Eco-Anxiety di Kalangan Gen Z Meningkat, Ancaman atau Justru Pemicu Aksi Lingkungan?

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 21 April 2026 | 14:15 WIB
Eco-Anxiety di Kalangan Gen Z Meningkat, Ancaman atau Justru Pemicu Aksi Lingkungan?
Aktivis lingkungan melakukan aksi di Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (27/9/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Krisis iklim yang semakin meluas tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan mental, khususnya di kalangan generasi muda.

Istilah anxiety kini kerap dikaitkan dengan meningkatnya kecemasan terhadap masa depan bumi, yang banyak dialami oleh Generasi Z.

Gen Z dan Kecemasan Terhadap Iklim

Dalam riset bertajuk “Eco-Anxiety pada Gen Z dan implikasinya pada Kesehatan Mental”, eco-anxiety dijelaskan sebagai respons emosional kronis yang dipicu oleh perubahan iklim.

Kondisi ini muncul seiring meningkatnya paparan informasi terkait krisis lingkungan, terutama melalui media digital yang lekat dengan kehidupan Gen Z.

Fenomena ini juga diperkuat oleh survei global yang melibatkan 10.000 anak muda berusia 16 hingga 25 tahun di 10 negara.

Sejumlah peserta membawa poster saat aksi krisis iklim di depan Kantor KPU, Jakarta, Jumat (3/11/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]
Sejumlah peserta membawa poster saat aksi krisis iklim di depan Kantor KPU, Jakarta, Jumat (3/11/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]

Hasilnya menunjukkan hampir 60 persen responden mengaku sangat khawatir terhadap kondisi lingkungan. Temuan tersebut menandakan bahwa kecemasan terhadap krisis iklim telah menjadi isu yang signifikan di kalangan generasi muda.

Meski demikian, sejumlah kajian menyebut bahwa eco-anxiety tidak selalu berdampak negatif. Dalam beberapa kasus, kecemasan ini justru dapat mendorong kesadaran dan keterlibatan individu dalam aksi-aksi lingkungan.

Dengan demikian, eco-anxiety tidak hanya menjadi cerminan kekhawatiran generasi muda, tetapi juga dapat menjadi titik awal bagi perubahan perilaku menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan.

baca juga

Ada beberapa faktor yang memicu munculnya eco anxiety. Salah satunya adalah paparan informasi yang berlebihan. Saat ini, banyak anak muda menghabiskan waktu di sosial media. Berdasarkan survei Jakpat, sekitar 63 persen responden menyatakan bahwa mereka menggunakan waktu luang untuk scrolling sosial media. 

Paparan informasi yang terus-menerus tentang kerusakan lingkungan, bencana alam, dan krisis iklim dapat memperkuat rasa cemas tersebut. 

Selain itu, rasa bersalah juga menjadi faktor penting. Banyak gen Z merasa bahwa aktivitas manusia, termasuk diri mereka sendiri turut berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Perasaan ini kemudian berkembang menjadi beban emosional karena mereka merasa ikut bertanggung jawab atas kondisi bumi saat ini. 

Di sisi lain, pengalaman langsung terhadap bencana alam juga memicu munculnya eco anxiety. Individu yang pernah mengalami peristiwa-peristiwa, seperti banjir, tanah longsor, atau kebakaran hutan dapat mengalami trauma yang memperkuat kecemasan terhadap perubahan iklim dan masa depan lingkungan. 

Mengubah Rasa Takut Menjadi Kekuatan

Menariknya, eco anxiety tidak selalu berdampak negatif. Banyak gen z yang akhirnya mengubah kecemasan tersebut menjadi dorongan untuk bertindak lebih peduli terhadap lingkungan. Berdasarkan data Alfred 24, ada sebanyak 82 persen gen Z menyatakan keprihatinan terhadap kondisi bumi dan 72 persen di antaranya telah mengubah perilaku mereka menjadi lebih ramah lingkungan. 

Perubahan ini terlihat dari banyaknya anak muda saat ini yang aktif menggunakan sosial media mereka sebagai sarana untuk menyuarakan isu lingkungan, mengajak orang-orang untuk lebih peduli terhadap bumi, serta menyebarkan gaya hidup berkelanjutan yang mereka jalani. 

Tindakan-tindakan kecil tersebut menunjukkan bahwa eco anxiety tidak hanya membawa dampak negatif , tetapi juga dapat menjadi pemicu perubahan positif.

Namun, jika kecemasan sudah terasa berlebihan dan mengganggu aktivitas sehari-hari, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog serta melakukan digital detox agar kondisi mental tetap terjaga. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jadi Perempuan di Era Gen Z: Melanjutkan Mimpi Kartini dengan Cara Kita

Jadi Perempuan di Era Gen Z: Melanjutkan Mimpi Kartini dengan Cara Kita

Your Say | Selasa, 21 April 2026 | 13:00 WIB

Dari Surat Kartini ke Story Instagram: Cara Gen Z Menyuarakan Emansipasi

Dari Surat Kartini ke Story Instagram: Cara Gen Z Menyuarakan Emansipasi

Your Say | Selasa, 21 April 2026 | 11:20 WIB

Di Balik Surat Kartini: Jeritan Kesehatan Mental dalam 'Penjara' Adat

Di Balik Surat Kartini: Jeritan Kesehatan Mental dalam 'Penjara' Adat

Your Say | Selasa, 21 April 2026 | 10:12 WIB

Terkini

Apa Itu Beras Fortifikasi? Ini Beda Kandungannya dengan Beras Biasa

Apa Itu Beras Fortifikasi? Ini Beda Kandungannya dengan Beras Biasa

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 10:55 WIB

Arab Saudi Panas, Jenderal Turki al-Maliki Janji Balas Dendam Serangan Rudal Houthi Yaman

Arab Saudi Panas, Jenderal Turki al-Maliki Janji Balas Dendam Serangan Rudal Houthi Yaman

News | Rabu, 16 September 2026 | 10:50 WIB

Weton Ketemu 24 Artinya Apa Menurut Primbon Jawa? Ini Maknanya dalam Hubungan

Weton Ketemu 24 Artinya Apa Menurut Primbon Jawa? Ini Maknanya dalam Hubungan

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 10:50 WIB

5 Bedak Tabur Wardah untuk Makeup Natural dari yang Termurah hingga Premium

5 Bedak Tabur Wardah untuk Makeup Natural dari yang Termurah hingga Premium

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 10:45 WIB

Modus Licik Ban Serep Terbongkar! Sabu 5,4 Kg Jaringan JakartaLombok Disergap di Surabaya

Modus Licik Ban Serep Terbongkar! Sabu 5,4 Kg Jaringan JakartaLombok Disergap di Surabaya

Jatim | Rabu, 16 September 2026 | 10:42 WIB

Hwang Minhyun Diincar Gantikan Lee Jong Suk dalam Drama Iseop's Romance

Hwang Minhyun Diincar Gantikan Lee Jong Suk dalam Drama Iseop's Romance

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 10:39 WIB

Berkaca dari Konten Maudy Ayunda, Mengapa Stoikisme Sangat Relevan Menjaga Kewarasan?

Berkaca dari Konten Maudy Ayunda, Mengapa Stoikisme Sangat Relevan Menjaga Kewarasan?

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 10:37 WIB

WN China Berburu dan Makan Penyu di Raja Ampat, Kemenpar Minta Pihak yang Fasilitasi Ikut Diusut

WN China Berburu dan Makan Penyu di Raja Ampat, Kemenpar Minta Pihak yang Fasilitasi Ikut Diusut

News | Rabu, 16 September 2026 | 10:35 WIB

Rupiah Terperosok ke Level Rp17.700-an Usai Ganti Menkeu, Ini Penyebab Utamanya

Rupiah Terperosok ke Level Rp17.700-an Usai Ganti Menkeu, Ini Penyebab Utamanya

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 10:32 WIB

DPR Amerika Serikat Tolak Usulan Pemakzulan Donald Trump, Kenapa?

DPR Amerika Serikat Tolak Usulan Pemakzulan Donald Trump, Kenapa?

News | Rabu, 16 September 2026 | 10:31 WIB

×