Suara.com - Liburan adalah cara yang tepat untuk melepas penat. Namun tanpa disadari, aktivitas ini ternyata meninggalkan jejak karbon yang lumayan besar bagi planet kita.
Industri pariwisata sendiri menyumbang sekitar 8% dari total emisi karbon dunia. Oleh karena itu, konsep green travel atau wisata hijau pada akhirnya adalah pilihan yang tepat sebagai solusi bagi Anda yang rindu berwisata.
Apa Itu Green Travel?
Environment Program Manager di Sustainable Hospitality, Anna Dacam mengatakan bahwa green travel atau wisata hijau adalah perjalanan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan wisata konvensional. Fokus utamanya adalah untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan alam semaksimal mungkin, mulai dari pengurangan jejak karbon, penggunaan air, hingga limbah.
Konsep green travel bertujuan agar manusia bisa menikmati perjalanan tanpa merusak lingkungan dan memastikan destinasi tetap indah untuk generasi mendatang.
Berikut 7 tips dari pakar yang bisa Anda ikuti untuk melakukan green travel ketika liburan:
1. Riset Mendalam dan Perencanaan yang Matang
Langkah pertama dimulai sejak sebelum Anda berangkat. Rencanakan perjalanan sejak jauh-jauh hari agar Anda bisa mempelajari opsi akomodasi, transportasi, dan makanan yang paling minim dampak negatifnya.
Anda bisa memilih agen tur atau hotel yang memiliki misi keberlanjutan nyata dalam operasional mereka.
2. Waspadai Greenwashing
Jangan mudah tergiur dengan label "ramah lingkungan". Anna Dacam memperingatkan wisatawan untuk selalu waspada terhadap praktik greenwashing. Sering kali suatu perusahaan berusaha mengaku-ngaku menawarkan peralatan ramah lingkungan padahal nyatanya tidak didukung dengan tindakan.
3. Berpikir dan Bertindak Lokal
Theresa Jackson dari Enlightened Journeys Travel menyarankan untuk menjelajahi satu wilayah secara mendalam, daripada terlalu sering berpindah-pindah tempat. Ini dapat dilakukan dengan memprioritaskan restoran yang menggunakan bahan lokal dan memilih agen tur yang mempromosikan pertukaran budaya.
Pastikan uang yang Anda keluarkan itu dapat tersalurkan langsung ke masyarakat lokal untuk membantu pendanaan konservasi dan pemulihan habitat.
4. Perhatikan Isi Tas dan Barang Bawaan
Founder New Climate Culture, Eloisa Lewis menyarankan untuk mengecek kembali isi tas yang Anda bawa. Hindari barang sekali pakai dan beralihlah ke produk yang dapat digunakan kembali (reusable) atau yang mudah terurai secara alami.
Contohnya untuk peralatan makan, bawalah alat makan sendiri untuk menghindari plastik sekali pakai. Penulis sekaligus sustainable travel expert, Sarah Reid juga menyarankan untuk membawa water-purifying device atau alat pemurnian air sendiri daripada terus membeli air mineral kemasan botol plastik. Atau lebih simpelnya membawa air minum sendiri dari rumah.
5. Pilih Aktivitas Rendah Emisi
Pilihlah kegiatan yang sangat sedikit meninggalkan jejak karbon. Aktivitas yang disarankan adalah mendaki gunung, bersepeda, atau bermain kayak.
6. Pertimbangkan Moda Transportasi
Pesawat dan mobil pribadi adalah penyumbang emisi terbesar. Jika harus menggunakan pesawat, maka pilihlah penerbangan langsung untuk mengurangi emisi saat lepas landas dan mendarat. Selain itu, pilih juga kelas ekonomi, karena emisinya 3 kali lebih kecil dibandingkan kelas bisnis.
7. Jangan Menyia-nyiakan Makanan
Pesanlah makanan secukupnya dan habiskan, karena proses panjang makanan dari kebun hingga ke meja makan itu menghasilkan jejak karbon yang sangat besar. Pakar juga menyarankan untuk menyewa peralatan berlibur daripada membeli baru yang nantinya hanya akan menumpuk di rumah.
Wisata hijau tidak membatasi kesenangan, justru ini menjadi bentuk rasa syukur dan tanggung jawab kita terhadap keindahan alam. Selamat merencanakan perjalanan yang bermakna untuk libur panjang nanti!
"Saran saya adalah mempertimbangkan destinasi yang kita kunjungi dengan sebaik mungkin sebagai tempat yang kita harapkan dapat dikunjungi oleh generasi mendatang," kata Director Center for Sustainable Tourism Arizona State University, Kelly Bricker.