Bukan Sekadar Perilaku Individu, Ini Masalah Sistem di Balik Krisis Sampah

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 07 April 2026 | 18:50 WIB
Bukan Sekadar Perilaku Individu, Ini Masalah Sistem di Balik Krisis Sampah
Foto Tumpukan Sampah Di Bantar Gebang (Dok.pribadi/ Nada Arini )

Suara.com - Masalah sampah di Indonesia kerap disederhanakan sebagai persoalan perilaku individu. Namun bagi Nada Arini, akar persoalannya justru jauh lebih dalam: sistem yang belum mendukung perubahan.

Bagi Nada, seorang ibu berusia 46 tahun sekaligus pendiri Sustainable Indonesia, kebiasaan masyarakat hanyalah bagian kecil dari persoalan besar yang lebih struktural. Ia melihat, sistem yang ada justru belum memberi ruang yang cukup bagi masyarakat untuk menjalani gaya hidup berkelanjutan.

Masalah Sistemik yang Membuat Orang “Lelah”

Menurut Nada, rendahnya angka daur ulang di Indonesia bukan semata karena kurangnya kesadaran. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan tingkat daur ulang nasional baru mencapai sekitar 22 persen—angka yang masih jauh dari ideal.

Minimnya fasilitas pengolahan sampah menjadi salah satu penyebab utama. Di banyak wilayah, masyarakat yang ingin memilah atau mendaur ulang sampah justru tidak memiliki akses yang memadai. Dalam situasi seperti ini, upaya individu sering kali terasa sia-sia.

Nada menggambarkan pengalaman tersebut sebagai “berenang melawan arus”.

“Soalnya kita kan ada di dalam sistem yang tidak mendukung… jadi kita itu kayak berenang melawan arus, capek pastinya,” ujarnya.

Kondisi ini membuat praktik sustainable living bukan hanya soal komitmen pribadi, tetapi juga soal daya tahan menghadapi sistem yang tidak berpihak. Rasa lelah menjadi konsekuensi yang wajar, terutama ketika perubahan yang dilakukan tidak diikuti oleh dukungan lingkungan sekitar.

Sustainable Indonesia Sebagai Wadah Edukasi Sustainable Living

Kegiatan Edutrip yang Dilakukan Oleh Sustainable Indonesia (Dok.pribadi/Nada Arini)
Kegiatan Edutrip yang Dilakukan Oleh Sustainable Indonesia (Dok.pribadi/Nada Arini)

Melihat kondisi tersebut, Nada bersama Sustainable Indonesia memilih fokus pada masyarakat urban. Menurutnya, kelompok ini memiliki sumber daya yang relatif lebih besar, baik dari sisi finansial, waktu, maupun akses informasi.

Namun di sisi lain, gaya hidup yang serba nyaman justru menjadi tantangan tersendiri.

baca juga

“Kita fokusnya ke masyarakat urban… mereka punya daya untuk berubah, tapi sering kali paling malas karena sudah nyaman,” kata Nada.

Data juga menunjukkan bahwa tingkat konsumsi di perkotaan relatif tinggi. Timbulan sampah di kota-kota besar Indonesia berkisar antara 0,5 hingga 0,8 kilogram per orang per hari. Angka ini memperlihatkan bahwa perubahan perilaku di kelompok urban memiliki dampak signifikan terhadap pengurangan sampah secara keseluruhan.

Awalnya, Sustainable Indonesia menjalankan berbagai program seperti edutrip, ekspedisi, dan workshop. Namun seiring keterbatasan sumber daya, kini mereka lebih fokus pada workshop online dan edukasi melalui media sosial, cara yang dinilai lebih efisien untuk menjangkau lebih banyak orang.

Perubahan Tidak Bisa Hanya Individual

Meski mendorong perubahan dari individu, Nada menegaskan bahwa solusi tidak bisa berhenti di level personal. Perubahan besar, menurutnya, harus ditopang oleh sistem yang mendukung.

Ia menyoroti bahwa sejumlah regulasi terkait lingkungan sebenarnya sudah ada, tetapi sering kali lemah dalam implementasi dan pengawasan. Akibatnya, dampak kebijakan tidak benar-benar terasa di tingkat masyarakat.

Selain itu, ia juga menilai perlu adanya intervensi yang lebih luas, termasuk dalam mengatur pola konsumsi. Misalnya, dengan membatasi iklan yang mendorong perilaku konsumtif atau mendorong pelaku usaha untuk beralih ke material yang lebih ramah lingkungan.

Namun, keterbatasan peran negara saat ini tidak lantas menjadi alasan untuk berhenti. Nada menekankan bahwa perubahan tetap perlu dimulai dari individu, sembari terus mendorong perbaikan sistem.

Kolaborasi sebagai Kunci

Di tengah kompleksitas persoalan, Nada melihat bahwa kunci utamanya adalah kolaborasi. Isu lingkungan, menurutnya, tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja—baik individu, komunitas, maupun pemerintah.

“Kita tuh berbagi sumber daya semuanya… kalau kita nggak kerja sama untuk menjaga itu semua, ya suatu saat bumi ini nggak layak buat kita,” ujarnya.

Pada akhirnya, cara hidup berkelanjutan bukan hanya soal pilihan personal, tetapi juga tentang bagaimana sistem, kebijakan, dan kesadaran kolektif bisa berjalan beriringan. Tanpa itu, upaya individu akan terus terasa berat—dan perubahan yang diharapkan sulit benar-benar terjadi.

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Paragon Resmikan Empties Station di Halte CSW, Dorong Pengelolaan Sampah Kosmetik Berkelanjutan

Paragon Resmikan Empties Station di Halte CSW, Dorong Pengelolaan Sampah Kosmetik Berkelanjutan

Lifestyle | Selasa, 07 April 2026 | 18:24 WIB

Bukan Sekadar Tren, Bisnis Hijau Ternyata Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Bukan Sekadar Tren, Bisnis Hijau Ternyata Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Lifestyle | Selasa, 07 April 2026 | 15:35 WIB

Mencari Cukup di Tengah Riuh Kota: Perjalanan Nada Arini Jalani Sustainable Living

Mencari Cukup di Tengah Riuh Kota: Perjalanan Nada Arini Jalani Sustainable Living

Lifestyle | Selasa, 07 April 2026 | 15:28 WIB

Terkini

Sempat Kabur ke Seoul! Buronan Penyelundup iPhone Senilai Rp253 Miliar Ditangkap di Bandara Soetta

Sempat Kabur ke Seoul! Buronan Penyelundup iPhone Senilai Rp253 Miliar Ditangkap di Bandara Soetta

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:49 WIB

Bawa Alat Berat! Massa di Pamekasan Nekat Robohkan Proyek Toko Indomaret

Bawa Alat Berat! Massa di Pamekasan Nekat Robohkan Proyek Toko Indomaret

Jatim | Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:48 WIB

PP Tunas Berjalan, Meta Belum Laporkan Penindakan Akun Anak di Threads

PP Tunas Berjalan, Meta Belum Laporkan Penindakan Akun Anak di Threads

Tekno | Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:45 WIB

Skandal Kredit Macet Bank Sulselbar, Negara Rugi Rp32 Miliar

Skandal Kredit Macet Bank Sulselbar, Negara Rugi Rp32 Miliar

Sulsel | Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:43 WIB

Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir

Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir

Bisnis | Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:38 WIB

Buntut Viral Video Penyalahgunaaan Narkoba, 125 Narapidana Rutan Depok Dipindah ke Nusakambangan

Buntut Viral Video Penyalahgunaaan Narkoba, 125 Narapidana Rutan Depok Dipindah ke Nusakambangan

Jawa Tengah | Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:37 WIB

5 Rekomendasi Setting Balm Terbaik untuk Wajah Flawless Tanpa Pori, Anti Kilap Seharian

5 Rekomendasi Setting Balm Terbaik untuk Wajah Flawless Tanpa Pori, Anti Kilap Seharian

Lifestyle | Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:35 WIB

Review Minotaur: Perselingkuhan, Kekuasaan, dan Monster dalam Diri Manusia

Review Minotaur: Perselingkuhan, Kekuasaan, dan Monster dalam Diri Manusia

Your Say | Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:30 WIB

Outsourcing Kini Cuma Boleh 4 Pekerjaan, Ini Daftarnya di UU Ketenagakerjaan Baru

Outsourcing Kini Cuma Boleh 4 Pekerjaan, Ini Daftarnya di UU Ketenagakerjaan Baru

Bisnis | Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:16 WIB

Membaca Wajah Pra-Reformasi Tanah Air di Buku Hari-Hari Indonesia Gus Dur

Membaca Wajah Pra-Reformasi Tanah Air di Buku Hari-Hari Indonesia Gus Dur

Your Say | Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:00 WIB

×