- Nilai pasar furnitur global melampaui USD 700 miliar pada tahun 2025 seiring meningkatnya permintaan desain inovatif berkelanjutan.
- Pelaku industri desain Indonesia akan berpartisipasi dalam pameran Salone del Mobile Milano 2026 di Italia pada April.
- Langkah strategis tersebut bertujuan memperluas akses pasar ekspor sekaligus memperkuat citra desain nasional di tingkat internasional.
Ia menekankan kekuatan Indonesia terletak pada kreativitas desain, inovasi material, serta kemampuan mengolah produk bernilai artistik tinggi.
“Kreativitas dari Indonesia sendiri yang akan di-highlight, mulai dari model, material yang ditampilkan, sampai bagaimana kita mengolah material tersebut,” tambahnya.
Dalam pameran tersebut, Indonesia menghadirkan pavilion bertajuk House of Indonesia yang menampilkan kolaborasi lintas pelaku industri desain.
Pavilion ini dirancang sebagai representasi ekosistem desain nasional yang terintegrasi dan kolaboratif.
Kurasi karya dilakukan oleh desainer Alvin Tjitrowirjo yang mengusung perpaduan estetika, identitas budaya, dan eksplorasi material khas Indonesia.
“Kami ingin memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki ekosistem yang mampu berpikir secara konseptual dan siap bersaing di panggung global,” ujarnya.
Sementara itu, desain interior booth digarap oleh Santi Alaysius dengan pendekatan eksplorasi ruang dan narasi visual yang mencerminkan kolaborasi.
Sejumlah desainer Indonesia juga ambil bagian dalam program SaloneSatellite, yang diperuntukkan bagi talenta muda dunia.
Di antaranya Studio Banda, Zulyo Kumara, dan Cynthia Margaret.
Partisipasi Indonesia turut mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Perdagangan RI, Indonesia Design Development Centre (IDDC), Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Milan, serta Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma.
Melalui keikutsertaan ini, Indonesia diharapkan tidak hanya memperluas pasar ekspor furnitur, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai kekuatan baru dalam industri desain global.