-
Reza Arap raih skor IQ 85 akibat kondisi depresi mayor.
-
Depresi berat hambat fungsi kognitif, konsentrasi, dan kecepatan memproses informasi.
-
Penurunan skor IQ akibat gangguan mental bersifat sementara dan bisa pulih.
Suara.com - Reza Arap sempat membuat publik heboh setelah skor tes IQ miliknya hanya 85, paling kecil di antara teman-temannya di Marapthon.
Hasil tes IQ Reza Arap yang paling kecil di antara lainnya itu membuat publik bertanya-tanya, karena selama ini dirinya dikenal cerdas dalam strategi bisnis dan musik.
Usut punya usut, Reza Arap mengaku saat itu mengerjakan tes IQ dalam kondisi stres berat.
Tepe, salah satu sahabat Reza Arap pun sempat mengonfirmasi bahwa kekasih mendiang Lula Lahfah itu didiagnosis major depression disorder.
Hubungan Major Depression Disorder dan Hasil Tes IQ
Secara medis dilansir dari platinumpsychiatry.com, hubungan antara Major Depressive Disorder (MDD) atau gangguan depresi mayor dengan performa kognitif otak memang sangat erat.

Perlu digarisbawahi, skor IQ 85 yang didapat saat seseorang depresi bukanlah cerminan kecerdasan permanen atau kecerdasan laten yang sebenarnya. Penurunan skor ini lebih kepada hambatan fungsi otak sementara.
Saat seseorang mengalami depresi mayor, otak mengalami gangguan kognitif yang meliputi penurunan konsentrasi, gangguan memori, hingga kecepatan pemrosesan informasi yang melambat.
Jadi, saat mengerjakan soal tes IQ yang membutuhkan fokus tinggi, pengidap depresi akan merasa sangat kesulitan.
Berdasarkan riset, ada beberapa mekanisme yang menjelaskan mengapa depresi berat, seperti yang dialami seseorang dalam kondisi stres hebat bisa memengaruhi hasil tes, antara lain:
1. Kelelahan Mental Ekstrem
Gejala depresi seperti lesu dan tidak berenergi membuat seseorang sulit mempertahankan atensi pada soal-soal tes yang rumit.
2. Perubahan Struktur Otak
Stres kronis yang menjadi ciri khas depresi dapat mengganggu neuroplastisitas (kemampuan otak untuk beradaptasi) serta keseimbangan neurotransmiter di otak.
3. Faktor Gaya Hidup
Pengidap depresi biasanya mengalami gangguan tidur, pola makan tidak teratur, dan kurang gerak, yang semuanya secara tidak langsung menurunkan performa kognitif.
Kasus Reza Arap: Skor IQ yang Bisa Sembuh
Jika melihat kasus Reza Arap yang mengerjakan tes saat stres berat, angka 85 tersebut hanyalah sebuah potret performa otaknya saat itu saja.
Kabar baiknya, dampak depresi terhadap IQ ini bersifat reversible alias bisa pulih kembali.
Penelitian menunjukkan bahwa penanganan depresi yang tepat, baik melalui psikoterapi, pengobatan medis, maupun kombinasi keduanya, dapat memulihkan fungsi kognitif.
Ketika gejala depresi mereda dan emosi lebih stabil, skor IQ seseorang bisa meningkat kembali ke tingkat yang seharusnya.
Pentingnya Deteksi Dini
Memahami kaitan antara depresi dan IQ sangat penting agar masyarakat tidak memberikan stigma negatif pada mereka yang memiliki skor IQ rendah saat kondisi mentalnya sedang terpuruk.
Semakin cepat depresi ditangani, semakin kecil pula risiko dampak jangka panjang terhadap fungsi kognitif otak.
Jadi, jika Anda merasa performa otak menurun drastis saat sedang banyak pikiran, bisa jadi itu adalah alarm bahwa kesehatan mental Anda sedang tidak baik-baik saja, bukan karena Anda kehilangan kecerdasan.