- FMIPA UNJ, Kanwil Kemenag, dan MGMP DKI Jakarta mengadakan pelatihan riset bagi 140 guru dan siswa MA.
- Kegiatan berlangsung di Jakarta dengan fokus memberikan tujuh materi pembelajaran berbasis sains dan keberlanjutan lingkungan.
- Program ini bertujuan meningkatkan profesionalisme pendidik agar mampu menghasilkan inovasi pembelajaran biologi yang adaptif.
Suara.com - Guru Biologi Madrasah Aliyah (MA) didorong untuk menguasai pembelajaran berbasis riset sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus menjawab tantangan pembelajaran abad ke-21.
Dorongan tersebut mengemuka dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang diselenggarakan Rumpun Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DKI Jakarta dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Biologi Madrasah Aliyah DKI Jakarta.
Sebanyak 140 peserta yang terdiri dari guru Biologi Madrasah Aliyah dan siswa MA se-DKI Jakarta mengikuti kegiatan tersebut. Para peserta dibagi ke dalam sejumlah kelas tematik yang memadukan diskusi, praktik laboratorium, demonstrasi, hingga pendampingan langsung oleh dosen FMIPA UNJ.
Dekan FMIPA UNJ, Dr. Hadi Nasbey, mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk terus mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui kemitraan dengan sekolah dan madrasah.
"Perguruan tinggi harus terus membangun kolaborasi dengan sekolah dan madrasah dalam meningkatkan kompetensi guru, mengembangkan inovasi pembelajaran, serta menghadirkan solusi atas berbagai tantangan pendidikan," ujarnya.
Senada, Ketua Tim Fungsi Kerja Guru Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Anang Setiawan, menilai sinergi antara perguruan tinggi dan madrasah menjadi langkah penting dalam meningkatkan profesionalisme guru.
Menurutnya, guru perlu terus memperbarui kompetensi agar mampu memanfaatkan hasil riset dan menerapkannya dalam proses pembelajaran di kelas.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi dari tujuh tema yang berfokus pada pembelajaran berbasis sains dan keberlanjutan. Di antaranya pemanfaatan limbah lidah buaya dan ampas kopi menjadi eco-ink sebagai media pembelajaran, eksplorasi plankton untuk meningkatkan literasi sains, implementasi eco enzyme berbasis konsep zero waste, pelatihan penelitian tindakan kelas (classroom action research) berbasis lesson study, teknik perbanyakan tanaman pangan, integrasi mini komposter dan budidaya tanaman pekarangan, hingga pengenalan lebah tanpa sengat sebagai agen penyerbukan dan penjaga keanekaragaman hayati.
Melalui materi tersebut, guru didorong untuk tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membangun pembelajaran yang lebih kontekstual, berbasis riset sederhana, serta mengaitkan materi Biologi dengan persoalan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Ketua MGMP Biologi Madrasah Aliyah DKI Jakarta, Tinia Leyli Shofia Ahmad, mengatakan tema-tema yang diangkat dalam pelatihan relevan dengan kebutuhan guru saat ini.
"Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak guru yang memperoleh pembaruan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Biologi di madrasah," ujarnya.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan komunitas guru, peningkatan kompetensi pendidik diharapkan mampu melahirkan inovasi pembelajaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan di madrasah.