meraih pahala terbaik di bulan suci.
Bukan Berarti "Mohon Maaf Lahir Batin"
Baca Juga: 8 Menu Buka Puasa untuk Penderita Asam Lambung Tanpa Santan
Kesalahan persepsi ini terjadi karena kebiasaan masyarakat Indonesia yang selalu menyambung kalimat tersebut dengan "Mohon maaf lahir dan batin".
Karena sering diucapkan dalam satu tarikan napas, banyak yang menganggap keduanya memiliki arti yang sama.
Meskipun bukan berarti permohonan maaf, menggunakan ucapan ini saat Lebaran tetap diperbolehkan karena mengandung doa yang sangat baik bagi sesama Muslim.
Asal-usul dan Hukum Mengucapkan Selamat Idul Fitri
Menariknya, ungkapan "Minal Aidin Wal Faizin" justru jarang terdengar di negara-negara Arab. Kalimat ini diyakini berasal dari sastra Arab klasik atau syair pujian dan menjadi sangat populer di wilayah Asia Tenggara, seperti Indonesia dan Malaysia.
Terkait hukumnya, pendakwah Habib Muhammad Al Habsyi menjelaskan bahwa para ulama dari empat mazhab sepakat bahwa memberi ucapan selamat (tahniah) saat hari raya adalah Sunnah.