Bukan Sekadar Sampah: Limbah Makanan Pasar Ini Diolah Jadi 'Obat' Pembersih Sungai Cisadane

M. Reza Sulaiman | Suara.com

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:23 WIB
Bukan Sekadar Sampah: Limbah Makanan Pasar Ini Diolah Jadi 'Obat' Pembersih Sungai Cisadane
Ilustrasi sungai. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga)
  • UNEP melaporkan dunia membuang 1,05 miliar ton makanan pada 2022, menghasilkan gas metana kuat dari TPA.
  • The Flavor Bliss Alam Sutera mengubah limbah organik menjadi ribuan liter Eco Enzyme untuk Sungai Cisadane.
  • Inisiatif ini mencetak rekor MURI 7.000 liter Eco Enzyme pada Maret 2026, melibatkan kolaborasi lintas komunitas.

Suara.com - Laporan terbaru Program Lingkungan PBB (UNEP) mengungkap fakta ekologis yang mengkhawatirkan: dunia menyia-nyiakan 1,05 miliar metrik ton makanan pada tahun 2022. Setidaknya satu miliar porsi makanan yang sebenarnya layak konsumsi justru berakhir di tempat sampah setiap harinya.

Berdasarkan data tersebut, rata-rata satu orang membuang hingga 79 kilogram makanan per tahun. Seperlima dari makanan yang tersedia bagi manusia disia-siakan oleh rumah tangga, restoran, dan sektor ritel.

Masalahnya tidak berhenti pada pemborosan pangan. Sebagian besar sampah makanan ini berujung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Saat terurai, tumpukan organik ini menghasilkan gas metana—gas rumah kaca yang memiliki kekuatan pemanasan iklim hingga 80 kali lipat lebih kuat dari karbon dioksida dalam 20 tahun pertama.

UNEP menegaskan, sampah makanan tidak hanya memicu perubahan iklim, tetapi memperburuknya. Negara-negara beriklim panas bersuhu tinggi, seperti Indonesia, berisiko membuang lebih banyak makanan karena tantangan penyimpanan agar bahan tidak cepat membusuk.

Ekonomi Sirkular sebagai Solusi Nyata

Melihat besarnya ancaman gas metana dari limbah organik tersebut, penerapan ekonomi sirkular (circular economy) menjadi kebutuhan mendesak. Sebuah inisiatif nyata untuk memutus rantai krisis iklim ini dibuktikan oleh kawasan kuliner The Flavor Bliss Alam Sutera dan Pasar 8 di Tangerang Selatan.

Alih-alih membiarkan limbah sayur dan kulit buah dari para pedagang dan tenant kuliner menumpuk di TPA, pengelola kawasan memprosesnya secara mandiri. "Sampah" yang berpotensi menjadi gas beracun itu ditransformasi menjadi cairan serbaguna ramah lingkungan atau Eco Enzyme.

Tidak tanggung-tanggung, produksi mandiri ini menghasilkan ribuan liter cairan enzim yang didedikasikan sepenuhnya untuk merevitalisasi urat nadi warga Tangerang Raya, yakni aliran Sungai Cisadane.

Puncak dari inisiatif pelestarian ini berlangsung pada Minggu (8/3/2026). The Flavor Bliss Alam Sutera menyumbangkan 7.000 liter Eco Enzyme untuk dituangkan ke Kawasan Sungai Jeletreng yang bermuara ke Cisadane. Aksi masif ini sukses mencatatkan nama di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai giat lingkungan melalui penuangan Eco Enzyme terbanyak di satu aliran sungai.

7.000 liter Eco Enzyme dituangkan ke Kawasan Sungai Jeletreng yang bermuara ke Cisadane. (Dok. Alam Sutera)
7.000 liter Eco Enzyme dituangkan ke Kawasan Sungai Jeletreng yang bermuara ke Cisadane. (Dok. Alam Sutera)

Acara penuangan ini mendapat sorotan nasional dengan hadirnya Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisal Nurofiq, Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan, perwakilan Kementerian Agama, serta jajaran pemerintah pusat dan daerah.

Direktur PT Alam Sutera Realty Tbk, Andre Simandjaja, menjelaskan bahwa produksi cairan disinfektan alami dari limbah organik ini adalah bukti konkret komitmen perusahaan terhadap manajemen sampah (waste management) yang terintegrasi di kawasannya.

“Kami turut senang dapat berkontribusi dan berkolaborasi dalam memerangi pencemaran sungai melalui penyediaan Eco Enzyme yang diproduksi secara mandiri di Flavor Bliss Alam Sutera. Giat produksi ini merupakan salah satu program serta komitmen Alam Sutera untuk terus menghadirkan kawasan lingkungan hidup yang berkelanjutan,” ujar Andre.

Langkah penuangan cairan hasil fermentasi limbah organik ini dirancang sebagai "terapi biologis" untuk memecah polutan, menjernihkan air, dan menekan bau tak sedap pada sungai yang sempat tercemar.

“Diharapkan hal ini dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya masyarakat yang masih memanfaatkan aliran Sungai Cisadane untuk kehidupan sehari-hari,” tambah Andre.

Kolaborasi Lintas Komunitas

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Perut Kenyang, Tempat Sampah Penuh: Refleksi Makna Ramadan di Tengah Lonjakan Food Waste

Perut Kenyang, Tempat Sampah Penuh: Refleksi Makna Ramadan di Tengah Lonjakan Food Waste

Your Say | Senin, 09 Maret 2026 | 09:55 WIB

Belajar dari China, Sampah Makanan MBG Berpotensi Jadi Biodiesel

Belajar dari China, Sampah Makanan MBG Berpotensi Jadi Biodiesel

Your Say | Kamis, 26 Februari 2026 | 09:03 WIB

TPA Terancam Penuh 2028, Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Sampah Indonesia?

TPA Terancam Penuh 2028, Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Sampah Indonesia?

News | Jum'at, 20 Februari 2026 | 20:42 WIB

Rekor Buruk! Jakarta Timur Jadi Penyumbang Sampah Makanan Terbanyak, Tembus 432 Ton

Rekor Buruk! Jakarta Timur Jadi Penyumbang Sampah Makanan Terbanyak, Tembus 432 Ton

News | Senin, 16 Februari 2026 | 11:52 WIB

Bahaya Pencemaran Sungai Cisadane, Peneliti BRIN Ungkap Risiko Kanker

Bahaya Pencemaran Sungai Cisadane, Peneliti BRIN Ungkap Risiko Kanker

Health | Minggu, 15 Februari 2026 | 13:54 WIB

Darurat Limbah! Menteri LH Gugat PT Biotek Saranatama Usai Pestisida Racuni Sungai Cisadane

Darurat Limbah! Menteri LH Gugat PT Biotek Saranatama Usai Pestisida Racuni Sungai Cisadane

News | Jum'at, 13 Februari 2026 | 16:27 WIB

Terkini

7 Foundation Full Coverage Anti Crack, Makeup Tetap Mulus Meski Berkeringat

7 Foundation Full Coverage Anti Crack, Makeup Tetap Mulus Meski Berkeringat

Lifestyle | Sabtu, 25 April 2026 | 19:35 WIB

Powder Blush vs Liquid Blush: Mana yang Lebih Cocok untuk Kulit Anda?

Powder Blush vs Liquid Blush: Mana yang Lebih Cocok untuk Kulit Anda?

Lifestyle | Sabtu, 25 April 2026 | 18:44 WIB

5 Lip Tint yang Stain-nya Tahan Lama, Murah dan Tak Bikin Bibir Kering

5 Lip Tint yang Stain-nya Tahan Lama, Murah dan Tak Bikin Bibir Kering

Lifestyle | Sabtu, 25 April 2026 | 18:40 WIB

5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian

5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian

Lifestyle | Sabtu, 25 April 2026 | 18:40 WIB

UNIQLO x Cecilie Bahnsen Debut di Indonesia, Koleksi Feminin Romantis Siap Jadi Statement Daily Wear

UNIQLO x Cecilie Bahnsen Debut di Indonesia, Koleksi Feminin Romantis Siap Jadi Statement Daily Wear

Lifestyle | Sabtu, 25 April 2026 | 18:03 WIB

Literasi Keuangan Jadi Kunci Perempuan Lebih Percaya Diri Kelola Bisnis

Literasi Keuangan Jadi Kunci Perempuan Lebih Percaya Diri Kelola Bisnis

Lifestyle | Sabtu, 25 April 2026 | 17:46 WIB

Sepeda Hybrid Cocok Buat Apa? Ini 5 Pilihan Terbaik dengan Harga Bersahabat

Sepeda Hybrid Cocok Buat Apa? Ini 5 Pilihan Terbaik dengan Harga Bersahabat

Lifestyle | Sabtu, 25 April 2026 | 17:21 WIB

Sepatu Salomon Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah untuk Hiking dan Aktivitas Outdoor

Sepatu Salomon Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah untuk Hiking dan Aktivitas Outdoor

Lifestyle | Sabtu, 25 April 2026 | 16:47 WIB

Mendekati Usia 30? Ini Cara Simpel Jaga Elastisitas Kulit Biar Tetap Kencang dan Glowing

Mendekati Usia 30? Ini Cara Simpel Jaga Elastisitas Kulit Biar Tetap Kencang dan Glowing

Lifestyle | Sabtu, 25 April 2026 | 16:44 WIB

Siapa Ayah Sambung Syifa Hadju? Ini Profil Andre Ariyantho yang Jadi Sorotan

Siapa Ayah Sambung Syifa Hadju? Ini Profil Andre Ariyantho yang Jadi Sorotan

Lifestyle | Sabtu, 25 April 2026 | 16:31 WIB