- Program pengabdian masyarakat Universitas Prasetiya Mulya meraih Global Impact Awards dari AACSB International atas inovasi pemberdayaan UMKM.
- Mahasiswa menggunakan pendekatan living lab untuk memberikan pendampingan usaha dan solusi praktis bagi pelaku UMKM di pedesaan.
- Program ini terbukti mampu menjembatani kesenjangan akses pengetahuan serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui kolaborasi pendidikan masyarakat.
Suara.com - Ketimpangan akses pengetahuan dan pendampingan usaha masih menjadi tantangan besar bagi pelaku UMKM di wilayah pedesaan. Tanpa dukungan yang memadai, banyak usaha kecil sulit berkembang dan tertinggal dalam persaingan.
Upaya menjadikan pendidikan sebagai alat perubahan sosial kembali mendapat pengakuan global. Program pengabdian masyarakat (Community Development/COMDEV) dari Universitas Prasetiya Mulya meraih penghargaan dalam ajang Global Impact Awards yang diselenggarakan oleh AACSB International.
Penghargaan ini tidak sekadar menyoroti capaian akademik, tetapi lebih pada dampak nyata yang dihasilkan.
COMDEV dinilai berhasil menjawab tantangan lokal melalui pendekatan yang menggabungkan pembelajaran mahasiswa dengan pemberdayaan masyarakat.

Fokusnya adalah penguatan usaha mikro dan kecil di wilayah pedesaan,sektor yang kerap menjadi tulang punggung ekonomi, namun masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Melalui pendekatan living lab, mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi langsung terlibat dalam dinamika masyarakat. Mereka bekerja bersama pelaku usaha kecil, memahami persoalan di lapangan, hingga merancang solusi yang aplikatif. Di sisi lain, masyarakat mendapatkan akses pada pengetahuan dan pendampingan yang dapat meningkatkan kapasitas usaha mereka.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat melampaui fungsi tradisionalnya. Ia menjadi ruang pertemuan antara teori dan praktik, sekaligus jembatan antara kampus dan kebutuhan riil masyarakat. Dalam konteks pembangunan, model seperti ini berpotensi menciptakan dampak yang lebih berkelanjutan karena melibatkan partisipasi aktif dari berbagai pihak.
“Melalui COMDEV, kami tidak hanya membentuk mahasiswa yang unggul secara akademik, tetapi juga pemimpin yang mampu memahami dan menjawab tantangan riil di lapangan,” ujar Handyanto Widjojo.
Pengakuan ini juga datang di tengah kompetisi global yang ketat. Pada 2026, penghargaan diberikan kepada 27 individu dan institusi dari 16 negara. Para penerima dinilai mampu menunjukkan kepemimpinan, inovasi, serta kontribusi nyata dalam menjawab berbagai isu, mulai dari ekonomi hingga keberlanjutan.
Presiden dan CEO AACSB, Lily Bi, menyebut inisiatif seperti COMDEV sebagai contoh bagaimana pendidikan bisnis dapat berperan lebih luas. Tidak hanya mencetak profesional, tetapi juga mendorong perubahan sosial yang inklusif.
Di Indonesia, pendekatan semacam ini menjadi semakin relevan. Ketika kesenjangan antara wilayah masih terasa, program berbasis kolaborasi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan di lapangan.
Lebih jauh, keberhasilan ini memberi pesan bahwa solusi atas persoalan besar tidak selalu harus datang dari kebijakan skala nasional. Intervensi yang terukur, berbasis komunitas, dan dilakukan secara konsisten juga mampu menghasilkan dampak signifikan. Ketika pendidikan, masyarakat, dan dunia usaha saling terhubung, perubahan tidak hanya menjadi wacana, tetapi bisa benar-benar dirasakan.
Penghargaan ini mungkin menjadi titik penting, namun bukan akhir dari perjalanan. Tantangan ke depan tetap besar. Namun, pengalaman ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, pendidikan dapat menjadi kekuatan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memberdayakan.