Meskipun biaya per pemakaian dapat meningkatkan persepsi konsumen terhadap pakaian berkualitas tinggi, tetapi tentunya masih banyak pembeli yang mengutamakan keterjangkauan harga. Banyak konsumen tetap tidak mampu membayar harga awal yang lebih tinggi meskipun mereka memahami nilai ekonomis jangka panjangnya.
Selain itu, perhitungan ini hanya mencakup dimensi daya tahan. Biaya per pemakaian belum mencerminkan variabel keberlanjutan lainnya, seperti kondisi kesejahteraan pekerja, penggunaan serat alami atau sintetis, dan dampak ekologis lainnya dalam rantai produksi.
Implementasi label ini juga masih bergantung pada kesediaan merek untuk bersikap transparan, di mana merek berkualitas tinggi cenderung memiliki insentif lebih besar untuk menerapkannya dibandingkan produsen fesyen cepat saji.
Konsep ini sebenarnya layak dipertimbangkaan agar pembeli terdorong untuk memikirkan daya tahan pakaian dan seberapa sering mereka memakainya.
Hal ini nantinya juga akan berdampak pada lingkungan karena memotivasi para pembeli untuk meninggalkan fast fashion dan memilih untuk membeli produk tahan lama yang jauh lebih ramah lingkungan, bukan hanya menghemat uang dalam jangka panjang.
Penulis: Vicka Rumanti